Rabu, 24 Maret 2010

DID YOU EVER FALL IN LOVE? HORRIBLE ISN'T IT? Apakah Anda pernah jatuh cinta? Mengerikan bukan?

PART III
When will it all be so wrong? This is not how it should be. I don't know who I am anymore, what should I do.
Kapan semuanya bisa jadi kacau? Ini bukan bagaimana seharusnya. Aku tidak tahu siapa aku lagi, apa yang seharusnya aku lakukan.


Empat tahun lalu…
Bina Bangsa School…

Keam (Kim) dan Ryan (Rayen). Sepasang sahabat, paling popular di sebuah sekolah swasta di kota besar. Cerdas dan berprestasi. Ryan belajar di jurusan Exact sedangkan Keam di kelas Bahasa.

Tapi bukan dalam hal itu, alasan Keam dan Ryan menjadi popular. Drama, tarian dan musik, ketiga hal itulah mengapa mereka begitu disegani. Tak hanya itu, Keam yang cantik dan pandai menari, menolak saat terpilih sebagai pimpinan cheerleaders. Padahal hampir semua siswi menginginkan hal itu. Tapi hanya ada satu orang yang menggantikan posisi Keam, yaitu Clara Dalila. Ya, Clara adalah rival terberat Keam, jabatan pemimpin Cheers di pegang olehnya. Ryan setali tiga uang, menolak atas keberhasilannya terpilih sebagai ketua tim basket. Kedua hal itu menjadi perbincangan hangat bagi siswa-siswi di BBS. Chemestry di antara keduanya sungguh membuat siapapun akan iri hati.

Tumbuh hanya berarti satu hal yaitu kemerdekaan. Keam dan Ryan berpikir kalau itu semua hanya menjadikan mereka sebagai boneka sekolah. Tanpa jabatan itu pun, mereka sangat popular walau itu juga bukan tujuan keduanya. Prestasi selama ini yang mereka torehkan adalah apa yang benar-benar disukai, yaitu drama dan tari, sedangkan musik berkaitan erat dengan dua hal itu. Di bidang akademis keduanya juga cukup hebat, kelebihan Ryan adalah mengikuti berbagai kompetisi kimia dan fisika. Sedangkan Keam adalah penulis skenario sebuah pentas drama. Dan setiap musim adalah naskah seorang Keam yang dipertunjukkan di BBS.

“Aku tidak akan lemah lagi. Kamu tidak dapat pergi. Kamu harus tinggal di sini dan mendengarnya kali ini. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu begitu banyak itu mengkonsumsi ku. Aku cinta kamu. Aku tahu kau mencintaiku juga. Katakan padaku kau mencintaiku dan semua yang kita lakukan, semua gosip dan kebohongan dan sakit hati pasti untuk sesuatu.” Salah satu dialog yang ditulis oleh Keam.

Waktu istirahat dimanfaatkan Keam dan Ryan untuk berlatih. Di sebuah bangku taman sekolah di bawah pohon rindang yang asri, seraya bersenda gurau.

Keesokkan harinya.
Pukul 08.00 pagi, sebelum kelas dimulai...

Keam dan Ryan berjalan menyusuri lorong sekolah yang dipadati siswa siswi BBS. Seraya merangkul pundak Keam, Ryan tiba-tiba berhenti. Tepat di mading sekolah, diliriknya sebuah kertas pengumuman. Hmm, siswa siswi yang memenuhi lorong sekolah langsung melirik ke arah Keam dan Ryan. Itu dikarenakan mading itu menginformasikan pengumuman tertulis bahwa peran utama dalam pentas drama sekolah diperoleh oleh mereka berdua. Keam dan Ryan.

“Horai, hore, ...” sorakan gembira keduanya, lalu berpelukan.
“Keam, kamu tidak akan pernah menjadi seperti cantik, langsing, atau bahagia seperti kamu sekarang. Aku ingin kau membuat sebagian besar dari itu.” Ucap Ryan sambil melepaskan pelukan dan matanya setengah melirik ke Clara yang tidak jauh berdiri dari mereka berdua.
“Mereka menatap kita iri, tapi itu bukan karena kamu, itu karena lelaki tampan ini.” Tambah Ryan setengah meledek.
“ Mm, hhem... It's really funny.” ketus Keam.
“Ha...haa..haa...” Ryan tertawa.


September, 2006.

Empat bulan sebelum pementasan drama Bina Bangsa School. Di sekolah mereka, akhir tahun ajaran jatuh bersamaan dengan akhir tahun. Pentas ini rencananya akan diselenggarakan pada musim dingin di awal bulan Januari.

“Hai...” Sapa Keam pada Ryan.
“Akhir-akhir ini kau sering sekali telat ?!” Tanya Keam.
“Hmm...Ayo kita latihan.” Ryan mengalihkan pembicaraan.

Clara, kebagian peran pendukung yang cukup penting. Setelah break dari latihan inti, Keam memandangi sahabatnya, Ryan, tengah asyik berbincang dengan Clara. Tapi itu tidak sedikitpun mengganggu pikiran Keam.

Kali ini latihan dimulai lagi, bagian tersulit dari drama karena Keam harus menggunakan high heels sembilan cm. Sesekali Ibu Martha, guru pembimbing berperawakan gemuk, berkacamata dan sedikit galak mengarahkan gerak tubuh pada Keam. Namun saat Keam baru saja hendak memakai high heels tersebut. Pleeeeeeeetaaaaaaaakkk. High heels sebelah kanan yang dikenakan patah, tapi bukan hanya itu, tentu saja kaki si pemakainya juga ikut cedera.

Keam menangis, tersedu, terisak-isak saat mendapati dirinya sudah berada di rumah sakit. Dengan memandangi kakinya yang tidak lagi indah, dia harus menghadapi nasibnya kehilangan peran penting dalam drama ketika Dokter berkata dia baru bisa kembali beraktifitas normal hingga empat bulan mendatang bahkan lebih karena kondisi cedera yang begitu parah.

Di sekolah, sudah barang tentu, cederanya Keam jadi bahan perbincangan hangat. Siswa-siswi menebak-nebak siapa yang bakal menggantikan Keam. Bahkan hari itu Bu Martha meminta Ryan segera mencari pemeran pengganti untuk Keam.

Sejak satu bulan mengalami cedera, Keam hanya menghabiskan waktu di rumah. Keam tak tahu sama sekali tentang perkembangan drama yang akan dipentaskan. Apalagi sosok yang menggantikannya. Tiba-tiba dia berkeinginan untuk meyaksikan latihan drama itu.

Terbata dalam melangkah dan ditemani tongkat, Keam memasuki ruangan drama di sekolahnya. Dilihatkan Ryan yang sedang serius latihan. Lalu Keam mencoba menyaksikan di bangku penonton paling belakang. Betapa terkejutnya bahwa Clara adalah pengganti dirinya, apalagi terdengar kabar sosok pengganti dirinya atas rekomendasi Ryan terhadap Bu Martha.

Seusai latihan drama berakhir, semua pemain dan anggota club drama yang menonton bersorak dan tepuk tangan. Tak terkecuali Keam, yang membuat terkejut orang-orang seisi ruangan yang mendengar suara tepuk tangannya dari arah belakang. Termasuk Ryan.

Di belakang panggung.

“Hai, Can I talk to you ?” Sapa lembut Keam kepada Ryan.
“Hei...” Ucap Ryan, terlihat wajahnya yang sedikit tidak bersemangat mengetahui kedatangan Keam.
“Karaktermu semakin kuat dalam peran.” Puji Keam.
“Hhmm, yeah.” Jawab Ryan singkat.
“Aku harus bicara denganmu !!” Ucap Ryan sedikit gugup.
“Bukankah kita sedang melakukan itu.” Potong Keam.
“Ini penting.” Kata Ryan.
“Kelihatannya begitu.” Ucap Keam.
“Aku dapat melihat rasa sakit di matamu, dan aku tahu betapa keras kamu mencoba. Kamu berhak memiliki lebih banyak. Aku dapat merasakan dan aku simpati. Dan aku takkan pernah mengkritik.” Perkataan Ryan panjang lebar.
“It's okay, kamu tidak ada waktu untuk menjenguk dan menghiburku, aku tak peduli.” Ucap Keam.
“Aku tak marah, aku tahu kamu sibuk dengan semua ini.” Tambah Keam.

Perbincangan semakin terdengar serius. Ryan tak bergerak dari tempatnya berdiri. Sedangkan Keam hanya membujur kaku, menahan kaki kanannya yang bersandar pada sebuah tongkat dan mendengarkan Ryan dengan seksama.

“Aku hanya tidak bisa hidup dalam kebohongan lagi, kamu tidak akan pernah tanya kenapa.” Ucap Ryan.
“Maksudnya?” Keam balik tanya.
“Aku dan Clara, tidak hanya berpasangan dalam peran. Aku mencintainya.” Ryan sesekali terbata.
“Hmm...”
“Aku hanya tidak habis pikir. Kamu tahu perempuan itu sangat licik terhadapku.” Keam terdengar sinis.
“Yeah, I know.”
“ Itu kenapa kita harus berjalan masing-masing.”
“Apa yang kau maksud ?” Celah Keam, seraya menarik tangan Ryan.
“Dengar, kita sudah tak bisa bersama sekalipun sebagai sahabat.” Ucap Ryan, perlahan melepaskan pegangan tangan Keam kepadanya.

Keam begitu terpukul. Dadanya seketika sesak menahan sakit. Nafasnya tidak beraturan. Matanya menahan agar airmata tidak jatuh. Berpikir dengan seksama, mencoba mengerti ucapan Ryan satu persatu. Bibirnya terkunci.

“Kehilanganmu tidak menyakitkan bagi ku, terlebih aku bersama perempuan yang ku cinta. Ini tidak akan menyakitimu juga, karena kamu dapat melupakan semua dengan segera.” Ryan memperjelas kata-katanya.
“Yup, Aku rasa begitu.” Ucap Ryan seraya mengelus rambut ikal sebahu Keam yang tergerai.
“Goodbye.” Tambahnya.

Ada kenyataan dan ada realitas, dan ada beberapa hal yang lebih nyata daripada yang lain. Tidak sulit untuk memiliki sesuatu. Atau semuanya. Kamu hanya harus tahu bahwa itu milikmu, dan kemudian bersedia melepaskannya.

“Aku tidak akan menahanmu. Aku hanya tidak ingin mengecewakanmu, kita akan berjalan masing-masing.” Ucap Keam yang terlihat tegar padahal sebenarnya sangat rapuh.
“Kamu berhak mendapat kesempatan pada cinta, aku tidak yakin aku pantas.” Ryan meyakinkan.
“Tidak ada yang tersisa untuk dikatakan. Tapi ada cara lain selain mengucapkan Goodbye.” Kata Ryan. Kemudian mengecup kening Keam.

November...
Lalu ada orang-orang lain, orang-orang yang menjalankan sejauh mereka dapat. Sehingga mereka tidak harus melihat mereka sendiri.

Waktu berlalu. Bahkan ketika tampaknya tidak mungkin. Bahkan ketika setiap kata, dari nadi di tangan sakit seperti denyut darah di belakang memar. Itu berlalu tidak merata, aneh dan menyeret ketenangan, tetapi tidak menyebarkannya. Bahkan bagi Keam. Dia tak pernah bisa melupakan kata-kata Ryan terhadapnya.

“Jadi mungkin ini adalah neraka. Aku tidak peduli. Aku akan mengambilnya.
Aku di sini dan mencintaimu. Aku selalu mencintaimu dan aku akan selalu cinta kamu. Aku sedang berpikir tentang kamu, melihat wajahmu dalam pikiranku, setiap detik yang kulewatkan.” Desis Keam.

“Hmm, mungkin ini benar-benar yang terakhir.” Ucap dalam Keam.

Setelah drama dipentaskan dan kelulusan diumumkan, Keam hanya menghabiskan waktu di rumah. Keam mencoba menghubungi Ryan untuk mengucapkan selamat atas keberhasilannya dalam pentas drama. Namun tak ada jawaban. Keam berusaha menghampiri Ryan ke rumahnya.. Tapi apa yang gadis itu dapat. Ryan sudah tidak tinggal di rumahnya lagi. Dia dan keluarganya pindah ke Paris, Perancis.

“Non.” Nanny menyentuh pundak dan membuyarkan lamunan Kea di sebuah kursi di kamar.
“Di zaman modern kita, ketika Anda menelepon seseorang dan tidak dapat menemukan nya, Anda dapat cukup yakin bahwa dia bisa mendapatkan pesan. Tapi jika dia tidak menelepon Anda kembali, biasanya itu berarti dia tidak ingin ditemukan.” Kata Kea.


...TO BE CONTINUE


Cerita Pendek Karya
CHAIRUNISA ZULFAQAR :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar