Jumat, 09 Juli 2010

NANDA yang RINDU ................. I LOVE YOU, DAD.

"Aku sudah mengucapkan selamat malam dan sudah seharusnya aku pergi ke kamar, tapi aku tidak bisa beranjak darimu. Ingin mencium keningmu tapi aku takut dikau terbangun dan tahu, aku pulang larut lagi. Mungkin aku butuh beberapa menit lagi di sampingmu. Aku ingin di sampingmu Dad..." Lirih suara gadis yang rindu.

"Terlalu banyak kerutan di dahimu, terlalu banyak yang dikau pikirkan. Ini pertama kalinya aku melihatmu, memandangmu, menatapmu hanya beberapa cm, setelah dua tahun kita tak sedekat ini. Aku hanya ingin dikau menikmati masa tua mu dengan lagu classic yang dikau sukai tanpa harus memikirkan biaya kuliah ku. Karena aku bisa di luar sana. Aku ingin kau percaya." Desis gadis itu.

"Kau hanya tahu aku yang susah diatur dan keras kepala yang tidak mungkin menurut hal-hal yang dikau inginkan. Aku sadar, aku bukan gadis kecilmu yang menunggumu lagi sepulang kau kerja dan meraih tanganmu untuk ku cium. Tapi setelah ku dewasa dan pulang larut, kau masih setia menungguku." Bisik Nanda.

"Ingat, di mana saat kau memarahiku karena aku terlalu banyak makan ice cream, kau terlalu mengkhawatirkanku, Dad. Dan sekarang, aku tidak tahu bagaimana caranya memberitahumu, aku memiliki tato di punggung." Sekali lagi Nanda bertanya-tanya.

But did you know, now every move I make is for you, just for you, Dad...

Kamis, 06 Mei 2010

DID YOU EVER FALL IN LOVE? HORRIBLE ISN'T IT? Apakah Anda pernah jatuh cinta? Mengerikan bukan?

PART IV
After everything that's happened - or hasn't happened - I wanna make it special.
Setelah semua yang terjadi - atau belum terjadi - Aku ingin membuatnya istimewa.


“Ddrrrttt drrtt….. Because of you ………Drrttt ddtrtt………………” Getaran disertai suara merdu Keith Martin. Nada dering handphone Kea yang menandakan pesan masuk.

“Dear Kea,
Aku akan segera sampai di tempatmu dalam dua puluh menit.”

…Fabian…

“Okay, bukan surprise lagi kalau seorang Fabian tahu segalanya tentang ku, tidak terkecuali no handphone ku.” Celoteh Kea.

Kea menepati janji, sebagai gadis yang berkencan dengan lelaki bernama Fabian. Tidak banyak bicara namun sangat terlihat bahwa perasaan gugup dan gelisah menghantui batin Kea. Bayangkan saja Kea harus pergi dengan orang asing yang tahu segala tentangnya, tapi Kea tak tahu apa-apa tentang lelaki itu.

Tapi selalu ada Nanny yang menjadi malaikat penolong Kea. Nanny bertugas banyak untuk malam ini, selain biasa menata rambut gadis mungilnya. Perempuan berkulit putih setengah baya yang sedikit gemuk itu, juga turut merekomendasikan beberapa gaun dan sepatu.

Setelah beberapa lama memilah-milih, akhirnya jatuh pilihan pada one shoulder long dress berwarna abu-abu, dengan detil pita besar di bagian bahu sebelah kiri dan belahan di bagian depan bawah hingga selutut. Sepatunya pun senada, namun dimeriahi glitter berkilauan. Rambutnya ala ponytail dan disematkan aksesoris kecil berbentuk kupu-kupu bermatakan swarovski.

Teeeeeeeettt …… Suara klakson mobil terdengar di halaman rumah Kea. Fabian persis berada di depan rumah Kea dua puluh menit sejak pesan darinya di baca Kea.

Saat Fabian keluar dari mobilnya, Kea juga muncul dari balik pintu utama rumahnya.

“Aku pikir tak perlu masuk ke dalam untuk ijin dengan Ayahanda dan Bunda, mereka tak ada di rumah. Lagipula kamu pasti lebih pintar karena sudah meminta ijin mereka sebelumnya, iya kan?!” Kata Kea cepat dan sedikit menghakimi.

“So Lovely.” Pujian terlontar dari mulut Fabian seraya tak hentinya memandangi wajah cantik Kea. Fabian baru saja mengacuhkan ucapan Kea soal ijin Ayanhanda dan Bunda. Kea hanya bisa memasang wajah masamnya.

Tapi jangan meragukan cara berpakaian Fabian, dia juga begitu mempesona untuk acara malam berdua Kea. Label setelan jas yang dikenakan Fabian sedikit jelas menandakan kepribadiannya, tentu saja kelas sosialnya juga.

“Thanks.” Kea menjawab pujian Fabian.
“Where we will going?” Tanya Kea.

“Bukan ke Nestled tinggi di Himalaya Barat, yang terkenal dengan padang bunga alpine endemik dan keindahan alam yang luar biasa. Valley of Flowers, India. Aku berharap kita ke sana bersama suatu saat nanti. Akan ku bawa kau di masa depanku.” Ucap Fabian.
“Tapi tidak malam ini.” Tambahnya.

“Berusahalah.” Sahut Kea tersenyum sinis.

Fabian membukakan pintu mobil untuk Kea. Dia menyetir mobil itu sendiri tanpa seorang supir. Sebelum itu, Fabian telah menutup mata Kea dengan selendang. Ya, tentu saja disertai banyak pertanyaan dari Kea yang tidak bisa menerima apa-apa dengan mentah. Tapi hal itu bukan kendala berarti karena pada akhirnya Kea menurut saja demi menepati janji. Ketakutan Kea hanyalah dia tak mau dibilang melanggar janji. Entah apa yang direncanakan lelaki tampan itu pada Kea.

Tiba di sebuah ruangan…

“I can’t see anything. What we will doing here?” Kata Kea terhadap Fabian yang tidak terlihat di mana posisinya. Kea berdiri di sebuah ruangan gelap gulita. Selendang penutup mata Kea sudah dilepaskannya, namun Kea masih harus beradaptasi lagi dengan kegelapan.

“Kau dapat memanfatkan lilin dan sedikit cahaya dari api yang tepat berada di depanmu, cahayanya yang akan menunjukkan ke mana kau harus melangkah !” Perintah Fabian terdengar samar.

Kea mencoba meraba dengan tangannya. Dinyalakannya tiga batang lilin yang di tempatkan pada cawan cantik berbentuk angsa yang terbuat dari tembaga. Lilin putih nan tinggi dan ramping. Berjalan Kea menyusuri sebuah lorong. Ohh … tidak bukan sebuah, tapi lorong panjang. Lorong demi lorong. Kea seketika menghentikan langkahnya, saat tampak sebuah pintu besar dengan ukiran cantik berasal dari Eropa, mungkin Italia.

“O… My God, ini melelahkan bukan.” Gerutu Kea seraya membuka pintu besar tadi.

Tiba-tiba angin berhembus dari arah atas sehingga memadamkan api pada lilin di genggaman Kea. Tapi ruangan itu tidak segelap sebelumnya.

“Ugh………” Desis Kea. Cahaya lampu sorot menyilaukan matanya. Cahaya itu menerangi dirinya di remangnya ruangan.

Tidak hanya Kea, tapi juga Fabian yang nampak duduk manis di depan sebuah piano hitam yang jaraknya cukup jauh dari posisi Kea berdiri. Kea menghampiri Fabian, langkahnya dibantu dengan cahaya lampu sorot yang setia mengikutinya. Saat Kea melangkahkan kaki di medan yang sedikit menurun, suara piano permainan Fabian berdenting. “Don’t sleep away, Daniel Sahuleka”.

“Tomorrow's near, never I felt this way
Tomorrow, how empty it'll be that day
It tastes a bitter, obvious to tears that I hide
To know that you're my only light
I love you, oh I need you
Oh, yes I do

Don't sleep away this night my baby
Please stay with me at least 'till dawn
It hurts to know another hour has gone by
And every minute is worthwhile
Oh, I love you

How many lonely days are there waiting for me
How many seasons will flow over me
'Till the emotions make my tears run dry
At the moments I should cry
For I love you, oh I need you
Oh, yes I do”

Kea menaiki beberapa anak tangga ke sebuah panggung. Sesampainya di atas, Kea baru menyadari bahwa dia baru saja melewati bangku-bangku penonton. Mereka sedang berada di sebuah ruangan megah, tepatnya di panggung seperti concert hall.

Fabian mulai berdiri dan menghentikan permainan pianonya. Menghampiri Kea yang terpukau heran. Kea masih memandangi sekeliling, nampak patung-patung perempuan dengan berbagai pose, memegang berbagai macam alat musim. Nampak juga lukisan Mozart di sana. Sangat anggun, semuanya berwarna keemasan.

“Mencintailah bagaikan tak pernah disakiti, menarilah bagaikan tak seorangpun menonton. Pegang tanganku, menarilah denganku !” Kata Fabian berbisik lembut seraya menyentuh tangan gadis cantik itu.

“Hhm, No, I cann’t. Kamu melihat bahwa aku kesulitan” Ucap Kea.

“Berikan waktu untuk hatimu, rebut detikmu, bangkitkan setiap menit dalam dirimu. Menangkan dan Biarkan kau mengguncang duniamu.” Rayu Fabian kepada Kea.

“No music, dan aku sudah tak punya harapan untuk itu.” Jawab Kea sekenanya.

“Harapan itu seperti jalan di dalam hutan. Di sana tak pernah ada jalan. Tapi jika banyak orang menjalaninya, jalan itu menjadi ada.” Ucap Fabian.

“Hmm.” Gumam Kea.
Fabian dengan sigap mengklik sebuah lagu dari IPhone 3GS miliknya dan meletakkannya di atas piano tadi. “Halo, Beyonce” berkumandang dalam ruangan megah yang hanya diisi mereka berdua.

Saat lagu dimulai, Kea tampak masih canggung. Namun sanyum Fabian seketika membuat Kea yakin dan percaya.

Gerakan awal, perlahan demi perlahan. Kea berputar lalu mengangkat tumitnya.

“Woww…” Desisnya seraya mengangkat tumit, berputar mengalun, sesekali mengibaskan gaunnya yang ringan. Kea mengulangi gerakan itu sekali lagi sekaligus meyakinkan diri bahwa dia telah kembali dapat menari.

Diraihnya Tangan Fabian dan menarilah mereka bersama, berdua lebih tepatnya. Diangkat tubuh mungil Kea dari belakang, di genggam pinggang Kea oleh kedua tangan Fabian. Tidak melenceng dengan ritme lagu, tarian mereka begitu memukau. Dilanjutkan dengan mengangkat Kea semakin tinggi. Saat kaki kiri Kea menekuk di bagian belakang ke arah kanan bak angsa seraya mengayun kedua tangan, dengan sedikit mendorong Fabian melempar tubuh mungil itu. Lalu ditangkap dengan posisi telentang oleh kedua tangan Fabian. Nafas mereka bersatu. Tidak hanya itu, tubuh Kea diputar mengelilingi tubuh Fabian. Hingga sampai posisi Kea dan Fabian kembali tegak dan berhadapan. Sebuah koreografi terlahir dari sebuah ritme dan melodi yang mengalun.

“Aku akan bodoh untuk percaya, tapi hanya satu malam tidak bisa begitu salah, bukan ?! Kau membuatku mau kehilangan kendali.” bisikan Kea pada Fabian terengah-engah.

“This is my job.” Jawab Fabian.
“Hahahaha.” Kea sumringah.
“Emm... Hmm...” Fabian pun tersenyum.

“Karena bertentangan dengan apa yang aku katakan sebelumnya mungkin, kamu adalah orang yang baik, sejak malam ini, telah menjalani hidup mu dengan hati-hati dan belas kasihan dan menghormati diri sendiri dan orang lain. Dan yang paling penting adalah meyakinkanku menari bahkan di panggung yang sesungguhnya, ya, sekalipun tidak ada penonton.” Tutur Kea begitu lembut.
“But... jangan mentang-mentang.” Tambah Kea.

Fabian tak lantas berkata-kata mendengar ucapan Kea yang memujinya. Wajahnya hanya terlihat memerah. Perlahan Fabian meraih tangan Kea. Kemudian menunduk seraya terlihat seperti memikirkan sesuatu. Kea hanya memasang wajah bingungnya. Selang beberapa menit, Fabian mengangkat wajahnya perlahan, lalu sebelum hendak berkata sesuatu Kea segera memotong pembicaraan.

“Apa kau punya sesuatu yang lain ?” Tanya Kea.
“Di kencan kita ini !!” Kea menegaskan ucapannya.
“Shshhsh...” Fabian secepat kilat mengarahkan jari telunjuknya ke bibir Kea. Fabian hendak mencoba mengarahkan bibirnya ke bibir Kea, keliatannya. Mungkin hanya berjarak dua cm lagi, tapi itu tidak terjadi, karena Fabian mengurungkan niatnya itu. Laki-laki itu akhirnya hanya mengecup pipi kiri Kea dengan mesra.

“Aku lapar, di mana makan malam kita ?” Ucap Kea mengakhiri.


Pukul 23.13...

“Nann, What are you doing ? Sleep on the couch?” tanya Kea kepada Nanny saat tiba di rumah.
“Of course waiting for you.” Sahut Nanny seraya mengucek kedua matanya dan menyadarkan dirinya karena dikejutkan oleh suara Kea.
“Oh.. Oke, aku ke kamar ya.” Ucap Kea. Lalu menaiki anak tangga ke lantai dua.
“Butuh sesuatu Non ?” Tanya Nanny.
“Maybe, hot water in the bathtub. Thanks.” Jawab Kea bergegas naik.

Tok … tok … tok … suara pintu kamar Kea.

“Iyaa...”
“Nanny.. belum tidur?” Ucap Kea terkejut melihat Nanny muncul di kamarnya tengah malam.
“Tentu saja belum, sebelum melihat lampu kamarmu redup.” Balas Nanny. Kemudian dihampirinya gadis mungil yang selalu dia sayang-sayang itu.
“Chamomile Tea, mengantarkanmu agar cepat terlelap.” Ucap Nanny seraya memberikan cangkir teh itu ke Kea.
“Thanks Nann.” Lalu Kea menyeruput teh itu perlahan.

“Ada apa Mrs. Kea?” Lirik Nanny ingin tau.
“Dia mencium ku …” Kata Kea. Sementara Nanny terlihat mengerutkan dahi.
“Hmm... Di pipi Nann.” Tambah Kea.
“Oke, have a nice dream baby.” Nanny menarik selimut dan membalutkannya ke tubuh Kea. Dan tak lupa memadamkan lampu kamar Kea.

Langkah kaki Nanny tedengar semakin menjauh dari kamar Kea. Tapi Kea tak lantas langsung tertidur. Kea seperti memikirkan sesuatu. Tak hanya itu, Kea sesekali membalikkan tubuh ke kanan, kemudian ke kiri di tempat tidurnya. Kea terlihat gugup dan gelisah.



...TO BE CONTINUE


Cerita Pendek Karya
CHAIRUNISA ZULFAQAR :)

Kamis, 01 April 2010

APAKAH AKU MENEMUKANMU, ATAU APAKAH AKU MENEMUKAN DUNIAKU ?!

Apakah aku menemukan mu, atau aku menemukan duniaku.

Seorang grandma berbaring di atas ranjangnya yang menawan. Rambut yang telah putih nan panjang dibiarkannya tergerai. Piyama merah dikenakannya di malam sunyi itu. Di temani suara hujan yang tidak deras, tapi juga bukan gerimis pelan, berbunyi, mengalun merdu seperti lagu. Di dalam hujan, ada lagu yang hanya bisa didengar oleh mereka yang rindu. Grandma Claudia namanya. Perempuan yang memiliki mata indah ini merindukan seseorang. Dalam lamunan dan rasa bosannya menghabiskan malam, dia bercerita.

Di sebuah pesta perpisahan sekolah menengah. Pesta yang sungguh megah itu diselenggarakan di sebuah hotel berbintang lima. Claudia yang genap berusia delapan belas tahun begitu tergila-gila akan malam itu. Pesta yang penuh gemerlap.

Claudia menjauhi sekelompok teman-teman yang bersamanya. “Bloody Mary, please!” pesannya kepada salah satu bartender yang bertugas. Selang beberapa menit cocktail pesanannya selesai. Claudia bergegas meninggalkan Bar. Belum sempat membalikkan tubuhnya, Claudia menyadari dirinya bertabrakan dengan seseorang. Seseorang itu dengan lemah lembut meminta maaf, karena selain menabrak Claudia dia juga mengotori gaun yang dikenakan gadis manis itu.
“Maaf.” katanya pelan tetapi tegas.
“It’s oke.” jawab Claudia.

Ternyata kejadian tersebut menjadi awal perbincangan mereka. Kedekatan mereka kini dimulai. Bahkan ini terlalu sore untuk membicarakan hal yang selanjutnya terjadi antara keduanya.

Sambil menikmati wine, Claudia dan lelaki yang bernama Czar berjalan ke arah teras aula, masih di tempat pesta berlangsung. Namun di tempat ini jauh lebih terasa romantis dan jauh dari keramaian. Angin malam terasa meliuk-liuk menyentuh kulit.
“Pakai ini.” Czar mengawali adegan romantis ini, dengan melapisi jasnya di tubuh Claudia.
“Aku tak pernah melihatmu.” kata Claudia.
“Memang, aku empat tahun di atas mu.” ucap Czar.
“Oh…”
“Kau sangat menarik. Apa kau memakai sesuatu untuk menarikku?! Seperti Magnet.” kata-kata Czar yang sedikit menggoda.
“Aku mendengar itu seperti gombalan.” Claudia menyahut, tersenyum simpul indah sekali.
Lantas… Haahaahaa, tawa keduanya menggelegar. Pandangan mereka tak beralih satu sama lain sedikitpun. Seolah tak mempedulikan orang lain di sekitar.

“Aku ingin kita membuat malam ini terasa panjang.” ucap Czar seraya menarik kedua tangan Claudia.

Entah apa yang ada dipikiran mereka. Keduanya terlihat seperti orang yang jatuh cinta. Percayalah, pepatah cinta pada pandangan pertama seperti menyerang mereka. Tak henti memandang, bergandengan tangan, tertawa kecil, setengah berlarian, mereka menyusuri lorong hotel yang sepi.
“Hello, semua orang sedang berpesta.” teriak Czar.
“Haahaa…..” tawa kecil Claudia terdengar menyusul.

Terengah-engah, mereka terlihat seperti pasangan muda yang sedang dikejar-kejar. Memanfaatkan beberapa tempat untuk bercumbu. Sunnguh terlihat ceroboh.

“Shshshsh….” bisik Czar seraya melepaskan bibirnya dari bibir Claudia. Czar juga mendorong sedikit tubuh Claudia ke arah lorong kecil seperti sedang bersembunyi. Berputar lalu saling berpelukan.
“Kau terlihat serius wahai pangeran. Hahaha.” gurau Claudia dalam persembunyian.
“Diamlah atau aku akan menahan sesuatu di sini.” ucap Czar seraya meletakkan jari telunjuk di bibir Claudia.
Mereka bersembunyi agar kehadiran mereka tak diketahui housekeeping yang baru saja keluar dari salah satu kamar hotel.

“Seperti orang bodoh mengelilingi sepanjang lorong dengan bercumbu dan berpelukan, jika tanpamu.” kata Claudia tersenyum.
“Terima kasih untuk malam ini permaisuri cantik.” ucap Czar yang mengantarkan Claudia tepat di pintu kamar.
“It’s wonderful baby, maukah kau bersulang untuk mengakhiri ini.” ajak Claudia pada Czar ke dalam kamarnya.
“Pagi nyaris tiba sayang. Kamu harus pergi tidur.” kata Czar yang tak hentinya memeluk erat pinggang dan mencium pipi Claudia.
“Okay, Night.” ucap Claudia.
“Aku hanya tak ingin sesuatu yang buruk datang. Seperti menodaimu.”
“Night.” Czar mengakhiri malam yang panjang itu.



Pagi yang indah, mengangkat lapisan kabut waktu malam. Dari balik puncak gunung, matahari mulai terbit, kemudian nampak. Kehidupan inilah yang mengandung cinta dan keinginan. Seperti ombak beralun satu demi satu. Kadangkala baru, kadangkala biasa.

Dua hari setelah malam indah itu, Claudia tak pernah melihat Czar lagi. Czar tak menampakkan keberadaannya. Seharusnya ini hari terakhir Claudia di hotel ini. Tapi dia memutuskan untuk tidak pulang bersama rombongan. Dia mencoba tinggal beberapa hari lagi. Mungkin seperti menunggu kepastian akan satu hal.

Pertemuan dan perpisahan dari suatu perasaan. Claudia juga tak menemukan sosok yang dinanti olehnya.
“Apa itu keinginan ? Atau apa itu desakan ?” Claudia bertanya dalam hatinya.

Stasiun…
“Claudiaaaaaaaaaaaaaaaaa….” Suara yang sangat dirindukan. Seseorang memanggil Claudia. Gadis itu menoleh dan mencari-cari dari mana asal suara itu. Dilihatnya Czar berdiri tepat saat dia berbalik.

“Aku mencintaimu…” ucap Czar. Kemudian memeluk Claudia.
“Apa kau kembali untuk menjemputku ?” tanya Claudia pada Czar.
“Maafkan aku.” kata Czar yang memeluk Claudia semakin erat.
“Untuk apa ?” sahut Claudia yang kesulitan berbicara karena eratnya pelukan sang kekasih hati.

Jangan pernah berpisah tanpa ungkapan kasih sayang untuk dikenang. Mungkin saja perpisahan itu ternyata untuk selamanya.

“Aku hanya tak ingin berpisah tanpa bilang betapa aku sangat bahagia denganmu. Betapa aku sadar aku sangat, sangat mencintaimu.” kata Czar.
“Iya, aku dengar, aku juga mencintaimu.” jawab Claudia.
“Se..benar…nya.” Czar terbata.
“Apa ?” tanya Claudia.
“Maafkan aku, sebenarnya malam saat kita bersama adalah malam terakhir ku sebagai lajang. Karena tepat esok paginya aku menikah di hotel yang sama.” Perasaan bersalah menggerogoti Czar.
“Ja..di..” Claudia terdiam dan melepaskan pelukan Czar.

Seperti batu karang yang tidak putus-putusnya dihantam ombak. Dia tidak hanya berdiri kukuh, bahkan dia menentramkan amarah dalam ombak dan gelombang itu.
“Seandainya masih ada harapan untukku dapat memilikimu, aku rela menggantungkan segalanya seluruh hidupku pada harapan itu.” kata Claudia.

Kata-kata manis itu sungguh membuat penyesalan yang amat sangat mendalam di hati Czar. Perempuan yang dicintainya benar-benar luar biasa menyita pikirannya. Claudia memberikan senyuman terakhirnya untuk Czar. Mengikatkan syalnya ke leher Czar.

“Aku ingin kita berjalan ke arah tujuan masing-masing tanpa menoleh.” kata Claudia.
Lalu keduanya tanpa kata, tanpa aba-aba berjalan memulai perpisahan. Claudia melewati Czar yang masih berdiri, lalu berjalan lurus ke depan. Demikian dengan Czar.
Tanpa Czar sadari Claudia menoleh ke arahnya. Namun saat Claudia mulai melangkah memasuki salah satu gerbong kereta yang ditumpanginya, Czar pun menoleh. Lelaki itu menyadari satu anting Claudia tersangkut dalam syal yang dikalungkan di lehernya itu. Sempat dalam benak Czar utuk mengejar Claudia sekali lagi. Tapi semuanya terlambat. Kereta melaju dengan segera.

Dalam perjalanan menumpangi kereta, airmata tak henti mengalir deras, berderai di mata indah Claudia. Perjalanan seindah mimpi ini terhenti hanya dalam seketika dan setelah itu Claudia ke mana, Czar ke mana. Inilah perjalanan cinta yang singkat kemudian terbangun dengan kenyataan pahit.

Bertahun-tahun berlalu. Lima puluh tahun tepatnya sejak pertemuan indah itu. Claudia sekarang hanyalah seorang grandma berusia enam puluh delapan tahun, janda selama empat tahun terakhir yang sudah lelah menapaki setiap jalan hidup. Namun tidak hari ini. Dia ingin ke masa lalu itu. Dia datang ke tempat yang begitu indah dalam benaknya.

“Mengapa hari ini angin bernyanyi. Mengapa seluruh suasana jenuh dengan warna. Katakan padaku, hatiku, Apa yang ditakdirkan untuk terjadi hari ini?” ucap Claudia.

Ingatannya menari-nari di kepala saat dia menjejaki kakinya di sebuah tempat. Tempat di mana dia berpisah dengan seseorang dalam ingatan. Seseorang yang berpuluh-puluh tahun tak pernah diingkarinya tentang cinta.

Stasiun kereta.

“Siapa yang kita sebut diri sendiri, dan siapa orang asing? Apa gilirannya cerita yang diambil, atau apa giliran cerita mu yang diambil? Ceritamu, ceritamu, cerita, cerita aku.” kata Claudia dalam hati.

Wewangian seperti mengapung di angin. Siapa yang tahu bahwa detak jantung Claudia yang mengatakan nama itu. Suara siapa yang Claudia dengar bahkan ketika dia tidak sedang mendengarkan. Langkah kaki seperti mendekatkan.

“Apakah itu dirimu, atau cahaya dalam perjalanan. Apakah itu wangi dirimu, atau bau yang ditebarkan oleh angin.” suara yang tak asing tiba-tiba menyapa telinga Claudia. Pelan dan terdengar rentan.
“Aku cahaya yang bersinar dari matamu. Aku rahasia yang tidak dapat kau sembunyikan. Aku disini” sahut Claudia.
“Mengapa aku harus menyimpan syal beserta bau harum dirimu. Apa yang bisa aku katakan? Aku diperintahkan untuk hidup, tapi tanpamu.” ucap Czar.
“Shshsh...” desis Claudia.

Kini keduanya berdiri tanpa jarak. Di usia senja akhirnya cinta mempersatukan keduanya. Czar dan Claudia. Czar tak henti memeluk dan mengecup kening Claudia. Lima puluh tahun berlalu, senyum Claudia tak dapat dilupakan Czar. Sosok seorang Claudia masih sama seperti dulu di mata Czar.

“Bagaimana bodoh mereka, yang mengatakan bahwa kamu adalah orang asing bagiku.”
“Tanpa bertanya, aku menerima begitu banyak jawaban.”
“Lihat apa yang aku inginkan, dan apa yang, pada gilirannya, aku terima.” ucap Claudia yang berdekapan erat dengan Czar.
“Aku bisa melihatnya di mata mu bahwa kamu jujur, bahwa aku tidak ingin lagi. Hal absourd, konsep konyol, seolah-olah ada cara apapun yang aku dapat tanpa perlu dirimu. Hanya dirimu yang lebih penting daripada yang aku inginkan.” ucap Czar.

Kehidupan telah membawa serta masalah hari lalu...
Kenangan yang tak ada bandingannya di sekitar kita sekarang...
Lima tahun setelah pernikahannya Czar bercerai dengan istrinya. Dia memilih tetap hidup menyendiri tanpa menikah lagi hingga tua seperti sekarang ini. Setiap tahun, tanggal di mana Czar berpisah dengan Claudia, dia dengan setia menanti kembali kehadiran Claudia. Penyesalan yang menghantuinya karena tak cukup berani mengejar cintanya untuk Claudia. Di kota ini mimpi, di jalan ini kenangan ….

Tapi sekarang Czar begitu bahagia mendapati di hari tua -nya bersama Claudia dalam satu ranjang.

THE END


Original Story From CHAIRUNISA ZULFAQAR :)

Rabu, 24 Maret 2010

DID YOU EVER FALL IN LOVE? HORRIBLE ISN'T IT? Apakah Anda pernah jatuh cinta? Mengerikan bukan?

PART III
When will it all be so wrong? This is not how it should be. I don't know who I am anymore, what should I do.
Kapan semuanya bisa jadi kacau? Ini bukan bagaimana seharusnya. Aku tidak tahu siapa aku lagi, apa yang seharusnya aku lakukan.


Empat tahun lalu…
Bina Bangsa School…

Keam (Kim) dan Ryan (Rayen). Sepasang sahabat, paling popular di sebuah sekolah swasta di kota besar. Cerdas dan berprestasi. Ryan belajar di jurusan Exact sedangkan Keam di kelas Bahasa.

Tapi bukan dalam hal itu, alasan Keam dan Ryan menjadi popular. Drama, tarian dan musik, ketiga hal itulah mengapa mereka begitu disegani. Tak hanya itu, Keam yang cantik dan pandai menari, menolak saat terpilih sebagai pimpinan cheerleaders. Padahal hampir semua siswi menginginkan hal itu. Tapi hanya ada satu orang yang menggantikan posisi Keam, yaitu Clara Dalila. Ya, Clara adalah rival terberat Keam, jabatan pemimpin Cheers di pegang olehnya. Ryan setali tiga uang, menolak atas keberhasilannya terpilih sebagai ketua tim basket. Kedua hal itu menjadi perbincangan hangat bagi siswa-siswi di BBS. Chemestry di antara keduanya sungguh membuat siapapun akan iri hati.

Tumbuh hanya berarti satu hal yaitu kemerdekaan. Keam dan Ryan berpikir kalau itu semua hanya menjadikan mereka sebagai boneka sekolah. Tanpa jabatan itu pun, mereka sangat popular walau itu juga bukan tujuan keduanya. Prestasi selama ini yang mereka torehkan adalah apa yang benar-benar disukai, yaitu drama dan tari, sedangkan musik berkaitan erat dengan dua hal itu. Di bidang akademis keduanya juga cukup hebat, kelebihan Ryan adalah mengikuti berbagai kompetisi kimia dan fisika. Sedangkan Keam adalah penulis skenario sebuah pentas drama. Dan setiap musim adalah naskah seorang Keam yang dipertunjukkan di BBS.

“Aku tidak akan lemah lagi. Kamu tidak dapat pergi. Kamu harus tinggal di sini dan mendengarnya kali ini. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu begitu banyak itu mengkonsumsi ku. Aku cinta kamu. Aku tahu kau mencintaiku juga. Katakan padaku kau mencintaiku dan semua yang kita lakukan, semua gosip dan kebohongan dan sakit hati pasti untuk sesuatu.” Salah satu dialog yang ditulis oleh Keam.

Waktu istirahat dimanfaatkan Keam dan Ryan untuk berlatih. Di sebuah bangku taman sekolah di bawah pohon rindang yang asri, seraya bersenda gurau.

Keesokkan harinya.
Pukul 08.00 pagi, sebelum kelas dimulai...

Keam dan Ryan berjalan menyusuri lorong sekolah yang dipadati siswa siswi BBS. Seraya merangkul pundak Keam, Ryan tiba-tiba berhenti. Tepat di mading sekolah, diliriknya sebuah kertas pengumuman. Hmm, siswa siswi yang memenuhi lorong sekolah langsung melirik ke arah Keam dan Ryan. Itu dikarenakan mading itu menginformasikan pengumuman tertulis bahwa peran utama dalam pentas drama sekolah diperoleh oleh mereka berdua. Keam dan Ryan.

“Horai, hore, ...” sorakan gembira keduanya, lalu berpelukan.
“Keam, kamu tidak akan pernah menjadi seperti cantik, langsing, atau bahagia seperti kamu sekarang. Aku ingin kau membuat sebagian besar dari itu.” Ucap Ryan sambil melepaskan pelukan dan matanya setengah melirik ke Clara yang tidak jauh berdiri dari mereka berdua.
“Mereka menatap kita iri, tapi itu bukan karena kamu, itu karena lelaki tampan ini.” Tambah Ryan setengah meledek.
“ Mm, hhem... It's really funny.” ketus Keam.
“Ha...haa..haa...” Ryan tertawa.


September, 2006.

Empat bulan sebelum pementasan drama Bina Bangsa School. Di sekolah mereka, akhir tahun ajaran jatuh bersamaan dengan akhir tahun. Pentas ini rencananya akan diselenggarakan pada musim dingin di awal bulan Januari.

“Hai...” Sapa Keam pada Ryan.
“Akhir-akhir ini kau sering sekali telat ?!” Tanya Keam.
“Hmm...Ayo kita latihan.” Ryan mengalihkan pembicaraan.

Clara, kebagian peran pendukung yang cukup penting. Setelah break dari latihan inti, Keam memandangi sahabatnya, Ryan, tengah asyik berbincang dengan Clara. Tapi itu tidak sedikitpun mengganggu pikiran Keam.

Kali ini latihan dimulai lagi, bagian tersulit dari drama karena Keam harus menggunakan high heels sembilan cm. Sesekali Ibu Martha, guru pembimbing berperawakan gemuk, berkacamata dan sedikit galak mengarahkan gerak tubuh pada Keam. Namun saat Keam baru saja hendak memakai high heels tersebut. Pleeeeeeeetaaaaaaaakkk. High heels sebelah kanan yang dikenakan patah, tapi bukan hanya itu, tentu saja kaki si pemakainya juga ikut cedera.

Keam menangis, tersedu, terisak-isak saat mendapati dirinya sudah berada di rumah sakit. Dengan memandangi kakinya yang tidak lagi indah, dia harus menghadapi nasibnya kehilangan peran penting dalam drama ketika Dokter berkata dia baru bisa kembali beraktifitas normal hingga empat bulan mendatang bahkan lebih karena kondisi cedera yang begitu parah.

Di sekolah, sudah barang tentu, cederanya Keam jadi bahan perbincangan hangat. Siswa-siswi menebak-nebak siapa yang bakal menggantikan Keam. Bahkan hari itu Bu Martha meminta Ryan segera mencari pemeran pengganti untuk Keam.

Sejak satu bulan mengalami cedera, Keam hanya menghabiskan waktu di rumah. Keam tak tahu sama sekali tentang perkembangan drama yang akan dipentaskan. Apalagi sosok yang menggantikannya. Tiba-tiba dia berkeinginan untuk meyaksikan latihan drama itu.

Terbata dalam melangkah dan ditemani tongkat, Keam memasuki ruangan drama di sekolahnya. Dilihatkan Ryan yang sedang serius latihan. Lalu Keam mencoba menyaksikan di bangku penonton paling belakang. Betapa terkejutnya bahwa Clara adalah pengganti dirinya, apalagi terdengar kabar sosok pengganti dirinya atas rekomendasi Ryan terhadap Bu Martha.

Seusai latihan drama berakhir, semua pemain dan anggota club drama yang menonton bersorak dan tepuk tangan. Tak terkecuali Keam, yang membuat terkejut orang-orang seisi ruangan yang mendengar suara tepuk tangannya dari arah belakang. Termasuk Ryan.

Di belakang panggung.

“Hai, Can I talk to you ?” Sapa lembut Keam kepada Ryan.
“Hei...” Ucap Ryan, terlihat wajahnya yang sedikit tidak bersemangat mengetahui kedatangan Keam.
“Karaktermu semakin kuat dalam peran.” Puji Keam.
“Hhmm, yeah.” Jawab Ryan singkat.
“Aku harus bicara denganmu !!” Ucap Ryan sedikit gugup.
“Bukankah kita sedang melakukan itu.” Potong Keam.
“Ini penting.” Kata Ryan.
“Kelihatannya begitu.” Ucap Keam.
“Aku dapat melihat rasa sakit di matamu, dan aku tahu betapa keras kamu mencoba. Kamu berhak memiliki lebih banyak. Aku dapat merasakan dan aku simpati. Dan aku takkan pernah mengkritik.” Perkataan Ryan panjang lebar.
“It's okay, kamu tidak ada waktu untuk menjenguk dan menghiburku, aku tak peduli.” Ucap Keam.
“Aku tak marah, aku tahu kamu sibuk dengan semua ini.” Tambah Keam.

Perbincangan semakin terdengar serius. Ryan tak bergerak dari tempatnya berdiri. Sedangkan Keam hanya membujur kaku, menahan kaki kanannya yang bersandar pada sebuah tongkat dan mendengarkan Ryan dengan seksama.

“Aku hanya tidak bisa hidup dalam kebohongan lagi, kamu tidak akan pernah tanya kenapa.” Ucap Ryan.
“Maksudnya?” Keam balik tanya.
“Aku dan Clara, tidak hanya berpasangan dalam peran. Aku mencintainya.” Ryan sesekali terbata.
“Hmm...”
“Aku hanya tidak habis pikir. Kamu tahu perempuan itu sangat licik terhadapku.” Keam terdengar sinis.
“Yeah, I know.”
“ Itu kenapa kita harus berjalan masing-masing.”
“Apa yang kau maksud ?” Celah Keam, seraya menarik tangan Ryan.
“Dengar, kita sudah tak bisa bersama sekalipun sebagai sahabat.” Ucap Ryan, perlahan melepaskan pegangan tangan Keam kepadanya.

Keam begitu terpukul. Dadanya seketika sesak menahan sakit. Nafasnya tidak beraturan. Matanya menahan agar airmata tidak jatuh. Berpikir dengan seksama, mencoba mengerti ucapan Ryan satu persatu. Bibirnya terkunci.

“Kehilanganmu tidak menyakitkan bagi ku, terlebih aku bersama perempuan yang ku cinta. Ini tidak akan menyakitimu juga, karena kamu dapat melupakan semua dengan segera.” Ryan memperjelas kata-katanya.
“Yup, Aku rasa begitu.” Ucap Ryan seraya mengelus rambut ikal sebahu Keam yang tergerai.
“Goodbye.” Tambahnya.

Ada kenyataan dan ada realitas, dan ada beberapa hal yang lebih nyata daripada yang lain. Tidak sulit untuk memiliki sesuatu. Atau semuanya. Kamu hanya harus tahu bahwa itu milikmu, dan kemudian bersedia melepaskannya.

“Aku tidak akan menahanmu. Aku hanya tidak ingin mengecewakanmu, kita akan berjalan masing-masing.” Ucap Keam yang terlihat tegar padahal sebenarnya sangat rapuh.
“Kamu berhak mendapat kesempatan pada cinta, aku tidak yakin aku pantas.” Ryan meyakinkan.
“Tidak ada yang tersisa untuk dikatakan. Tapi ada cara lain selain mengucapkan Goodbye.” Kata Ryan. Kemudian mengecup kening Keam.

November...
Lalu ada orang-orang lain, orang-orang yang menjalankan sejauh mereka dapat. Sehingga mereka tidak harus melihat mereka sendiri.

Waktu berlalu. Bahkan ketika tampaknya tidak mungkin. Bahkan ketika setiap kata, dari nadi di tangan sakit seperti denyut darah di belakang memar. Itu berlalu tidak merata, aneh dan menyeret ketenangan, tetapi tidak menyebarkannya. Bahkan bagi Keam. Dia tak pernah bisa melupakan kata-kata Ryan terhadapnya.

“Jadi mungkin ini adalah neraka. Aku tidak peduli. Aku akan mengambilnya.
Aku di sini dan mencintaimu. Aku selalu mencintaimu dan aku akan selalu cinta kamu. Aku sedang berpikir tentang kamu, melihat wajahmu dalam pikiranku, setiap detik yang kulewatkan.” Desis Keam.

“Hmm, mungkin ini benar-benar yang terakhir.” Ucap dalam Keam.

Setelah drama dipentaskan dan kelulusan diumumkan, Keam hanya menghabiskan waktu di rumah. Keam mencoba menghubungi Ryan untuk mengucapkan selamat atas keberhasilannya dalam pentas drama. Namun tak ada jawaban. Keam berusaha menghampiri Ryan ke rumahnya.. Tapi apa yang gadis itu dapat. Ryan sudah tidak tinggal di rumahnya lagi. Dia dan keluarganya pindah ke Paris, Perancis.

“Non.” Nanny menyentuh pundak dan membuyarkan lamunan Kea di sebuah kursi di kamar.
“Di zaman modern kita, ketika Anda menelepon seseorang dan tidak dapat menemukan nya, Anda dapat cukup yakin bahwa dia bisa mendapatkan pesan. Tapi jika dia tidak menelepon Anda kembali, biasanya itu berarti dia tidak ingin ditemukan.” Kata Kea.


...TO BE CONTINUE


Cerita Pendek Karya
CHAIRUNISA ZULFAQAR :)

Senin, 15 Maret 2010

DID YOU EVER FALL IN LOVE? HORRIBLE ISN'T IT? Apakah Anda pernah jatuh cinta? Mengerikan bukan?

PART II
Summer, kind of wonderful.
Musim panas, jenis keindahan.


Pukul delapan pagi, terlalu pagi untuk bangun, apalagi untuk melamun. Perkataan Fabian masih terekam jelas di telinga dan pikiran Kea. Jawaban Fabian atas pertanyaan Kea sontak saja membuat Kea terkejut. Siapapun tak mengetahui, Ayahanda dan Bunda Kea, bahkan Nanny orang terdekatnya pun tak tahu akan hal yang satu itu.

“Kamu siapa?” Tanya Kea terhadap Fabian.
Fabian tak langsung menjawab, padangannya jauh menerawang.
“Hmm, apa yang harus aku katakan, aku bukan pangeran berkuda putih yang datang mempersembahkan mawar putih kepada sang permaisuri dan mengajaknya menari di musim panas yang hangat. Tidak, semua itu tidak aku lakukan kepadamu.” Ucap Fabian.
“Itu mengapa aku hanya bisa bilang bahwa aku adalah Fabian.” Tambahnya.

Kata-kata itu berulang-ulang kali berputar di kepala Kea. Bahkan Kea acuh terhadap semua kegiatannya dengan hanya membuang waktu memikirkan hal itu selama satu minggu ini. Sudah begitu, Fabian tahu persis di mana letak rumah Kea saat mengantar Kea pulang dengan kondisi kaki Kea yang terluka, dan dengan cara menggendong Kea di punggungnya. Sesampainya di rumah, Nanny berkata “aduh Si Non malam mingguan sama pacarnya.” Sontak, Kea hanya bisa menaikkan alis.

Ayahanda dan Bunda juga tidak seperti biasa, yang selalu protektif terhadap siapapun lelaki yang bersama dengan anak gadisnya. Sampai di rumah dangan kondisi digendong Fabian, Bunda baru saja keluar dari mobil, “Lhoo, Kea? Kamu kenapa sampai gendongan begitu?” Tanya Bunda seraya menghampiri Kea dan Fabian.
“Ini nih Bunda, orang ini yang…”
“Kea, nggak baik menyebut pacar sendiri dengan sebutan orang ini.” Ucap Bunda.
Kea terperangah mendengar ucapan Bunda. Bunda tidak surprise dengan kehadiran Fabian, begitupun Nanny. Berbagai pikiran berkecamuk di kepala Kea dan dia hanya diam seribu bahasa.

“Ada yang aneh dalam hal ini.” Gerutu Kea.

Sabtu ini Kea berencana pergi ke Ballet’s Studio untuk berlatih tari. Selama Kea mandi, Nanny membantu merapikan dan menyiapkan apa-apa yang dibutuhkan Kea untuk berlatih.
“Nanny..” panggil Kea.
“Iya Non..” sahut Nanny.
“Nanny, aku sudah selesai mandi, aku ingin kamu menata rambutku seperti saat aku SMA dulu, okay!! Perintah Kea.
“Tidak seperti biasa Non, apa rencana Non Kea dengan hal ini.” Tanya Nanny penuh selidik.
“You know, sometimes aku sangat rindu dengan usia ku saat itu. Dan saat ini aku ingin menari dengan koreografi pertama yang ingin aku ciptakan setelah cedera itu.” Cerita Kea.
“Nanny selalu percaya bahwa Non Kea adalah gadis periang yang cantik dan optimis.” Ucap Nanny.
“Thanks Nanny.” Sahut Kea.

Sementara mereka asyik mengobrol, Nanny tetap berkonsentrasi menata rambut Kea di meja rias kamar Kea yang terletak di lantai dua rumah. Kamarnya tenang dan terbuka, berdinding merah muda, dan menghadap ke taman belakang rumah yang dihiasi kebun mawar putih yang dirawat Nanny. Nanny selalu meletakkan mawar putih di meja rias Kea, setiap pagi. Oiya, Rambut sewaktu SMA yang dimaksud Kea adalah ikal di bagian bawah dan sebahu.

“Nanny..” panggil Kea pelan.
“Hmm, iya Non…” sahut Nanny.
“Apa tanggapan mu tentang Fabian?” pertanyaan itu terlontar dari bibir lembut Kea.
“Apa Non Kea sedang meragukan lelaki tampan itu?” Celoteh Nanny.
“Haa…haa, tidak, apa pertanyaanku terdengar seperti gurauan Nann?”
“Tidak, tentu tidak, Nanny kagum karena Non Kea sangat pandai memilih lelaki seperti Nak Fabian, yang tidak hanya tampan, tapi juga cerdas dan bertanggung jawab.”
“Oo, My God, Nanny berkata Nak Fabian.”
“Aku tidak memilihnya!” Jawab Kea seadanya.
“Sudahlah Non, lagipula Bunda juga memberi sinyal baik terhadap Nak Fabian.” Tambah Nanny.
“Sungguh, aku hanya tidak mengerti apa yang sedang terjadi dalam hidupku, sungguh ini kenyataan atau aku sedang bermimpi Nann?” Ucap Kea.
“Ini kenyataan Darling.” Jawab Nanny.
“Tapi…” Sela Kea.
“Sudah, Non Kea nggak usah bingung, Nanny akan beritahu satu rahasia, tapi Non jangan marah ya?” Rayu Nanny.
Ayahanda, Bunda termasuk Nanny sudah tahu Non menjadi pacar Nak Fabian sejak satu bulan yang lalu.
“What? Tapi…” Kea malah menjadi semakin bingung.
“Iya, kalian backstreet kan?! Tapi Nak Fabian yang jantan itu datang ke sini meminta ijin untuk jadi pacarnya Non Kea kepada Ayahanda dan Bunda Non.

“Fabian curang, bagaimana bisa dia mencuri hati orang di rumah ini tanpa sepengetahuanku, tanpa kusadari.” Celoteh Kea pelan.

“Nggak usah bingung sayang.” Ucap Bunda yang tiba-tiba ikut nimbrung dengan obrolan Kea dan Nanny.
“Bunda…”
“Fabian memang sengaja merahasiakan semua ini dari kamu. Katanya sebagai hadiah untuk kamu. Makanya dia selalu ke sini pas kamu nggak ada. Jangan marah sama dia ya. Ini untuk kalian juga kan?” Ucap Bunda.

Kea mengerutkan kening. Lagi-lagi dia diam seribu bahasa. “Bunda pergi duluan ya sayang.” Ucap Bunda sambil mengelus pipi anak gadisnya dan meninggalkan Kea dan Nanny berdua kembali. Dan beberapa menit kemudian, laju mobil Bunda terdengar semakin jauh.

“Selesai.” Kata Nanny.
“Thanks Nanny.” Kata Kea sambil mengecup pipi kiri Nanny.
“Non..” panggil Nanny.
“Ya..” Kata Kea.
“Apa kau melupakan sesuatu?” Tanya Nanny.
“Hmmm, apa lagi?” Jawab Kea Keheranan.
“Ini.” Ucap Nanny sambil menunjukkan headband berbentuk pita berwarna pink di tangan kanannya.
“Ooo…Great Nann.” Teriak Kea.
“Thanks.” Kata Kea sambil mengecup pipi Nanny lagi, tapi kali ini yang sebelah kanan.

Kea siap pergi ke Ballet Studio. Dan sesuai keinginan untuk tampil selayaknya SMA. T-Shirt merah muda tanpa corak, rok jeans mini, dan tidak lupa tatanan rambut terbaru ditambah headband. Tidak lupa tas besar berisikan perlengkapan menari.


Pukul dua belas siang.
Kea sudah berada di Ballet’s Studio. Betapa terkejutnya Kea, dia melihat Fabian keluar dari salah satu ruangan tari. Fabian tidak menyadari keberadaan Kea. Posisi Kea setengah mengintip penuh selidik terhadap Fabian. Lalu Fabian mulai berjalan ke arah persembunyian Kea, Kea berbalik membelakangi Fabian agar tak diketahui Fabian, dan itu berhasil.

Berbagai pertanyaan berkecamuk di dalam benak Kea. Sampai-sampai dia tidak fokus dalam melangkah. “Ugh, dubraakkk, aww ...” keluh Kea. Dia menabrak pintu kaca, ruangan tari yang akan dibuatnya latihan. Tanpa menengok sekeliling Kea lantas masuk ke ruangan, lebih-lebih Kea takut ketahuan Fabian. “I’m so stupid, so so so so so so so so so stupid.” Gerutu Kea, tapi tentu saja sambil cengengesan mengingat tingkahnya itu. “he he he he …”

Di ruangan ballet.
“Kita membuat nasib kita sendiri, dan memanggil nasib mereka. Dan apa alasan yang lebih baik untuk memilih jalan daripada berkeras pada takdir kita itu? Tetapi pada akhirnya, kita semua harus hidup dengan pilihan kita, tak peduli siapapun. Aku harus, harus, ayo Kea ciptakan koreografi pertamamu.” Ucap Kea menyemangati diri sendiri.

“Okay, kita mulai ini perlahan Kea.” Kata Kea sambil melakukan pemanasan sebelum menari ballet. Tangan kanannya bersandar pada tiang, dan tangan kiri menekuk kaki kiri ke belakang ke arah atas. Dan sebaliknya. Hingga beberapa kali. Hingga saat dia siap, untuk…..
Kea memulai menggerakkan kaki layaknya yang dilakukan ballerina. Mencoba mengangkat tumit. Perlahan. Tapi apa yang terjadi. “Oo… My God…Sulit, dan aku tak percaya aku tak bisa melakukannya lagi hingga saat ini.” Keluh Kea. Jangankan membuat koreografi, memulai saja Kea tak bisa. Kaki mungilnya belum mampu bekerjasama untuk menari setelah cedera itu. Tapi Kea belum menyerah.

Kea berputar, tetap tak tampak seperti ballerina. “The angrier I gets, the more ingenious I am.” Ucapnya kekeuh. Dia terus mencoba, mencoba . Lalu Kea lelah, dia terduduk lemas di tempatnya berputar, di tengah ruangan. Kea mulai tersedu, sambil menekuk kedua kakinya, melipat tangan kanannya di atas lutut, sedangkan tangan kirinya menyilang ke depan, menundukkan wajah, kemudian menangis. “Mengapa aku memiliki imajinasi ini? Ini satu-satunya yang aku punya!” Ucapnya seraya menangis. Hiks…hiks…hiks…. “Kadang-kadang hal yang paling penting untuk diketahui adalah saat untuk keluar dan kapan harus menyerah.” Menegaskan dirinya.

Tak .. tok … tak … tok … tak … suara langkah seorang lelaki, ditandai dengan iramanya yang tegas dan konsisten, masuk ke dalam ruangan. Menghampiri Kea, kemudian berjongkok di depan tubuh Kea yang membungkuk itu. Jari-jari tangan kanan orang itu menyentuh tangan kiri Kea yg menyilang ke depan. “Aku melihatmu sekilas, tapi tampaknya tidak terlalu manis. Aku melihat yang disajikan begitu dingin, kau tau mengapa?” tanya orang itu.

Tapi tak ada jawaban dari Kea.

Hamparan padang ilalang luas dan menguning. Berkilauan memantulkan cahaya matahari. Silau, namun indah seperti emas mengkilat. Kea berlarian.
“aaaaa....a....aaaaaaaaa...aaa...., eeeememmmmmm.” senandung Kea pelan.
Berputar. Lalu Kea terus berlarian. Ke sana, ke mari. Kemudian mulai memasuki sebuah wilayah baru, penuh pepohonan tinggi menjulang dan menjauh dari padang ilalang tersebut. Terperangah dia, melihat sesosok lelaki.

Danau...
“Beautifull.” Kata Kea tersanjung.
Rumput hijau tumbuh di sekitarnya. Dikelilingi pepohonan besar. Bunga liar berwarna-warni juga tumbuh menghiasi tepi danau. Dan yang lebih menarik adalah daun-daun beterbangan. Angin semilir bertiup menerpa rambut Kea yang tergerai.

“Ini masih February kan, dan matahari itu seperti Summer di bulan Juni, indah serta menghangatkan...” Bisik Kea..

Laki-laki itu menengok dan Kea tidak terkejut bahwa itu adalah Fabian. Terengah-engah Kea tetap berlari menghampiri Fabian yang berdiri di pinggir danau. Fabian membuka kedua tangannya dan menegapkan dadanya seolah memasang badan untuk dipeluk. Dan anehnya Kea benar-benar berlari untuk memeluk Fabian. Berpelukanlah mereka.

Tidak sampai di situ, Fabian dan Kea menari di sekitar danau. Dan Kea sungguh cantik mempesona, dalam balutan gaun dan sepatu ballet merah muda. Langkah demi langkah, Irama demi irama. Kea sungguh-sungguh tak percaya, dirinya sanggup menari layaknya Odette dalam Swan Lake.

Mereka terus menari, tiba-tiba Kea tersenyum sumringah, namun menghentikan langkahnya dalam tarian. Kea berputar, berhenti lagi. Dan berdiri berhadapan saling bergandengan dengan Fabian.
“Sekarang kita di sini. Sekarang kita sudah sampai sejauh ini, tunggu sebentar, tidak ada yang takut, karena aku persis di sebelah mu. Untuk semua hidupku. Aku milikmu” Ucap Fabian seraya mengecup kening Kea.
Kea hanya diam seraya menutup matanya.

“Are you okay ?”
“emmm...O....Please, itu mustahil.” Kata Kea. Lalu dia tersadar dia masih berada di ruangan tari. Kea hanya bermimpi. Mimpi itu.

“Heeiii, you okay girl ?”
“Yeah, aku baik-baik saja.” Sahut Kea.

Kea mulai menengadahkan kepalanya. Kaget dan terperangah mereka. Ya mereka, Fabian dan Kea. Lelaki yang masuk ruangan tari itu adalah Fabian. Dan Mereka sama-sama terkejut luar biasa.

“Apa yang kamu lakukan di sini ?” Bentak Kea kepada Fabian.
“Hmm, A....a...aku … aku mau menagih janji kepadamu !” Jawab Fabian gugup.

Ada satu kesepakatan yang terjadi dalam pertemuan pertama mereka. Kalau Fabian dapat menaklukkan Bunda dan Ayahanda Kea, Fabian boleh mengajak Kea berkencan layaknya pasangan.

Fabian bergegas pergi meninggalkan Kea. Tapi Kea memanggilnya.”Fabian.........kamu bukan sekedar untuk menagih janji, tapi kamu tak tahu siapa yang kau hampiri.” Ucap Kea.
“Dan thanks, kamu melenyapkan mimpi buruk tadi.” tambah Kea.

Fabian mengacuhkannya, dan tetap bergegas pergi.

“Hanya saja, aku tak tahu mana bagian terburuknya.” celoteh Kea dalam hati.



...TO BE CONTINUE

Kamis, 25 Februari 2010

DID YOU EVER FALL IN LOVE? HORRIBLE ISN'T IT? Apakah Anda pernah jatuh cinta? Mengerikan bukan?

PART I
I wish I had an origin story about you.
Aku berharap aku punya cerita tentang asal-usul Anda.

Pukul sepuluh lima belas menit, pagi yang terik, suasana yang cerah, di tengah keramaian. Hari sabtu, hari nge-date sedunia. Tapi tidak bagi gadis mungil berusia dua puluh tahun, berambut lurus, hitam dan panjang bernama Keamira, atau biasa dipanggil Kea.

Kea tampak asyik berlenggak lenggok dengan dress minimalis bercorak bunga full color tanpa lengan, wide belts semakin membuat tubuhnya terlihat mungil, kaki jenjangnya yang indah disandingkan dengan sandal model gladiator yang sedang nge-trend, classic handbag dengan warna senada di tangan kiri dan botol raspberry juice di tangan kanan. Pandangannya lurus menyusuri tepi jalan menuju taman. Tempat yang memberikan kedamaian di hatinya. Paling tidak Kea sanggup menghabiskan ratusan halaman novel di tempat itu.

Sebenarnya Kea bisa saja menghabiskan waktu membaca novel-novel idamannya di rumah. Secara Kea adalah anak tunggal. Ayahanda dan Bundanya adalah pembisnis terkenal di kota. Sekalipun memiliki anak buah tetap saja tidak bisa menghabiskan akhir pekan bersama Kea. Rumahnya terhitung tentram dan damai karena Kea hanya ditemani pengasuhnya, Nanny. Tapi taman memberikan sensasi berbeda untuknya.

“Rasanya hanya satu minggu saja aku tidak mengunjungi taman ini, tapi kenapa perubahan cepat sekali terjadi.” Ucap Kea setengah menggerutu. Itu dikarenakan bangku tempat biasa Kea duduk menghadap kolam air mancur sudah tidak pada posisinya. Rupanya taman tersebut baru saja selesai direnovasi.

“Yahh, kurasa di sini jauh lebih enak.” Kata Kea, sambil duduk di bawah pohon rindang dan di samping kebun mini mawar putih yang masih kuncup. Dan yang paling penting adalah posisinya berjauhan dari para pasangan yang sedang kasmaran.

Novel yang dibaca Kea adalah “American Gods” karya Neil Gaiman. Ada salah satu kutipan yang sungguh menarik dipikirannya “I believe that life is a game, that life is a cruel joke, and that life is what happens when you’re alive and that you might as well lie back and enjoy it.” and “I believe that all men are just overgrown boys with deep problems communicating.“ Artinya "Saya percaya bahwa hidup adalah permainan, bahwa hidup adalah lelucon yang kejam, dan bahwa hidup adalah apa yang terjadi ketika anda masih hidup dan bahwa Anda sebaiknya berbaring dan menikmatinya." Dan "Saya percaya bahwa semua manusia hanya ditumbuhi anak laki-laki dengan masalah dalam berkomunikasi." “Itu sungguh menyebalkan.” Desis Kea. Ekpresinya seperti membenarkan bahwa dia sangat kesal terhadap komunikasi yang dilakukan para pria.

Serius saat membaca, Kea tak lupa mencicipi bekal pemberian dari Nanny, pengasuh yang sudah mengasuhnya sejak bayi, dan mengerti sekali cemilan kesukaan Kea.

“Hhmm, yummy, Nanny ku sayang, memang baik hati.” Celotehnya pelan. Salad dari buah-buahan segar, dinikmatinya perlahan.

Beberapa jam kemudian. “Selesai juga akhirnya.” Kea meregangkan kedua tangannya. “Lelah juga ngendon di sini sesorean.” Dibuangnya nafas panjang penuh kelegaan, lalu diliriknya jam di tangan kiri.

“Hah?! Setengah lima!” teriaknya kaget. Dengan gerak cepat Kea merapikan novel dan tempat makan sisa cemilannya. Maklum saja Kea begitu, karena dia terbiasa sampai rumah pada pukul setengah empat sore. Mundur satu jam dari kebiasaannya.

“Kea.”
“Siapa itu.” Pikir Kea. Jantungnya berdebar tak beraturan. “Masa’ iya, langit masih terang tapi hantu sudah berkeliaran. Bukan tanpa alasan dia berpikir tidak-tidak, taman sore itu memang sudah terlihat sepi.
“Kea.”
“Ah, suara itu lagi.” Desisnya ketakutan. Kea berdiri terpaku, dia tak berani menengok ke arah asal suara.

Tak ada siapapun. Satu-satunya manusia yang berdiri bersandar di samping pohon adalah seorang lelaki berkacamata asing yang tengah asyik mengotak-atik handphone di tangannya. Dan mustahil sekali dia orang yang memanggil Kea. Seumur-umur Kea belum pernah melihat lelaki itu.

Kea mencoba memberanikan diri dengan mengacuhkan suara tadi. Dan melanjutkan rencananya untuk pulang. “Kenapa juga itu hantu menggoda aku.” Ucap Kea sambil cengar-cengir.

“Kea.”
Suara itu lagi.

Kea mulai kesal karena merasa dipermainkan. Dengan garang Kea menoleh ke belakang. Bukan ke taman, tapi dia menantang langit sore yang mulai dihiasi pemandangan matahari terbenam.

“Heh, keluar kalau berani!” ucapnya lantang.
“Hi…hi…hi….”
“Eh malah ketawa!” Ayo keluar!” Aku tak takut, tantang Kea.
“Ha…ha…ha…. Aku udah keluar dari tadi, lagi. Itu kalau kamu anggap aku penampakkan.” Kata lelaki asing yang dilihat Kea tadi.
“Kamu.”
“Iya.”
“Siapa?”
“Fabian.”

“Fabian, Fabian, seingatku, aku tak pernah punya teman bernama Fabian.” Kea berusaha mengingat-ingat.

Nasihat Nanny terngiang-ngiang di telinganya. “Zaman sekarang Non Kea harus hati-hati. Apalagi Non Kea itu cantik. Penculikan, pemerkosaan, pembunuhan sudah jadi hal biasa yang dilakukan orang-orang nekat. Jangan mudah percaya sama orang yang baru dikenal. Apalagi yang keren dan keliatan kaya, biasanya itu hanya kedok Non.” Kata Nanny yang selalu bernasihat ria kepada Kea.

Sementara Kea berpikir, lelaki yang mengaku bernama Fabian itu mulai menghampirinya. Lima langkah lagi Fabian akan dengan mudah menggapai Kea.
“Ayolah, berpikir!” perintah Kea pada dirinya.
Tiga langkah…
“Dasar bodoh.” Ucapnya dalam hati.
Dua langkah…
“Laaaaarrrrrrrrrrrrriiiiiiiiiiiiiiii!”
Dan perintah itulah yang terbesit lantas dilakukannya.

“Heiiii… jangan lari!”
“Kea, berhenti…!” teriak Fabian. “Damn, kecil-kecil cepet juga larinya.” Gumam Fabian dalam hati. “Kea, berhenti.” Panggilnya lagi.

Hal-hal buruk terus membayangi pikiran Kea, dia mempercepat larinya. Sesampainya di rumah dia akan minta tolong Nanny yang dengan senang hati akan mempersenjatai dirinya dengan sapu dan kemoceng untuk melawan orang asing itu. Sayangnya, semua itu hanya angan-angan. Gadis berperawakan Belanda Jawa itu terlalu lelah dan lapar. Pandangannya sedikit kabur dan tanpa sengaja kakinya tersendung batu.

“Aduh,” Kea jatuh tersungkur tepat di pintu keluar taman. Dia cepat-cepat berdiri, tapi dadanya sesak. Perlahan dia berbalik lantas duduk dengan lutut setengah ditekuk. Darah mengucur deras dari lututnya.

“Tuh kan jatuh deh. Kamu sih lari-lari segala. Merepotkan orang saja.” Kea tersentak. Fabian sudah berada berdiri di dekatnya. Ketakutan mulai merayapi hati dan pikiran Kea. “Tolong selamatkan hamba Ya Tuhan.” Doa Kea dalam hati.

Fabian semakin mendekat. Dia berjongkok di samping Kea. Diperhatikannya gadis mungil yang sedang memejamkan mata di depannya itu. Sekonyong-konyong Kea merasa tubuhnya diangkat. “Masa iya aku sudah mati, secepat inikah? Lantas bau harum apa ini?” Gumamnya dalam hati.

Perlahan Kea mulai membuka mata. Kea tidak segera menyadari apa yang terjadi. Tapi begitu sadar dirinya tengah berada dalam gendongan orang yang sama sekali tidak dia kenal, Kea langsung menjerit dan memberontak.

“Apa-apaan sih, gendong-gendong segala! Lepasin! Kea terus menjerit dan meronta dalam bopongan Fabian. “Heh, bisa diam, nggak? Nanti kita bisa jatuh bersama, tahu!” celoteh Fabian.

“Nah, di sini kan enak.” Fabian menurunkan Kea di kursi taman, di bawah lampu hias yang mulai menyala di sekeliling taman.

Kea benar-benar pasrah sekarang. Dia tak mungkin lari dengan lutut terluka. Gadis itu terus saja diam tanpa berhenti memikirkan hal-hal buruk yang akan terjadi.

“Kok diam?” Tanya Fabian pada Kea. “ Ka…ka….kamu, tidak akan memperkosaku kan?” Tanya Kea terbata sambil menelan ludah. Fabian memandangnya, lantas, “Ha…ha…ha… dapat pikiran konyol darimana?” celoteh Fabian lembut.

“Dari Nanny.” Tadinya Kea mengira, Fabian akan bertanya siapa Nanny? Tidak disangka lelaki tampan berperawakan tinggi itu malah ketawa lagi. “Ha…ha…ha…ha…ha… Nanny emang suka aneh-aneh pikirannya, tapi lebih aneh lagi kamu percaya gitu aja.”

Kea terdiam kaku. “Kenal Nanny?” Tanya kea pada Fabian. Fabian tak langsung menjawab, kini matanya tertuju pada luka di kaki kea. “Punya tisu?” Tanya Fabian. “Nanny?”
“Punya tidak?” Suara Fabian meninggi.
“Punya”.
“Mana!” Fabian merendahkan suara.

Kea merogoh tasnya dan menyerahkan tisu ke Fabian. Setelah itu Fabian berdiri, pergi ke air keran di sudut taman, dan kembali lagi dengan tisu basah di tangan.

“Tahan ya, agak perih sedikit.” Dengan lembut Fabian membersihkan luka Kea. Sebentar-sebentar Kea meringis, tapi ditahannya sakitnya. Setelah lukanya bersih, Fabian mengambil sapu tangan dari saku celananya. Ditiup-tiupnya luka Kea hingga kering. Lalu diikatnya sapu tangan itu hingga luka Kea terlindung.

“Jangan!!” Sela Kea.
“Kenapa? Sakit ya?” Tanya Fabian.
“Sapu tanganmu bisa kotor!” Ucap Kea.
Fabian menghentikan kesibukannya. Ditatapnya Kea tajam.”Kamu pikir, aku Cuma punya satu sapu tangan? Kalaupun aku cuma punya satu, aku masih bisa beli yang baru. Tapi kalau kakimu yang luka itu, bisa infeksi dan diamputasi, kamu ngga akan bisa nemuin kaki yang sama di toko mana pun. Paham ?”
I….iya, paham.” Jawab Kea gugup.

“Nah, selesai. Nanti di rumah minta tolong Nanny lukanya dibersihkan dengan antiseptic.”
“Kamu siapa?” Tanya Kea dengan tatapan penuh selidik.
“Fabian.” Jawabnya singkat.
“Kamu tahu apa yang aku maksud, bukan nama yang aku tanyakan.”
Fabian tak langsung menjawab, padangannya menerawang.




...TO BE CONTINUE

Rabu, 17 Februari 2010

THE MEADOW

Pohon rindang dan besar. Aku menghampirinya. Tepat di bawahnya ada sebuah bangku yang tidak asing seperti taman-taman pada umumnya. Lalu aku duduk, ku angkat kedua kaki ku dan ku dekap dengan kedua tangan, ku tempel kan dagu di antara kedua kaki.

Padang rumput.
Iya, aku melihat padang rumput. "Oh, bukan itu, tapi aku berada di padang rumput," kata ku berdesah kagum. Hhmm, sambil berputar dan tak henti menatap sekeliling. Berpikir di mana sebenarnya aku saat ini. "Indah sekali," aku berkata pelan. Ku coba langkah kan kaki di jalan setapak terbuat dari batu yang tipis. Berjalan ku dengan sedikit melompat, "tak, tok, tak, tok, ...," suara high heels-ku memecahkan kesunyian.

Aku menyadari, bahwa aku begitu cantik bak Princess. Sepasang sepatu ku mirip kepunyaan Cinderella. Aku merasakan make up yang sempurna di wajah dan aku tahu itu. Ku sentuh bibir ku sedikit dengan telunjuk, ku lihat warnanya merah mengilat senada dengan warna gaun backless yang kukenakan. Yang tak kalah indah adalah rambut ku yang berubah menjadi black shine, long dan curly, ter gerai.

Jalan setapak terputus, aku berada di tengah padang. Dikelilingi bunga-bunga liar yang tumbuh tapi tetap tidak mendominasi. Aroma basah menandakan bahwa ini tetaplah sebuah padang rumput bukan taman bunga. Aku bersenandung pelan, ku jentikkan jari, terdengar suara piano berdenting lambat, Kaki ku bergerak ke kanan 2 langkah, dan kaki kiri 2 langkah ke depan. Ritme pelan, aku berdansa. Disusul bunyi saxophone dan gesekan biola, ritme sedikit naik, melodi memaksaku terus berdansa. Berputar, ke kiri, ke kanan, kiri lagi, kanan lagi, hingga berputar kembali 12 kali. Klimaks. Hingga ku melihat ...

Sosok lelaki tampan tersenyum, berdiri 6 langkah dari tempat ku berdiri. Mengenakan Tuxedo hitam dan sepatu hitam mengilat. Tataan rambutnya pun sungguh menawan. "Hei, apa kau membutuhkan pasangan," tanyanya, bak Prince. Hhmm, "Aku rasa begitu," jawabku seadanya. Lalu dia menghampiri ku. Diraihnya tangan kanan ku kemudian di kecup pelan olehnya. Dipeluk lah aku dengan meletakkan kedua tangannya di pinggang ku, di susul olehku meletakkan kedua tanganku di lehernya. Bibirnya menyentuh telinga kananku, lalu membisikkan apa kau sangat merindukan ku, Cha ? tanyanya kepadaku. Ku jentikkan jari, terdengar "Parla Piu Piano from Patrizio Buanne" mengalun merdu. Kami mulai berdansa. Dan aku berkata, sangat, aku sangat merindukan mu, Budi. Setelah itu tak ada dialog di antara kami.

Hujan.
Turun tidak deras, namun cukup basah jika kau berada ditengah padang rumput yang tidak terhalang pepohonan ini. Ditariknya tanganku, kami berlari, menghampiri pohon besar yang lumayan cukup jauh untuk berteduh. Dibalutkan Tuxedo nya ke tubuhku. Terbawa suasana, "aku tak ingin ini berakhir", bisik ku dalam hati. Apa yang terjadi selanjutnya, "Oh, tidak, apa yang akan dia lakukan padaku," mengira-ngira dalam hati. Kami saling pandang. Leher ku didorong olehnya hingga berada dekat dengan wajahnya. Dia memiringkan sedikit wajahnya dan mulai menghampiri bibirku. Kami berciuman. Aku tak sanggup menolaknya.

"Bodoh," ucapnya, kepada ku dengan wajah garang. "Kenapa ?" kataku. "Kau suka dengan kebohongan" katanya meringis. "Maksudmu ?" timpa ku. "Kau, sungguh-sungguh bodoh, apa aku harus mengatakan semua ini kepadamu ? Apa aku yang harus memberikan alasannya ?" nada suaranya meninggi. "Ya, aku pikir begitu," ucapku, yang keheranan.

Posisinya denganku tidak se dekat sebelumnya. "Aku tak punya waktu, dan harus kembali," ucapnya, sambil melangkah mundur. "Tunggu," aku sedikit berteriak. "Kamu tidak boleh pergi dengan cara seperti ini, kamu harus katakan apa yang kamu maksud itu," kataku sambil menarik tangannya. Dilepaskan genggaman ku perlahan olehnya, dia membalikkan badan, lalu pergi meninggalkanku begitu saja. "Budi................" panggil ku. Dia tak menghiraukannya.

Tanpa jentikkan jariku, terdengar "Lost in Space from Lighthouse Family" berkumandang, kupikir itu cukup dramatis. Airmata ku mengalir deras. Kaki ku terus melangkah mengejarnya, tapi tak bisa. Kembali di tengah padang rumput, tubuhku membungkuk, lelah dan nafas terengah-engah. Hingga tanpa ku sadari, langit gelap. Letih, ku membaringkan tubuhku di rumput-rumput basah karena hujan. Isakkan ku tak berhenti sejak kejadian tadi. Bukan jentikkan jari yang memanggil semua ini tapi hati saat merasakan sesuatu.

"Chaaa, Chaaa... " aku merasa ada yang memanggil. Tubuhku terguncang-guncang. "Cha..," aku ingat suara ini. Ku buka mataku, bingung, dan menoleh ke sebelah kiri. Ku lihat sosok yang mulutnya komat kamit. "Ehhmm," desis ku. "Cha, apa yang kau lakukan ?" tanya orang itu. Mengucekkan mata, lalu mulai menyadari bahwa sosok itu adalah Riza, pacarku. Dia masih saja menguncang-guncang tubuhku. "Iya," kataku. "Sedang apa kau," tanyanya. "Hmm, Menunggumu," cetusku. "Latte," ucapnya sambil menyerahkan latte itu kepada ku. "Thanks," kataku. "Will you marrie me," pelan dan sangat berhati-hati keluar dari bibirnya. "What do you expect a hug or something ?" timpa ku, sambil menyikutnya dan berdiri. "I want you to say yes!" memelas kepadaku , meringis karena sikutan ku. "Stop," pinta nya kepadaku yang terus berjalan sambil menikmati latte. Aku berhenti. Dipeluklah tubuh ku dari belakang. Di balutkan kalung berliontin ballerina berdansa ke leher ku. "Beautifull, tapi tidak mengubah keputusan ku menjadi iya. Karena aku masih kelas 1 SMA," cetusku. "Oke," katanya, sambil mendekap tangannya di pundak ku. "Berapa lama kau meninggalkanku di taman tadi ?" tanya ku. "Lima belas menit," ucapnya singkat. "Oh," sambil menghentikan langkah. "Kenapa ?" tanyanya. "Tidak apa-apa," kataku. "Ngomong-ngomong berapa kali dan berapa metode kamu telah melamarku ?" aku cekikikan. "Apa kau meledekku," memasang wajah garang lalu tersenyum manis sekali...

(Percayakah kah kau, setelah itu aku benar-benar berpacaran dengan lelaki bernama Budi).



Original Story From CHAIRUNISA ZULFAQAR :)
Sydney, Liburan semester pertama...

Kamis, 11 Februari 2010

Good Girls Go Bad

I make them good girls go bad
I make them good girls go
Good girls go bad

I know your type
(Your type)
You’re daddy’s little girl
Just take a bite
(One bite)
Let me shake up your world
‘Cause just one night couldn’t be so wrong
I’m gonna make you lose control

She was so shy
Till I drove her wild

I make them good girls go bad
I make them good girls go bad
You were hanging in the corner
With your five best friends
You heard that I was trouble
But you couldn’t resist
I make them good girls go bad
I make them good girls go
Good girls go bad

I know your type
(Your type)
Boy, you’re dangerous
Yeah, you’re that guy
(That guy)
I’d be stupid to trust
But just one night couldn’t be so wrong
You make me wanna lose control

She was so shy
Till I drove her wild

I make them good girls go bad
I make them good girls go bad
I was hanging in the corner
With my five best friends
I heard that you were trouble
But I couldn’t resist
I make them good girls go bad
I make them good girls go
Good girls go bad
Good girls go bad
Good girls go bad

Oh, she got away with the boys in the place
Treat ‘em like they don’t stand a chance
And he got away with the girls in the back
Acting like they’re too hot to dance
Yeah, she got away with the boys in the place
Treat ‘em like they don’t stand a chance
And he got away with the girls in the back
Acting like they’re too hot to dance

I make them good girls go bad
(They don’t stand a chance)
I make them good girls go
The good girls go bad, yeah
Good girls go bad
I was hanging in the corner
With my five best friends
I thought that you were trouble
But I couldn’t resist
I make them good girls go bad
I make them good girls go bad
I make them good girls go
Good girls go bad
Good girls go bad
Good girls go

By : Cobra Starship ft Leighton Meester

Kamis, 04 Februari 2010

Body Control

Gimme music, now I need it
Gotta loose it, wanna move it
Faster, louder, keep it going all night
I can take you to the limit
Move it how I like
Bodies poppin' never stopping
Feelin' free like I'm alive
I become a wild thing (yeah uh huh) i know that
I become a wild thing (yeah uh huh) so what?
This music makes my heart sing (yeah uh huh) you know that
I become a wild thing (uh oh oh)

I know you see me with my body moving out of control
I know you see me, don't you know that I got body control
This beats electric baby, shockin me right down to my soul
I know you see me I got b-b-body control
(I got body control, I-I I said I got body control)

I can move my body, body
You know I like to party
Tell the DJ girls are ready leave that beat to drop
I can take it to the limit move it how I like
Bodies poppin' never stopping
Feelin' free like I'm alive
I become a wild thing (yeah uh huh) i know that
I become a wild thing (yeah uh huh) so what?
This music makes my heart sing (yeah uh huh) you know that
I become a wild thing (uh oh oh)

I know you see me with my body moving out of control
I know you see me, don't you know that I got body control
This beats electric baby, shockin me right down to my soul
I know you see me I got b-b-body control (2x)
(I got body control, I-I I said I got body control)

Give me a minute
I'm on a mission so listen
I got the fire, I'm wild
I never tired, don't stop
No I never slow down whether you like it or not
I'm gonna shut down the spot
I'm taking over the top

I know you see me with my body moving out of control
I know you see me, don't you know that I got body control
This beats electric baby, shockin me right down to my soul
I know you see me I got b-b-body control (2X)
(I got body control, I-I I saïd I got body control)

By : Leigthton Meester

Your Love's A Drug

I like it, I want it
The way you make my body move
I think I'm addicted
I'm high off everything you do
I'm going to call you baby
Don't you worry 'bout a thing
'Cos you're all I need

I'll become a slave to my habit
Feigning for your love
Gotta happen now

You're all I need
Your love's drug
Can't get enough your love's a drug
And I can't sleep
Can't get enough your love's a drug,
Your love's a drug,
Your love's a drug

I hate it
That feeling rushing through my veins again
Whenever you leaving
I feel withdrawal kicking in
I'm going to tell you how I feel
How I couldn't breathe
When you're not with me

I'll become a slave to my habit
Feigning for your love
Gotta happen now

You're all I need
Your love's drug
Can't get enough your love's a drug
And I can't sleep
Can't get enough your love's a drug,
Your love's a drug,
Your love's a drug

'Cos I miss you when you're gone
So right what feels so wrong
That I need to have you all the time

You're all I need
Your love's drug
Can't get enough your love's a drug
And I can't sleep
Can't get enough your love's a drug,
Your love's a drug

You're all I need
Your love's drug
Can't get enough your love's a drug
And I can't sleep
Can't get enough your love's a drug,
Your love's a drug,
Your love's a drug

By : Leighton Meester

Somebody To Love

Paris, France to Michigan
London town and through Berlin
I can’t believe this place I’m in
Everywhere and back again
Porcelain and China dolls
Give me one and I’ve seen them all
Got my back against the wall
Wonder where I’ll be tomorrow?

But wait, now how long could this take?
It’s hard to find a man,
When you’re gone before he wakes.
They say it’s hard to achieve
But can’t a girl believe?

(Chorus)
Is there somebody who still believes in love?
I know you’re out there
There’s got to be somebody
I search around the world
But I can’t seem to find
Somebody to love

(Robin Thicke)
Baby girl, there you at
Looking at me like a putty cat
Wondering where that thing is at
Wondering where your ring is at
Nobody ever did it quite like this
Nobody ever did it quite like you
Do your hair, I bought you shoes
We can hit the town like superstars do
You fall in love? Then let me show you love
Give me the key to your heart
I can give you what you want
When you’re waiting for love
And you’re lookin’ for someone
I’mma turn this gossip girl into a woman

[Chorus x2]

Je t’adore, Je t’adore (I love you, I love you)
Make a move, do the thing
Turn around, strike a pose
Je t’adore, Je t’adore (I love you, I love you)
Make a move, do the thing
Turn around, strike a pose
Ooh, I like it
Ooh, I need it
Ooh, I want it
Hey Hey

I know it’s hard to achieve
But can’t a girl believe?

[Chorus x2]

(You say hello, I say goodbye) x2
Somebody to love

By : Leighton Meester