PART I
I wish I had an origin story about you.
Aku berharap aku punya cerita tentang asal-usul Anda.
Pukul sepuluh lima belas menit, pagi yang terik, suasana yang cerah, di tengah keramaian. Hari sabtu, hari nge-date sedunia. Tapi tidak bagi gadis mungil berusia dua puluh tahun, berambut lurus, hitam dan panjang bernama Keamira, atau biasa dipanggil Kea.
Kea tampak asyik berlenggak lenggok dengan dress minimalis bercorak bunga full color tanpa lengan, wide belts semakin membuat tubuhnya terlihat mungil, kaki jenjangnya yang indah disandingkan dengan sandal model gladiator yang sedang nge-trend, classic handbag dengan warna senada di tangan kiri dan botol raspberry juice di tangan kanan. Pandangannya lurus menyusuri tepi jalan menuju taman. Tempat yang memberikan kedamaian di hatinya. Paling tidak Kea sanggup menghabiskan ratusan halaman novel di tempat itu.
Sebenarnya Kea bisa saja menghabiskan waktu membaca novel-novel idamannya di rumah. Secara Kea adalah anak tunggal. Ayahanda dan Bundanya adalah pembisnis terkenal di kota. Sekalipun memiliki anak buah tetap saja tidak bisa menghabiskan akhir pekan bersama Kea. Rumahnya terhitung tentram dan damai karena Kea hanya ditemani pengasuhnya, Nanny. Tapi taman memberikan sensasi berbeda untuknya.
“Rasanya hanya satu minggu saja aku tidak mengunjungi taman ini, tapi kenapa perubahan cepat sekali terjadi.” Ucap Kea setengah menggerutu. Itu dikarenakan bangku tempat biasa Kea duduk menghadap kolam air mancur sudah tidak pada posisinya. Rupanya taman tersebut baru saja selesai direnovasi.
“Yahh, kurasa di sini jauh lebih enak.” Kata Kea, sambil duduk di bawah pohon rindang dan di samping kebun mini mawar putih yang masih kuncup. Dan yang paling penting adalah posisinya berjauhan dari para pasangan yang sedang kasmaran.
Novel yang dibaca Kea adalah “American Gods” karya Neil Gaiman. Ada salah satu kutipan yang sungguh menarik dipikirannya “I believe that life is a game, that life is a cruel joke, and that life is what happens when you’re alive and that you might as well lie back and enjoy it.” and “I believe that all men are just overgrown boys with deep problems communicating.“ Artinya "Saya percaya bahwa hidup adalah permainan, bahwa hidup adalah lelucon yang kejam, dan bahwa hidup adalah apa yang terjadi ketika anda masih hidup dan bahwa Anda sebaiknya berbaring dan menikmatinya." Dan "Saya percaya bahwa semua manusia hanya ditumbuhi anak laki-laki dengan masalah dalam berkomunikasi." “Itu sungguh menyebalkan.” Desis Kea. Ekpresinya seperti membenarkan bahwa dia sangat kesal terhadap komunikasi yang dilakukan para pria.
Serius saat membaca, Kea tak lupa mencicipi bekal pemberian dari Nanny, pengasuh yang sudah mengasuhnya sejak bayi, dan mengerti sekali cemilan kesukaan Kea.
“Hhmm, yummy, Nanny ku sayang, memang baik hati.” Celotehnya pelan. Salad dari buah-buahan segar, dinikmatinya perlahan.
Beberapa jam kemudian. “Selesai juga akhirnya.” Kea meregangkan kedua tangannya. “Lelah juga ngendon di sini sesorean.” Dibuangnya nafas panjang penuh kelegaan, lalu diliriknya jam di tangan kiri.
“Hah?! Setengah lima!” teriaknya kaget. Dengan gerak cepat Kea merapikan novel dan tempat makan sisa cemilannya. Maklum saja Kea begitu, karena dia terbiasa sampai rumah pada pukul setengah empat sore. Mundur satu jam dari kebiasaannya.
“Kea.”
“Siapa itu.” Pikir Kea. Jantungnya berdebar tak beraturan. “Masa’ iya, langit masih terang tapi hantu sudah berkeliaran. Bukan tanpa alasan dia berpikir tidak-tidak, taman sore itu memang sudah terlihat sepi.
“Kea.”
“Ah, suara itu lagi.” Desisnya ketakutan. Kea berdiri terpaku, dia tak berani menengok ke arah asal suara.
Tak ada siapapun. Satu-satunya manusia yang berdiri bersandar di samping pohon adalah seorang lelaki berkacamata asing yang tengah asyik mengotak-atik handphone di tangannya. Dan mustahil sekali dia orang yang memanggil Kea. Seumur-umur Kea belum pernah melihat lelaki itu.
Kea mencoba memberanikan diri dengan mengacuhkan suara tadi. Dan melanjutkan rencananya untuk pulang. “Kenapa juga itu hantu menggoda aku.” Ucap Kea sambil cengar-cengir.
“Kea.”
Suara itu lagi.
Kea mulai kesal karena merasa dipermainkan. Dengan garang Kea menoleh ke belakang. Bukan ke taman, tapi dia menantang langit sore yang mulai dihiasi pemandangan matahari terbenam.
“Heh, keluar kalau berani!” ucapnya lantang.
“Hi…hi…hi….”
“Eh malah ketawa!” Ayo keluar!” Aku tak takut, tantang Kea.
“Ha…ha…ha…. Aku udah keluar dari tadi, lagi. Itu kalau kamu anggap aku penampakkan.” Kata lelaki asing yang dilihat Kea tadi.
“Kamu.”
“Iya.”
“Siapa?”
“Fabian.”
“Fabian, Fabian, seingatku, aku tak pernah punya teman bernama Fabian.” Kea berusaha mengingat-ingat.
Nasihat Nanny terngiang-ngiang di telinganya. “Zaman sekarang Non Kea harus hati-hati. Apalagi Non Kea itu cantik. Penculikan, pemerkosaan, pembunuhan sudah jadi hal biasa yang dilakukan orang-orang nekat. Jangan mudah percaya sama orang yang baru dikenal. Apalagi yang keren dan keliatan kaya, biasanya itu hanya kedok Non.” Kata Nanny yang selalu bernasihat ria kepada Kea.
Sementara Kea berpikir, lelaki yang mengaku bernama Fabian itu mulai menghampirinya. Lima langkah lagi Fabian akan dengan mudah menggapai Kea.
“Ayolah, berpikir!” perintah Kea pada dirinya.
Tiga langkah…
“Dasar bodoh.” Ucapnya dalam hati.
Dua langkah…
“Laaaaarrrrrrrrrrrrriiiiiiiiiiiiiiii!”
Dan perintah itulah yang terbesit lantas dilakukannya.
“Heiiii… jangan lari!”
“Kea, berhenti…!” teriak Fabian. “Damn, kecil-kecil cepet juga larinya.” Gumam Fabian dalam hati. “Kea, berhenti.” Panggilnya lagi.
Hal-hal buruk terus membayangi pikiran Kea, dia mempercepat larinya. Sesampainya di rumah dia akan minta tolong Nanny yang dengan senang hati akan mempersenjatai dirinya dengan sapu dan kemoceng untuk melawan orang asing itu. Sayangnya, semua itu hanya angan-angan. Gadis berperawakan Belanda Jawa itu terlalu lelah dan lapar. Pandangannya sedikit kabur dan tanpa sengaja kakinya tersendung batu.
“Aduh,” Kea jatuh tersungkur tepat di pintu keluar taman. Dia cepat-cepat berdiri, tapi dadanya sesak. Perlahan dia berbalik lantas duduk dengan lutut setengah ditekuk. Darah mengucur deras dari lututnya.
“Tuh kan jatuh deh. Kamu sih lari-lari segala. Merepotkan orang saja.” Kea tersentak. Fabian sudah berada berdiri di dekatnya. Ketakutan mulai merayapi hati dan pikiran Kea. “Tolong selamatkan hamba Ya Tuhan.” Doa Kea dalam hati.
Fabian semakin mendekat. Dia berjongkok di samping Kea. Diperhatikannya gadis mungil yang sedang memejamkan mata di depannya itu. Sekonyong-konyong Kea merasa tubuhnya diangkat. “Masa iya aku sudah mati, secepat inikah? Lantas bau harum apa ini?” Gumamnya dalam hati.
Perlahan Kea mulai membuka mata. Kea tidak segera menyadari apa yang terjadi. Tapi begitu sadar dirinya tengah berada dalam gendongan orang yang sama sekali tidak dia kenal, Kea langsung menjerit dan memberontak.
“Apa-apaan sih, gendong-gendong segala! Lepasin! Kea terus menjerit dan meronta dalam bopongan Fabian. “Heh, bisa diam, nggak? Nanti kita bisa jatuh bersama, tahu!” celoteh Fabian.
“Nah, di sini kan enak.” Fabian menurunkan Kea di kursi taman, di bawah lampu hias yang mulai menyala di sekeliling taman.
Kea benar-benar pasrah sekarang. Dia tak mungkin lari dengan lutut terluka. Gadis itu terus saja diam tanpa berhenti memikirkan hal-hal buruk yang akan terjadi.
“Kok diam?” Tanya Fabian pada Kea. “ Ka…ka….kamu, tidak akan memperkosaku kan?” Tanya Kea terbata sambil menelan ludah. Fabian memandangnya, lantas, “Ha…ha…ha… dapat pikiran konyol darimana?” celoteh Fabian lembut.
“Dari Nanny.” Tadinya Kea mengira, Fabian akan bertanya siapa Nanny? Tidak disangka lelaki tampan berperawakan tinggi itu malah ketawa lagi. “Ha…ha…ha…ha…ha… Nanny emang suka aneh-aneh pikirannya, tapi lebih aneh lagi kamu percaya gitu aja.”
Kea terdiam kaku. “Kenal Nanny?” Tanya kea pada Fabian. Fabian tak langsung menjawab, kini matanya tertuju pada luka di kaki kea. “Punya tisu?” Tanya Fabian. “Nanny?”
“Punya tidak?” Suara Fabian meninggi.
“Punya”.
“Mana!” Fabian merendahkan suara.
Kea merogoh tasnya dan menyerahkan tisu ke Fabian. Setelah itu Fabian berdiri, pergi ke air keran di sudut taman, dan kembali lagi dengan tisu basah di tangan.
“Tahan ya, agak perih sedikit.” Dengan lembut Fabian membersihkan luka Kea. Sebentar-sebentar Kea meringis, tapi ditahannya sakitnya. Setelah lukanya bersih, Fabian mengambil sapu tangan dari saku celananya. Ditiup-tiupnya luka Kea hingga kering. Lalu diikatnya sapu tangan itu hingga luka Kea terlindung.
“Jangan!!” Sela Kea.
“Kenapa? Sakit ya?” Tanya Fabian.
“Sapu tanganmu bisa kotor!” Ucap Kea.
Fabian menghentikan kesibukannya. Ditatapnya Kea tajam.”Kamu pikir, aku Cuma punya satu sapu tangan? Kalaupun aku cuma punya satu, aku masih bisa beli yang baru. Tapi kalau kakimu yang luka itu, bisa infeksi dan diamputasi, kamu ngga akan bisa nemuin kaki yang sama di toko mana pun. Paham ?”
I….iya, paham.” Jawab Kea gugup.
“Nah, selesai. Nanti di rumah minta tolong Nanny lukanya dibersihkan dengan antiseptic.”
“Kamu siapa?” Tanya Kea dengan tatapan penuh selidik.
“Fabian.” Jawabnya singkat.
“Kamu tahu apa yang aku maksud, bukan nama yang aku tanyakan.”
Fabian tak langsung menjawab, padangannya menerawang.
...TO BE CONTINUE
Tidak ada komentar:
Posting Komentar