PART IV
After everything that's happened - or hasn't happened - I wanna make it special.
Setelah semua yang terjadi - atau belum terjadi - Aku ingin membuatnya istimewa.
“Ddrrrttt drrtt….. Because of you ………Drrttt ddtrtt………………” Getaran disertai suara merdu Keith Martin. Nada dering handphone Kea yang menandakan pesan masuk.
“Dear Kea,
Aku akan segera sampai di tempatmu dalam dua puluh menit.”
…Fabian…
“Okay, bukan surprise lagi kalau seorang Fabian tahu segalanya tentang ku, tidak terkecuali no handphone ku.” Celoteh Kea.
Kea menepati janji, sebagai gadis yang berkencan dengan lelaki bernama Fabian. Tidak banyak bicara namun sangat terlihat bahwa perasaan gugup dan gelisah menghantui batin Kea. Bayangkan saja Kea harus pergi dengan orang asing yang tahu segala tentangnya, tapi Kea tak tahu apa-apa tentang lelaki itu.
Tapi selalu ada Nanny yang menjadi malaikat penolong Kea. Nanny bertugas banyak untuk malam ini, selain biasa menata rambut gadis mungilnya. Perempuan berkulit putih setengah baya yang sedikit gemuk itu, juga turut merekomendasikan beberapa gaun dan sepatu.
Setelah beberapa lama memilah-milih, akhirnya jatuh pilihan pada one shoulder long dress berwarna abu-abu, dengan detil pita besar di bagian bahu sebelah kiri dan belahan di bagian depan bawah hingga selutut. Sepatunya pun senada, namun dimeriahi glitter berkilauan. Rambutnya ala ponytail dan disematkan aksesoris kecil berbentuk kupu-kupu bermatakan swarovski.
Teeeeeeeettt …… Suara klakson mobil terdengar di halaman rumah Kea. Fabian persis berada di depan rumah Kea dua puluh menit sejak pesan darinya di baca Kea.
Saat Fabian keluar dari mobilnya, Kea juga muncul dari balik pintu utama rumahnya.
“Aku pikir tak perlu masuk ke dalam untuk ijin dengan Ayahanda dan Bunda, mereka tak ada di rumah. Lagipula kamu pasti lebih pintar karena sudah meminta ijin mereka sebelumnya, iya kan?!” Kata Kea cepat dan sedikit menghakimi.
“So Lovely.” Pujian terlontar dari mulut Fabian seraya tak hentinya memandangi wajah cantik Kea. Fabian baru saja mengacuhkan ucapan Kea soal ijin Ayanhanda dan Bunda. Kea hanya bisa memasang wajah masamnya.
Tapi jangan meragukan cara berpakaian Fabian, dia juga begitu mempesona untuk acara malam berdua Kea. Label setelan jas yang dikenakan Fabian sedikit jelas menandakan kepribadiannya, tentu saja kelas sosialnya juga.
“Thanks.” Kea menjawab pujian Fabian.
“Where we will going?” Tanya Kea.
“Bukan ke Nestled tinggi di Himalaya Barat, yang terkenal dengan padang bunga alpine endemik dan keindahan alam yang luar biasa. Valley of Flowers, India. Aku berharap kita ke sana bersama suatu saat nanti. Akan ku bawa kau di masa depanku.” Ucap Fabian.
“Tapi tidak malam ini.” Tambahnya.
“Berusahalah.” Sahut Kea tersenyum sinis.
Fabian membukakan pintu mobil untuk Kea. Dia menyetir mobil itu sendiri tanpa seorang supir. Sebelum itu, Fabian telah menutup mata Kea dengan selendang. Ya, tentu saja disertai banyak pertanyaan dari Kea yang tidak bisa menerima apa-apa dengan mentah. Tapi hal itu bukan kendala berarti karena pada akhirnya Kea menurut saja demi menepati janji. Ketakutan Kea hanyalah dia tak mau dibilang melanggar janji. Entah apa yang direncanakan lelaki tampan itu pada Kea.
Tiba di sebuah ruangan…
“I can’t see anything. What we will doing here?” Kata Kea terhadap Fabian yang tidak terlihat di mana posisinya. Kea berdiri di sebuah ruangan gelap gulita. Selendang penutup mata Kea sudah dilepaskannya, namun Kea masih harus beradaptasi lagi dengan kegelapan.
“Kau dapat memanfatkan lilin dan sedikit cahaya dari api yang tepat berada di depanmu, cahayanya yang akan menunjukkan ke mana kau harus melangkah !” Perintah Fabian terdengar samar.
Kea mencoba meraba dengan tangannya. Dinyalakannya tiga batang lilin yang di tempatkan pada cawan cantik berbentuk angsa yang terbuat dari tembaga. Lilin putih nan tinggi dan ramping. Berjalan Kea menyusuri sebuah lorong. Ohh … tidak bukan sebuah, tapi lorong panjang. Lorong demi lorong. Kea seketika menghentikan langkahnya, saat tampak sebuah pintu besar dengan ukiran cantik berasal dari Eropa, mungkin Italia.
“O… My God, ini melelahkan bukan.” Gerutu Kea seraya membuka pintu besar tadi.
Tiba-tiba angin berhembus dari arah atas sehingga memadamkan api pada lilin di genggaman Kea. Tapi ruangan itu tidak segelap sebelumnya.
“Ugh………” Desis Kea. Cahaya lampu sorot menyilaukan matanya. Cahaya itu menerangi dirinya di remangnya ruangan.
Tidak hanya Kea, tapi juga Fabian yang nampak duduk manis di depan sebuah piano hitam yang jaraknya cukup jauh dari posisi Kea berdiri. Kea menghampiri Fabian, langkahnya dibantu dengan cahaya lampu sorot yang setia mengikutinya. Saat Kea melangkahkan kaki di medan yang sedikit menurun, suara piano permainan Fabian berdenting. “Don’t sleep away, Daniel Sahuleka”.
“Tomorrow's near, never I felt this way
Tomorrow, how empty it'll be that day
It tastes a bitter, obvious to tears that I hide
To know that you're my only light
I love you, oh I need you
Oh, yes I do
Don't sleep away this night my baby
Please stay with me at least 'till dawn
It hurts to know another hour has gone by
And every minute is worthwhile
Oh, I love you
How many lonely days are there waiting for me
How many seasons will flow over me
'Till the emotions make my tears run dry
At the moments I should cry
For I love you, oh I need you
Oh, yes I do”
Kea menaiki beberapa anak tangga ke sebuah panggung. Sesampainya di atas, Kea baru menyadari bahwa dia baru saja melewati bangku-bangku penonton. Mereka sedang berada di sebuah ruangan megah, tepatnya di panggung seperti concert hall.
Fabian mulai berdiri dan menghentikan permainan pianonya. Menghampiri Kea yang terpukau heran. Kea masih memandangi sekeliling, nampak patung-patung perempuan dengan berbagai pose, memegang berbagai macam alat musim. Nampak juga lukisan Mozart di sana. Sangat anggun, semuanya berwarna keemasan.
“Mencintailah bagaikan tak pernah disakiti, menarilah bagaikan tak seorangpun menonton. Pegang tanganku, menarilah denganku !” Kata Fabian berbisik lembut seraya menyentuh tangan gadis cantik itu.
“Hhm, No, I cann’t. Kamu melihat bahwa aku kesulitan” Ucap Kea.
“Berikan waktu untuk hatimu, rebut detikmu, bangkitkan setiap menit dalam dirimu. Menangkan dan Biarkan kau mengguncang duniamu.” Rayu Fabian kepada Kea.
“No music, dan aku sudah tak punya harapan untuk itu.” Jawab Kea sekenanya.
“Harapan itu seperti jalan di dalam hutan. Di sana tak pernah ada jalan. Tapi jika banyak orang menjalaninya, jalan itu menjadi ada.” Ucap Fabian.
“Hmm.” Gumam Kea.
Fabian dengan sigap mengklik sebuah lagu dari IPhone 3GS miliknya dan meletakkannya di atas piano tadi. “Halo, Beyonce” berkumandang dalam ruangan megah yang hanya diisi mereka berdua.
Saat lagu dimulai, Kea tampak masih canggung. Namun sanyum Fabian seketika membuat Kea yakin dan percaya.
Gerakan awal, perlahan demi perlahan. Kea berputar lalu mengangkat tumitnya.
“Woww…” Desisnya seraya mengangkat tumit, berputar mengalun, sesekali mengibaskan gaunnya yang ringan. Kea mengulangi gerakan itu sekali lagi sekaligus meyakinkan diri bahwa dia telah kembali dapat menari.
Diraihnya Tangan Fabian dan menarilah mereka bersama, berdua lebih tepatnya. Diangkat tubuh mungil Kea dari belakang, di genggam pinggang Kea oleh kedua tangan Fabian. Tidak melenceng dengan ritme lagu, tarian mereka begitu memukau. Dilanjutkan dengan mengangkat Kea semakin tinggi. Saat kaki kiri Kea menekuk di bagian belakang ke arah kanan bak angsa seraya mengayun kedua tangan, dengan sedikit mendorong Fabian melempar tubuh mungil itu. Lalu ditangkap dengan posisi telentang oleh kedua tangan Fabian. Nafas mereka bersatu. Tidak hanya itu, tubuh Kea diputar mengelilingi tubuh Fabian. Hingga sampai posisi Kea dan Fabian kembali tegak dan berhadapan. Sebuah koreografi terlahir dari sebuah ritme dan melodi yang mengalun.
“Aku akan bodoh untuk percaya, tapi hanya satu malam tidak bisa begitu salah, bukan ?! Kau membuatku mau kehilangan kendali.” bisikan Kea pada Fabian terengah-engah.
“This is my job.” Jawab Fabian.
“Hahahaha.” Kea sumringah.
“Emm... Hmm...” Fabian pun tersenyum.
“Karena bertentangan dengan apa yang aku katakan sebelumnya mungkin, kamu adalah orang yang baik, sejak malam ini, telah menjalani hidup mu dengan hati-hati dan belas kasihan dan menghormati diri sendiri dan orang lain. Dan yang paling penting adalah meyakinkanku menari bahkan di panggung yang sesungguhnya, ya, sekalipun tidak ada penonton.” Tutur Kea begitu lembut.
“But... jangan mentang-mentang.” Tambah Kea.
Fabian tak lantas berkata-kata mendengar ucapan Kea yang memujinya. Wajahnya hanya terlihat memerah. Perlahan Fabian meraih tangan Kea. Kemudian menunduk seraya terlihat seperti memikirkan sesuatu. Kea hanya memasang wajah bingungnya. Selang beberapa menit, Fabian mengangkat wajahnya perlahan, lalu sebelum hendak berkata sesuatu Kea segera memotong pembicaraan.
“Apa kau punya sesuatu yang lain ?” Tanya Kea.
“Di kencan kita ini !!” Kea menegaskan ucapannya.
“Shshhsh...” Fabian secepat kilat mengarahkan jari telunjuknya ke bibir Kea. Fabian hendak mencoba mengarahkan bibirnya ke bibir Kea, keliatannya. Mungkin hanya berjarak dua cm lagi, tapi itu tidak terjadi, karena Fabian mengurungkan niatnya itu. Laki-laki itu akhirnya hanya mengecup pipi kiri Kea dengan mesra.
“Aku lapar, di mana makan malam kita ?” Ucap Kea mengakhiri.
Pukul 23.13...
“Nann, What are you doing ? Sleep on the couch?” tanya Kea kepada Nanny saat tiba di rumah.
“Of course waiting for you.” Sahut Nanny seraya mengucek kedua matanya dan menyadarkan dirinya karena dikejutkan oleh suara Kea.
“Oh.. Oke, aku ke kamar ya.” Ucap Kea. Lalu menaiki anak tangga ke lantai dua.
“Butuh sesuatu Non ?” Tanya Nanny.
“Maybe, hot water in the bathtub. Thanks.” Jawab Kea bergegas naik.
Tok … tok … tok … suara pintu kamar Kea.
“Iyaa...”
“Nanny.. belum tidur?” Ucap Kea terkejut melihat Nanny muncul di kamarnya tengah malam.
“Tentu saja belum, sebelum melihat lampu kamarmu redup.” Balas Nanny. Kemudian dihampirinya gadis mungil yang selalu dia sayang-sayang itu.
“Chamomile Tea, mengantarkanmu agar cepat terlelap.” Ucap Nanny seraya memberikan cangkir teh itu ke Kea.
“Thanks Nann.” Lalu Kea menyeruput teh itu perlahan.
“Ada apa Mrs. Kea?” Lirik Nanny ingin tau.
“Dia mencium ku …” Kata Kea. Sementara Nanny terlihat mengerutkan dahi.
“Hmm... Di pipi Nann.” Tambah Kea.
“Oke, have a nice dream baby.” Nanny menarik selimut dan membalutkannya ke tubuh Kea. Dan tak lupa memadamkan lampu kamar Kea.
Langkah kaki Nanny tedengar semakin menjauh dari kamar Kea. Tapi Kea tak lantas langsung tertidur. Kea seperti memikirkan sesuatu. Tak hanya itu, Kea sesekali membalikkan tubuh ke kanan, kemudian ke kiri di tempat tidurnya. Kea terlihat gugup dan gelisah.
...TO BE CONTINUE
Cerita Pendek Karya
CHAIRUNISA ZULFAQAR :)
lam kenal mba
BalasHapus