Apakah aku menemukan mu, atau aku menemukan duniaku.
Seorang grandma berbaring di atas ranjangnya yang menawan. Rambut yang telah putih nan panjang dibiarkannya tergerai. Piyama merah dikenakannya di malam sunyi itu. Di temani suara hujan yang tidak deras, tapi juga bukan gerimis pelan, berbunyi, mengalun merdu seperti lagu. Di dalam hujan, ada lagu yang hanya bisa didengar oleh mereka yang rindu. Grandma Claudia namanya. Perempuan yang memiliki mata indah ini merindukan seseorang. Dalam lamunan dan rasa bosannya menghabiskan malam, dia bercerita.
Di sebuah pesta perpisahan sekolah menengah. Pesta yang sungguh megah itu diselenggarakan di sebuah hotel berbintang lima. Claudia yang genap berusia delapan belas tahun begitu tergila-gila akan malam itu. Pesta yang penuh gemerlap.
Claudia menjauhi sekelompok teman-teman yang bersamanya. “Bloody Mary, please!” pesannya kepada salah satu bartender yang bertugas. Selang beberapa menit cocktail pesanannya selesai. Claudia bergegas meninggalkan Bar. Belum sempat membalikkan tubuhnya, Claudia menyadari dirinya bertabrakan dengan seseorang. Seseorang itu dengan lemah lembut meminta maaf, karena selain menabrak Claudia dia juga mengotori gaun yang dikenakan gadis manis itu.
“Maaf.” katanya pelan tetapi tegas.
“It’s oke.” jawab Claudia.
Ternyata kejadian tersebut menjadi awal perbincangan mereka. Kedekatan mereka kini dimulai. Bahkan ini terlalu sore untuk membicarakan hal yang selanjutnya terjadi antara keduanya.
Sambil menikmati wine, Claudia dan lelaki yang bernama Czar berjalan ke arah teras aula, masih di tempat pesta berlangsung. Namun di tempat ini jauh lebih terasa romantis dan jauh dari keramaian. Angin malam terasa meliuk-liuk menyentuh kulit.
“Pakai ini.” Czar mengawali adegan romantis ini, dengan melapisi jasnya di tubuh Claudia.
“Aku tak pernah melihatmu.” kata Claudia.
“Memang, aku empat tahun di atas mu.” ucap Czar.
“Oh…”
“Kau sangat menarik. Apa kau memakai sesuatu untuk menarikku?! Seperti Magnet.” kata-kata Czar yang sedikit menggoda.
“Aku mendengar itu seperti gombalan.” Claudia menyahut, tersenyum simpul indah sekali.
Lantas… Haahaahaa, tawa keduanya menggelegar. Pandangan mereka tak beralih satu sama lain sedikitpun. Seolah tak mempedulikan orang lain di sekitar.
“Aku ingin kita membuat malam ini terasa panjang.” ucap Czar seraya menarik kedua tangan Claudia.
Entah apa yang ada dipikiran mereka. Keduanya terlihat seperti orang yang jatuh cinta. Percayalah, pepatah cinta pada pandangan pertama seperti menyerang mereka. Tak henti memandang, bergandengan tangan, tertawa kecil, setengah berlarian, mereka menyusuri lorong hotel yang sepi.
“Hello, semua orang sedang berpesta.” teriak Czar.
“Haahaa…..” tawa kecil Claudia terdengar menyusul.
Terengah-engah, mereka terlihat seperti pasangan muda yang sedang dikejar-kejar. Memanfaatkan beberapa tempat untuk bercumbu. Sunnguh terlihat ceroboh.
“Shshshsh….” bisik Czar seraya melepaskan bibirnya dari bibir Claudia. Czar juga mendorong sedikit tubuh Claudia ke arah lorong kecil seperti sedang bersembunyi. Berputar lalu saling berpelukan.
“Kau terlihat serius wahai pangeran. Hahaha.” gurau Claudia dalam persembunyian.
“Diamlah atau aku akan menahan sesuatu di sini.” ucap Czar seraya meletakkan jari telunjuk di bibir Claudia.
Mereka bersembunyi agar kehadiran mereka tak diketahui housekeeping yang baru saja keluar dari salah satu kamar hotel.
“Seperti orang bodoh mengelilingi sepanjang lorong dengan bercumbu dan berpelukan, jika tanpamu.” kata Claudia tersenyum.
“Terima kasih untuk malam ini permaisuri cantik.” ucap Czar yang mengantarkan Claudia tepat di pintu kamar.
“It’s wonderful baby, maukah kau bersulang untuk mengakhiri ini.” ajak Claudia pada Czar ke dalam kamarnya.
“Pagi nyaris tiba sayang. Kamu harus pergi tidur.” kata Czar yang tak hentinya memeluk erat pinggang dan mencium pipi Claudia.
“Okay, Night.” ucap Claudia.
“Aku hanya tak ingin sesuatu yang buruk datang. Seperti menodaimu.”
“Night.” Czar mengakhiri malam yang panjang itu.
Pagi yang indah, mengangkat lapisan kabut waktu malam. Dari balik puncak gunung, matahari mulai terbit, kemudian nampak. Kehidupan inilah yang mengandung cinta dan keinginan. Seperti ombak beralun satu demi satu. Kadangkala baru, kadangkala biasa.
Dua hari setelah malam indah itu, Claudia tak pernah melihat Czar lagi. Czar tak menampakkan keberadaannya. Seharusnya ini hari terakhir Claudia di hotel ini. Tapi dia memutuskan untuk tidak pulang bersama rombongan. Dia mencoba tinggal beberapa hari lagi. Mungkin seperti menunggu kepastian akan satu hal.
Pertemuan dan perpisahan dari suatu perasaan. Claudia juga tak menemukan sosok yang dinanti olehnya.
“Apa itu keinginan ? Atau apa itu desakan ?” Claudia bertanya dalam hatinya.
Stasiun…
“Claudiaaaaaaaaaaaaaaaaa….” Suara yang sangat dirindukan. Seseorang memanggil Claudia. Gadis itu menoleh dan mencari-cari dari mana asal suara itu. Dilihatnya Czar berdiri tepat saat dia berbalik.
“Aku mencintaimu…” ucap Czar. Kemudian memeluk Claudia.
“Apa kau kembali untuk menjemputku ?” tanya Claudia pada Czar.
“Maafkan aku.” kata Czar yang memeluk Claudia semakin erat.
“Untuk apa ?” sahut Claudia yang kesulitan berbicara karena eratnya pelukan sang kekasih hati.
Jangan pernah berpisah tanpa ungkapan kasih sayang untuk dikenang. Mungkin saja perpisahan itu ternyata untuk selamanya.
“Aku hanya tak ingin berpisah tanpa bilang betapa aku sangat bahagia denganmu. Betapa aku sadar aku sangat, sangat mencintaimu.” kata Czar.
“Iya, aku dengar, aku juga mencintaimu.” jawab Claudia.
“Se..benar…nya.” Czar terbata.
“Apa ?” tanya Claudia.
“Maafkan aku, sebenarnya malam saat kita bersama adalah malam terakhir ku sebagai lajang. Karena tepat esok paginya aku menikah di hotel yang sama.” Perasaan bersalah menggerogoti Czar.
“Ja..di..” Claudia terdiam dan melepaskan pelukan Czar.
Seperti batu karang yang tidak putus-putusnya dihantam ombak. Dia tidak hanya berdiri kukuh, bahkan dia menentramkan amarah dalam ombak dan gelombang itu.
“Seandainya masih ada harapan untukku dapat memilikimu, aku rela menggantungkan segalanya seluruh hidupku pada harapan itu.” kata Claudia.
Kata-kata manis itu sungguh membuat penyesalan yang amat sangat mendalam di hati Czar. Perempuan yang dicintainya benar-benar luar biasa menyita pikirannya. Claudia memberikan senyuman terakhirnya untuk Czar. Mengikatkan syalnya ke leher Czar.
“Aku ingin kita berjalan ke arah tujuan masing-masing tanpa menoleh.” kata Claudia.
Lalu keduanya tanpa kata, tanpa aba-aba berjalan memulai perpisahan. Claudia melewati Czar yang masih berdiri, lalu berjalan lurus ke depan. Demikian dengan Czar.
Tanpa Czar sadari Claudia menoleh ke arahnya. Namun saat Claudia mulai melangkah memasuki salah satu gerbong kereta yang ditumpanginya, Czar pun menoleh. Lelaki itu menyadari satu anting Claudia tersangkut dalam syal yang dikalungkan di lehernya itu. Sempat dalam benak Czar utuk mengejar Claudia sekali lagi. Tapi semuanya terlambat. Kereta melaju dengan segera.
Dalam perjalanan menumpangi kereta, airmata tak henti mengalir deras, berderai di mata indah Claudia. Perjalanan seindah mimpi ini terhenti hanya dalam seketika dan setelah itu Claudia ke mana, Czar ke mana. Inilah perjalanan cinta yang singkat kemudian terbangun dengan kenyataan pahit.
Bertahun-tahun berlalu. Lima puluh tahun tepatnya sejak pertemuan indah itu. Claudia sekarang hanyalah seorang grandma berusia enam puluh delapan tahun, janda selama empat tahun terakhir yang sudah lelah menapaki setiap jalan hidup. Namun tidak hari ini. Dia ingin ke masa lalu itu. Dia datang ke tempat yang begitu indah dalam benaknya.
“Mengapa hari ini angin bernyanyi. Mengapa seluruh suasana jenuh dengan warna. Katakan padaku, hatiku, Apa yang ditakdirkan untuk terjadi hari ini?” ucap Claudia.
Ingatannya menari-nari di kepala saat dia menjejaki kakinya di sebuah tempat. Tempat di mana dia berpisah dengan seseorang dalam ingatan. Seseorang yang berpuluh-puluh tahun tak pernah diingkarinya tentang cinta.
Stasiun kereta.
“Siapa yang kita sebut diri sendiri, dan siapa orang asing? Apa gilirannya cerita yang diambil, atau apa giliran cerita mu yang diambil? Ceritamu, ceritamu, cerita, cerita aku.” kata Claudia dalam hati.
Wewangian seperti mengapung di angin. Siapa yang tahu bahwa detak jantung Claudia yang mengatakan nama itu. Suara siapa yang Claudia dengar bahkan ketika dia tidak sedang mendengarkan. Langkah kaki seperti mendekatkan.
“Apakah itu dirimu, atau cahaya dalam perjalanan. Apakah itu wangi dirimu, atau bau yang ditebarkan oleh angin.” suara yang tak asing tiba-tiba menyapa telinga Claudia. Pelan dan terdengar rentan.
“Aku cahaya yang bersinar dari matamu. Aku rahasia yang tidak dapat kau sembunyikan. Aku disini” sahut Claudia.
“Mengapa aku harus menyimpan syal beserta bau harum dirimu. Apa yang bisa aku katakan? Aku diperintahkan untuk hidup, tapi tanpamu.” ucap Czar.
“Shshsh...” desis Claudia.
Kini keduanya berdiri tanpa jarak. Di usia senja akhirnya cinta mempersatukan keduanya. Czar dan Claudia. Czar tak henti memeluk dan mengecup kening Claudia. Lima puluh tahun berlalu, senyum Claudia tak dapat dilupakan Czar. Sosok seorang Claudia masih sama seperti dulu di mata Czar.
“Bagaimana bodoh mereka, yang mengatakan bahwa kamu adalah orang asing bagiku.”
“Tanpa bertanya, aku menerima begitu banyak jawaban.”
“Lihat apa yang aku inginkan, dan apa yang, pada gilirannya, aku terima.” ucap Claudia yang berdekapan erat dengan Czar.
“Aku bisa melihatnya di mata mu bahwa kamu jujur, bahwa aku tidak ingin lagi. Hal absourd, konsep konyol, seolah-olah ada cara apapun yang aku dapat tanpa perlu dirimu. Hanya dirimu yang lebih penting daripada yang aku inginkan.” ucap Czar.
Kehidupan telah membawa serta masalah hari lalu...
Kenangan yang tak ada bandingannya di sekitar kita sekarang...
Lima tahun setelah pernikahannya Czar bercerai dengan istrinya. Dia memilih tetap hidup menyendiri tanpa menikah lagi hingga tua seperti sekarang ini. Setiap tahun, tanggal di mana Czar berpisah dengan Claudia, dia dengan setia menanti kembali kehadiran Claudia. Penyesalan yang menghantuinya karena tak cukup berani mengejar cintanya untuk Claudia. Di kota ini mimpi, di jalan ini kenangan ….
Tapi sekarang Czar begitu bahagia mendapati di hari tua -nya bersama Claudia dalam satu ranjang.
THE END
Original Story From CHAIRUNISA ZULFAQAR :)
aku terharu dan jd ngantuk hehehe
BalasHapusThanks udah mampir.
BalasHapus