PART II
Summer, kind of wonderful.
Musim panas, jenis keindahan.
Pukul delapan pagi, terlalu pagi untuk bangun, apalagi untuk melamun. Perkataan Fabian masih terekam jelas di telinga dan pikiran Kea. Jawaban Fabian atas pertanyaan Kea sontak saja membuat Kea terkejut. Siapapun tak mengetahui, Ayahanda dan Bunda Kea, bahkan Nanny orang terdekatnya pun tak tahu akan hal yang satu itu.
“Kamu siapa?” Tanya Kea terhadap Fabian.
Fabian tak langsung menjawab, padangannya jauh menerawang.
“Hmm, apa yang harus aku katakan, aku bukan pangeran berkuda putih yang datang mempersembahkan mawar putih kepada sang permaisuri dan mengajaknya menari di musim panas yang hangat. Tidak, semua itu tidak aku lakukan kepadamu.” Ucap Fabian.
“Itu mengapa aku hanya bisa bilang bahwa aku adalah Fabian.” Tambahnya.
Kata-kata itu berulang-ulang kali berputar di kepala Kea. Bahkan Kea acuh terhadap semua kegiatannya dengan hanya membuang waktu memikirkan hal itu selama satu minggu ini. Sudah begitu, Fabian tahu persis di mana letak rumah Kea saat mengantar Kea pulang dengan kondisi kaki Kea yang terluka, dan dengan cara menggendong Kea di punggungnya. Sesampainya di rumah, Nanny berkata “aduh Si Non malam mingguan sama pacarnya.” Sontak, Kea hanya bisa menaikkan alis.
Ayahanda dan Bunda juga tidak seperti biasa, yang selalu protektif terhadap siapapun lelaki yang bersama dengan anak gadisnya. Sampai di rumah dangan kondisi digendong Fabian, Bunda baru saja keluar dari mobil, “Lhoo, Kea? Kamu kenapa sampai gendongan begitu?” Tanya Bunda seraya menghampiri Kea dan Fabian.
“Ini nih Bunda, orang ini yang…”
“Kea, nggak baik menyebut pacar sendiri dengan sebutan orang ini.” Ucap Bunda.
Kea terperangah mendengar ucapan Bunda. Bunda tidak surprise dengan kehadiran Fabian, begitupun Nanny. Berbagai pikiran berkecamuk di kepala Kea dan dia hanya diam seribu bahasa.
“Ada yang aneh dalam hal ini.” Gerutu Kea.
Sabtu ini Kea berencana pergi ke Ballet’s Studio untuk berlatih tari. Selama Kea mandi, Nanny membantu merapikan dan menyiapkan apa-apa yang dibutuhkan Kea untuk berlatih.
“Nanny..” panggil Kea.
“Iya Non..” sahut Nanny.
“Nanny, aku sudah selesai mandi, aku ingin kamu menata rambutku seperti saat aku SMA dulu, okay!! Perintah Kea.
“Tidak seperti biasa Non, apa rencana Non Kea dengan hal ini.” Tanya Nanny penuh selidik.
“You know, sometimes aku sangat rindu dengan usia ku saat itu. Dan saat ini aku ingin menari dengan koreografi pertama yang ingin aku ciptakan setelah cedera itu.” Cerita Kea.
“Nanny selalu percaya bahwa Non Kea adalah gadis periang yang cantik dan optimis.” Ucap Nanny.
“Thanks Nanny.” Sahut Kea.
Sementara mereka asyik mengobrol, Nanny tetap berkonsentrasi menata rambut Kea di meja rias kamar Kea yang terletak di lantai dua rumah. Kamarnya tenang dan terbuka, berdinding merah muda, dan menghadap ke taman belakang rumah yang dihiasi kebun mawar putih yang dirawat Nanny. Nanny selalu meletakkan mawar putih di meja rias Kea, setiap pagi. Oiya, Rambut sewaktu SMA yang dimaksud Kea adalah ikal di bagian bawah dan sebahu.
“Nanny..” panggil Kea pelan.
“Hmm, iya Non…” sahut Nanny.
“Apa tanggapan mu tentang Fabian?” pertanyaan itu terlontar dari bibir lembut Kea.
“Apa Non Kea sedang meragukan lelaki tampan itu?” Celoteh Nanny.
“Haa…haa, tidak, apa pertanyaanku terdengar seperti gurauan Nann?”
“Tidak, tentu tidak, Nanny kagum karena Non Kea sangat pandai memilih lelaki seperti Nak Fabian, yang tidak hanya tampan, tapi juga cerdas dan bertanggung jawab.”
“Oo, My God, Nanny berkata Nak Fabian.”
“Aku tidak memilihnya!” Jawab Kea seadanya.
“Sudahlah Non, lagipula Bunda juga memberi sinyal baik terhadap Nak Fabian.” Tambah Nanny.
“Sungguh, aku hanya tidak mengerti apa yang sedang terjadi dalam hidupku, sungguh ini kenyataan atau aku sedang bermimpi Nann?” Ucap Kea.
“Ini kenyataan Darling.” Jawab Nanny.
“Tapi…” Sela Kea.
“Sudah, Non Kea nggak usah bingung, Nanny akan beritahu satu rahasia, tapi Non jangan marah ya?” Rayu Nanny.
Ayahanda, Bunda termasuk Nanny sudah tahu Non menjadi pacar Nak Fabian sejak satu bulan yang lalu.
“What? Tapi…” Kea malah menjadi semakin bingung.
“Iya, kalian backstreet kan?! Tapi Nak Fabian yang jantan itu datang ke sini meminta ijin untuk jadi pacarnya Non Kea kepada Ayahanda dan Bunda Non.
“Fabian curang, bagaimana bisa dia mencuri hati orang di rumah ini tanpa sepengetahuanku, tanpa kusadari.” Celoteh Kea pelan.
“Nggak usah bingung sayang.” Ucap Bunda yang tiba-tiba ikut nimbrung dengan obrolan Kea dan Nanny.
“Bunda…”
“Fabian memang sengaja merahasiakan semua ini dari kamu. Katanya sebagai hadiah untuk kamu. Makanya dia selalu ke sini pas kamu nggak ada. Jangan marah sama dia ya. Ini untuk kalian juga kan?” Ucap Bunda.
Kea mengerutkan kening. Lagi-lagi dia diam seribu bahasa. “Bunda pergi duluan ya sayang.” Ucap Bunda sambil mengelus pipi anak gadisnya dan meninggalkan Kea dan Nanny berdua kembali. Dan beberapa menit kemudian, laju mobil Bunda terdengar semakin jauh.
“Selesai.” Kata Nanny.
“Thanks Nanny.” Kata Kea sambil mengecup pipi kiri Nanny.
“Non..” panggil Nanny.
“Ya..” Kata Kea.
“Apa kau melupakan sesuatu?” Tanya Nanny.
“Hmmm, apa lagi?” Jawab Kea Keheranan.
“Ini.” Ucap Nanny sambil menunjukkan headband berbentuk pita berwarna pink di tangan kanannya.
“Ooo…Great Nann.” Teriak Kea.
“Thanks.” Kata Kea sambil mengecup pipi Nanny lagi, tapi kali ini yang sebelah kanan.
Kea siap pergi ke Ballet Studio. Dan sesuai keinginan untuk tampil selayaknya SMA. T-Shirt merah muda tanpa corak, rok jeans mini, dan tidak lupa tatanan rambut terbaru ditambah headband. Tidak lupa tas besar berisikan perlengkapan menari.
Pukul dua belas siang.
Kea sudah berada di Ballet’s Studio. Betapa terkejutnya Kea, dia melihat Fabian keluar dari salah satu ruangan tari. Fabian tidak menyadari keberadaan Kea. Posisi Kea setengah mengintip penuh selidik terhadap Fabian. Lalu Fabian mulai berjalan ke arah persembunyian Kea, Kea berbalik membelakangi Fabian agar tak diketahui Fabian, dan itu berhasil.
Berbagai pertanyaan berkecamuk di dalam benak Kea. Sampai-sampai dia tidak fokus dalam melangkah. “Ugh, dubraakkk, aww ...” keluh Kea. Dia menabrak pintu kaca, ruangan tari yang akan dibuatnya latihan. Tanpa menengok sekeliling Kea lantas masuk ke ruangan, lebih-lebih Kea takut ketahuan Fabian. “I’m so stupid, so so so so so so so so so stupid.” Gerutu Kea, tapi tentu saja sambil cengengesan mengingat tingkahnya itu. “he he he he …”
Di ruangan ballet.
“Kita membuat nasib kita sendiri, dan memanggil nasib mereka. Dan apa alasan yang lebih baik untuk memilih jalan daripada berkeras pada takdir kita itu? Tetapi pada akhirnya, kita semua harus hidup dengan pilihan kita, tak peduli siapapun. Aku harus, harus, ayo Kea ciptakan koreografi pertamamu.” Ucap Kea menyemangati diri sendiri.
“Okay, kita mulai ini perlahan Kea.” Kata Kea sambil melakukan pemanasan sebelum menari ballet. Tangan kanannya bersandar pada tiang, dan tangan kiri menekuk kaki kiri ke belakang ke arah atas. Dan sebaliknya. Hingga beberapa kali. Hingga saat dia siap, untuk…..
Kea memulai menggerakkan kaki layaknya yang dilakukan ballerina. Mencoba mengangkat tumit. Perlahan. Tapi apa yang terjadi. “Oo… My God…Sulit, dan aku tak percaya aku tak bisa melakukannya lagi hingga saat ini.” Keluh Kea. Jangankan membuat koreografi, memulai saja Kea tak bisa. Kaki mungilnya belum mampu bekerjasama untuk menari setelah cedera itu. Tapi Kea belum menyerah.
Kea berputar, tetap tak tampak seperti ballerina. “The angrier I gets, the more ingenious I am.” Ucapnya kekeuh. Dia terus mencoba, mencoba . Lalu Kea lelah, dia terduduk lemas di tempatnya berputar, di tengah ruangan. Kea mulai tersedu, sambil menekuk kedua kakinya, melipat tangan kanannya di atas lutut, sedangkan tangan kirinya menyilang ke depan, menundukkan wajah, kemudian menangis. “Mengapa aku memiliki imajinasi ini? Ini satu-satunya yang aku punya!” Ucapnya seraya menangis. Hiks…hiks…hiks…. “Kadang-kadang hal yang paling penting untuk diketahui adalah saat untuk keluar dan kapan harus menyerah.” Menegaskan dirinya.
Tak .. tok … tak … tok … tak … suara langkah seorang lelaki, ditandai dengan iramanya yang tegas dan konsisten, masuk ke dalam ruangan. Menghampiri Kea, kemudian berjongkok di depan tubuh Kea yang membungkuk itu. Jari-jari tangan kanan orang itu menyentuh tangan kiri Kea yg menyilang ke depan. “Aku melihatmu sekilas, tapi tampaknya tidak terlalu manis. Aku melihat yang disajikan begitu dingin, kau tau mengapa?” tanya orang itu.
Tapi tak ada jawaban dari Kea.
Hamparan padang ilalang luas dan menguning. Berkilauan memantulkan cahaya matahari. Silau, namun indah seperti emas mengkilat. Kea berlarian.
“aaaaa....a....aaaaaaaaa...aaa...., eeeememmmmmm.” senandung Kea pelan.
Berputar. Lalu Kea terus berlarian. Ke sana, ke mari. Kemudian mulai memasuki sebuah wilayah baru, penuh pepohonan tinggi menjulang dan menjauh dari padang ilalang tersebut. Terperangah dia, melihat sesosok lelaki.
Danau...
“Beautifull.” Kata Kea tersanjung.
Rumput hijau tumbuh di sekitarnya. Dikelilingi pepohonan besar. Bunga liar berwarna-warni juga tumbuh menghiasi tepi danau. Dan yang lebih menarik adalah daun-daun beterbangan. Angin semilir bertiup menerpa rambut Kea yang tergerai.
“Ini masih February kan, dan matahari itu seperti Summer di bulan Juni, indah serta menghangatkan...” Bisik Kea..
Laki-laki itu menengok dan Kea tidak terkejut bahwa itu adalah Fabian. Terengah-engah Kea tetap berlari menghampiri Fabian yang berdiri di pinggir danau. Fabian membuka kedua tangannya dan menegapkan dadanya seolah memasang badan untuk dipeluk. Dan anehnya Kea benar-benar berlari untuk memeluk Fabian. Berpelukanlah mereka.
Tidak sampai di situ, Fabian dan Kea menari di sekitar danau. Dan Kea sungguh cantik mempesona, dalam balutan gaun dan sepatu ballet merah muda. Langkah demi langkah, Irama demi irama. Kea sungguh-sungguh tak percaya, dirinya sanggup menari layaknya Odette dalam Swan Lake.
Mereka terus menari, tiba-tiba Kea tersenyum sumringah, namun menghentikan langkahnya dalam tarian. Kea berputar, berhenti lagi. Dan berdiri berhadapan saling bergandengan dengan Fabian.
“Sekarang kita di sini. Sekarang kita sudah sampai sejauh ini, tunggu sebentar, tidak ada yang takut, karena aku persis di sebelah mu. Untuk semua hidupku. Aku milikmu” Ucap Fabian seraya mengecup kening Kea.
Kea hanya diam seraya menutup matanya.
“Are you okay ?”
“emmm...O....Please, itu mustahil.” Kata Kea. Lalu dia tersadar dia masih berada di ruangan tari. Kea hanya bermimpi. Mimpi itu.
“Heeiii, you okay girl ?”
“Yeah, aku baik-baik saja.” Sahut Kea.
Kea mulai menengadahkan kepalanya. Kaget dan terperangah mereka. Ya mereka, Fabian dan Kea. Lelaki yang masuk ruangan tari itu adalah Fabian. Dan Mereka sama-sama terkejut luar biasa.
“Apa yang kamu lakukan di sini ?” Bentak Kea kepada Fabian.
“Hmm, A....a...aku … aku mau menagih janji kepadamu !” Jawab Fabian gugup.
Ada satu kesepakatan yang terjadi dalam pertemuan pertama mereka. Kalau Fabian dapat menaklukkan Bunda dan Ayahanda Kea, Fabian boleh mengajak Kea berkencan layaknya pasangan.
Fabian bergegas pergi meninggalkan Kea. Tapi Kea memanggilnya.”Fabian.........kamu bukan sekedar untuk menagih janji, tapi kamu tak tahu siapa yang kau hampiri.” Ucap Kea.
“Dan thanks, kamu melenyapkan mimpi buruk tadi.” tambah Kea.
Fabian mengacuhkannya, dan tetap bergegas pergi.
“Hanya saja, aku tak tahu mana bagian terburuknya.” celoteh Kea dalam hati.
...TO BE CONTINUE
Tidak ada komentar:
Posting Komentar