PART III
When will it all be so wrong? This is not how it should be. I don't know who I am anymore, what should I do.
Kapan semuanya bisa jadi kacau? Ini bukan bagaimana seharusnya. Aku tidak tahu siapa aku lagi, apa yang seharusnya aku lakukan.
Empat tahun lalu…
Bina Bangsa School…
Keam (Kim) dan Ryan (Rayen). Sepasang sahabat, paling popular di sebuah sekolah swasta di kota besar. Cerdas dan berprestasi. Ryan belajar di jurusan Exact sedangkan Keam di kelas Bahasa.
Tapi bukan dalam hal itu, alasan Keam dan Ryan menjadi popular. Drama, tarian dan musik, ketiga hal itulah mengapa mereka begitu disegani. Tak hanya itu, Keam yang cantik dan pandai menari, menolak saat terpilih sebagai pimpinan cheerleaders. Padahal hampir semua siswi menginginkan hal itu. Tapi hanya ada satu orang yang menggantikan posisi Keam, yaitu Clara Dalila. Ya, Clara adalah rival terberat Keam, jabatan pemimpin Cheers di pegang olehnya. Ryan setali tiga uang, menolak atas keberhasilannya terpilih sebagai ketua tim basket. Kedua hal itu menjadi perbincangan hangat bagi siswa-siswi di BBS. Chemestry di antara keduanya sungguh membuat siapapun akan iri hati.
Tumbuh hanya berarti satu hal yaitu kemerdekaan. Keam dan Ryan berpikir kalau itu semua hanya menjadikan mereka sebagai boneka sekolah. Tanpa jabatan itu pun, mereka sangat popular walau itu juga bukan tujuan keduanya. Prestasi selama ini yang mereka torehkan adalah apa yang benar-benar disukai, yaitu drama dan tari, sedangkan musik berkaitan erat dengan dua hal itu. Di bidang akademis keduanya juga cukup hebat, kelebihan Ryan adalah mengikuti berbagai kompetisi kimia dan fisika. Sedangkan Keam adalah penulis skenario sebuah pentas drama. Dan setiap musim adalah naskah seorang Keam yang dipertunjukkan di BBS.
“Aku tidak akan lemah lagi. Kamu tidak dapat pergi. Kamu harus tinggal di sini dan mendengarnya kali ini. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu begitu banyak itu mengkonsumsi ku. Aku cinta kamu. Aku tahu kau mencintaiku juga. Katakan padaku kau mencintaiku dan semua yang kita lakukan, semua gosip dan kebohongan dan sakit hati pasti untuk sesuatu.” Salah satu dialog yang ditulis oleh Keam.
Waktu istirahat dimanfaatkan Keam dan Ryan untuk berlatih. Di sebuah bangku taman sekolah di bawah pohon rindang yang asri, seraya bersenda gurau.
Keesokkan harinya.
Pukul 08.00 pagi, sebelum kelas dimulai...
Keam dan Ryan berjalan menyusuri lorong sekolah yang dipadati siswa siswi BBS. Seraya merangkul pundak Keam, Ryan tiba-tiba berhenti. Tepat di mading sekolah, diliriknya sebuah kertas pengumuman. Hmm, siswa siswi yang memenuhi lorong sekolah langsung melirik ke arah Keam dan Ryan. Itu dikarenakan mading itu menginformasikan pengumuman tertulis bahwa peran utama dalam pentas drama sekolah diperoleh oleh mereka berdua. Keam dan Ryan.
“Horai, hore, ...” sorakan gembira keduanya, lalu berpelukan.
“Keam, kamu tidak akan pernah menjadi seperti cantik, langsing, atau bahagia seperti kamu sekarang. Aku ingin kau membuat sebagian besar dari itu.” Ucap Ryan sambil melepaskan pelukan dan matanya setengah melirik ke Clara yang tidak jauh berdiri dari mereka berdua.
“Mereka menatap kita iri, tapi itu bukan karena kamu, itu karena lelaki tampan ini.” Tambah Ryan setengah meledek.
“ Mm, hhem... It's really funny.” ketus Keam.
“Ha...haa..haa...” Ryan tertawa.
September, 2006.
Empat bulan sebelum pementasan drama Bina Bangsa School. Di sekolah mereka, akhir tahun ajaran jatuh bersamaan dengan akhir tahun. Pentas ini rencananya akan diselenggarakan pada musim dingin di awal bulan Januari.
“Hai...” Sapa Keam pada Ryan.
“Akhir-akhir ini kau sering sekali telat ?!” Tanya Keam.
“Hmm...Ayo kita latihan.” Ryan mengalihkan pembicaraan.
Clara, kebagian peran pendukung yang cukup penting. Setelah break dari latihan inti, Keam memandangi sahabatnya, Ryan, tengah asyik berbincang dengan Clara. Tapi itu tidak sedikitpun mengganggu pikiran Keam.
Kali ini latihan dimulai lagi, bagian tersulit dari drama karena Keam harus menggunakan high heels sembilan cm. Sesekali Ibu Martha, guru pembimbing berperawakan gemuk, berkacamata dan sedikit galak mengarahkan gerak tubuh pada Keam. Namun saat Keam baru saja hendak memakai high heels tersebut. Pleeeeeeeetaaaaaaaakkk. High heels sebelah kanan yang dikenakan patah, tapi bukan hanya itu, tentu saja kaki si pemakainya juga ikut cedera.
Keam menangis, tersedu, terisak-isak saat mendapati dirinya sudah berada di rumah sakit. Dengan memandangi kakinya yang tidak lagi indah, dia harus menghadapi nasibnya kehilangan peran penting dalam drama ketika Dokter berkata dia baru bisa kembali beraktifitas normal hingga empat bulan mendatang bahkan lebih karena kondisi cedera yang begitu parah.
Di sekolah, sudah barang tentu, cederanya Keam jadi bahan perbincangan hangat. Siswa-siswi menebak-nebak siapa yang bakal menggantikan Keam. Bahkan hari itu Bu Martha meminta Ryan segera mencari pemeran pengganti untuk Keam.
Sejak satu bulan mengalami cedera, Keam hanya menghabiskan waktu di rumah. Keam tak tahu sama sekali tentang perkembangan drama yang akan dipentaskan. Apalagi sosok yang menggantikannya. Tiba-tiba dia berkeinginan untuk meyaksikan latihan drama itu.
Terbata dalam melangkah dan ditemani tongkat, Keam memasuki ruangan drama di sekolahnya. Dilihatkan Ryan yang sedang serius latihan. Lalu Keam mencoba menyaksikan di bangku penonton paling belakang. Betapa terkejutnya bahwa Clara adalah pengganti dirinya, apalagi terdengar kabar sosok pengganti dirinya atas rekomendasi Ryan terhadap Bu Martha.
Seusai latihan drama berakhir, semua pemain dan anggota club drama yang menonton bersorak dan tepuk tangan. Tak terkecuali Keam, yang membuat terkejut orang-orang seisi ruangan yang mendengar suara tepuk tangannya dari arah belakang. Termasuk Ryan.
Di belakang panggung.
“Hai, Can I talk to you ?” Sapa lembut Keam kepada Ryan.
“Hei...” Ucap Ryan, terlihat wajahnya yang sedikit tidak bersemangat mengetahui kedatangan Keam.
“Karaktermu semakin kuat dalam peran.” Puji Keam.
“Hhmm, yeah.” Jawab Ryan singkat.
“Aku harus bicara denganmu !!” Ucap Ryan sedikit gugup.
“Bukankah kita sedang melakukan itu.” Potong Keam.
“Ini penting.” Kata Ryan.
“Kelihatannya begitu.” Ucap Keam.
“Aku dapat melihat rasa sakit di matamu, dan aku tahu betapa keras kamu mencoba. Kamu berhak memiliki lebih banyak. Aku dapat merasakan dan aku simpati. Dan aku takkan pernah mengkritik.” Perkataan Ryan panjang lebar.
“It's okay, kamu tidak ada waktu untuk menjenguk dan menghiburku, aku tak peduli.” Ucap Keam.
“Aku tak marah, aku tahu kamu sibuk dengan semua ini.” Tambah Keam.
Perbincangan semakin terdengar serius. Ryan tak bergerak dari tempatnya berdiri. Sedangkan Keam hanya membujur kaku, menahan kaki kanannya yang bersandar pada sebuah tongkat dan mendengarkan Ryan dengan seksama.
“Aku hanya tidak bisa hidup dalam kebohongan lagi, kamu tidak akan pernah tanya kenapa.” Ucap Ryan.
“Maksudnya?” Keam balik tanya.
“Aku dan Clara, tidak hanya berpasangan dalam peran. Aku mencintainya.” Ryan sesekali terbata.
“Hmm...”
“Aku hanya tidak habis pikir. Kamu tahu perempuan itu sangat licik terhadapku.” Keam terdengar sinis.
“Yeah, I know.”
“ Itu kenapa kita harus berjalan masing-masing.”
“Apa yang kau maksud ?” Celah Keam, seraya menarik tangan Ryan.
“Dengar, kita sudah tak bisa bersama sekalipun sebagai sahabat.” Ucap Ryan, perlahan melepaskan pegangan tangan Keam kepadanya.
Keam begitu terpukul. Dadanya seketika sesak menahan sakit. Nafasnya tidak beraturan. Matanya menahan agar airmata tidak jatuh. Berpikir dengan seksama, mencoba mengerti ucapan Ryan satu persatu. Bibirnya terkunci.
“Kehilanganmu tidak menyakitkan bagi ku, terlebih aku bersama perempuan yang ku cinta. Ini tidak akan menyakitimu juga, karena kamu dapat melupakan semua dengan segera.” Ryan memperjelas kata-katanya.
“Yup, Aku rasa begitu.” Ucap Ryan seraya mengelus rambut ikal sebahu Keam yang tergerai.
“Goodbye.” Tambahnya.
Ada kenyataan dan ada realitas, dan ada beberapa hal yang lebih nyata daripada yang lain. Tidak sulit untuk memiliki sesuatu. Atau semuanya. Kamu hanya harus tahu bahwa itu milikmu, dan kemudian bersedia melepaskannya.
“Aku tidak akan menahanmu. Aku hanya tidak ingin mengecewakanmu, kita akan berjalan masing-masing.” Ucap Keam yang terlihat tegar padahal sebenarnya sangat rapuh.
“Kamu berhak mendapat kesempatan pada cinta, aku tidak yakin aku pantas.” Ryan meyakinkan.
“Tidak ada yang tersisa untuk dikatakan. Tapi ada cara lain selain mengucapkan Goodbye.” Kata Ryan. Kemudian mengecup kening Keam.
November...
Lalu ada orang-orang lain, orang-orang yang menjalankan sejauh mereka dapat. Sehingga mereka tidak harus melihat mereka sendiri.
Waktu berlalu. Bahkan ketika tampaknya tidak mungkin. Bahkan ketika setiap kata, dari nadi di tangan sakit seperti denyut darah di belakang memar. Itu berlalu tidak merata, aneh dan menyeret ketenangan, tetapi tidak menyebarkannya. Bahkan bagi Keam. Dia tak pernah bisa melupakan kata-kata Ryan terhadapnya.
“Jadi mungkin ini adalah neraka. Aku tidak peduli. Aku akan mengambilnya.
Aku di sini dan mencintaimu. Aku selalu mencintaimu dan aku akan selalu cinta kamu. Aku sedang berpikir tentang kamu, melihat wajahmu dalam pikiranku, setiap detik yang kulewatkan.” Desis Keam.
“Hmm, mungkin ini benar-benar yang terakhir.” Ucap dalam Keam.
Setelah drama dipentaskan dan kelulusan diumumkan, Keam hanya menghabiskan waktu di rumah. Keam mencoba menghubungi Ryan untuk mengucapkan selamat atas keberhasilannya dalam pentas drama. Namun tak ada jawaban. Keam berusaha menghampiri Ryan ke rumahnya.. Tapi apa yang gadis itu dapat. Ryan sudah tidak tinggal di rumahnya lagi. Dia dan keluarganya pindah ke Paris, Perancis.
“Non.” Nanny menyentuh pundak dan membuyarkan lamunan Kea di sebuah kursi di kamar.
“Di zaman modern kita, ketika Anda menelepon seseorang dan tidak dapat menemukan nya, Anda dapat cukup yakin bahwa dia bisa mendapatkan pesan. Tapi jika dia tidak menelepon Anda kembali, biasanya itu berarti dia tidak ingin ditemukan.” Kata Kea.
...TO BE CONTINUE
Cerita Pendek Karya
CHAIRUNISA ZULFAQAR :)
Rise and shine early birds. We all have dreams. Some good, some bad, some fun and fraughtian. And some are the dreams we've had all our life's.
Rabu, 24 Maret 2010
Senin, 15 Maret 2010
DID YOU EVER FALL IN LOVE? HORRIBLE ISN'T IT? Apakah Anda pernah jatuh cinta? Mengerikan bukan?
PART II
Summer, kind of wonderful.
Musim panas, jenis keindahan.
Pukul delapan pagi, terlalu pagi untuk bangun, apalagi untuk melamun. Perkataan Fabian masih terekam jelas di telinga dan pikiran Kea. Jawaban Fabian atas pertanyaan Kea sontak saja membuat Kea terkejut. Siapapun tak mengetahui, Ayahanda dan Bunda Kea, bahkan Nanny orang terdekatnya pun tak tahu akan hal yang satu itu.
“Kamu siapa?” Tanya Kea terhadap Fabian.
Fabian tak langsung menjawab, padangannya jauh menerawang.
“Hmm, apa yang harus aku katakan, aku bukan pangeran berkuda putih yang datang mempersembahkan mawar putih kepada sang permaisuri dan mengajaknya menari di musim panas yang hangat. Tidak, semua itu tidak aku lakukan kepadamu.” Ucap Fabian.
“Itu mengapa aku hanya bisa bilang bahwa aku adalah Fabian.” Tambahnya.
Kata-kata itu berulang-ulang kali berputar di kepala Kea. Bahkan Kea acuh terhadap semua kegiatannya dengan hanya membuang waktu memikirkan hal itu selama satu minggu ini. Sudah begitu, Fabian tahu persis di mana letak rumah Kea saat mengantar Kea pulang dengan kondisi kaki Kea yang terluka, dan dengan cara menggendong Kea di punggungnya. Sesampainya di rumah, Nanny berkata “aduh Si Non malam mingguan sama pacarnya.” Sontak, Kea hanya bisa menaikkan alis.
Ayahanda dan Bunda juga tidak seperti biasa, yang selalu protektif terhadap siapapun lelaki yang bersama dengan anak gadisnya. Sampai di rumah dangan kondisi digendong Fabian, Bunda baru saja keluar dari mobil, “Lhoo, Kea? Kamu kenapa sampai gendongan begitu?” Tanya Bunda seraya menghampiri Kea dan Fabian.
“Ini nih Bunda, orang ini yang…”
“Kea, nggak baik menyebut pacar sendiri dengan sebutan orang ini.” Ucap Bunda.
Kea terperangah mendengar ucapan Bunda. Bunda tidak surprise dengan kehadiran Fabian, begitupun Nanny. Berbagai pikiran berkecamuk di kepala Kea dan dia hanya diam seribu bahasa.
“Ada yang aneh dalam hal ini.” Gerutu Kea.
Sabtu ini Kea berencana pergi ke Ballet’s Studio untuk berlatih tari. Selama Kea mandi, Nanny membantu merapikan dan menyiapkan apa-apa yang dibutuhkan Kea untuk berlatih.
“Nanny..” panggil Kea.
“Iya Non..” sahut Nanny.
“Nanny, aku sudah selesai mandi, aku ingin kamu menata rambutku seperti saat aku SMA dulu, okay!! Perintah Kea.
“Tidak seperti biasa Non, apa rencana Non Kea dengan hal ini.” Tanya Nanny penuh selidik.
“You know, sometimes aku sangat rindu dengan usia ku saat itu. Dan saat ini aku ingin menari dengan koreografi pertama yang ingin aku ciptakan setelah cedera itu.” Cerita Kea.
“Nanny selalu percaya bahwa Non Kea adalah gadis periang yang cantik dan optimis.” Ucap Nanny.
“Thanks Nanny.” Sahut Kea.
Sementara mereka asyik mengobrol, Nanny tetap berkonsentrasi menata rambut Kea di meja rias kamar Kea yang terletak di lantai dua rumah. Kamarnya tenang dan terbuka, berdinding merah muda, dan menghadap ke taman belakang rumah yang dihiasi kebun mawar putih yang dirawat Nanny. Nanny selalu meletakkan mawar putih di meja rias Kea, setiap pagi. Oiya, Rambut sewaktu SMA yang dimaksud Kea adalah ikal di bagian bawah dan sebahu.
“Nanny..” panggil Kea pelan.
“Hmm, iya Non…” sahut Nanny.
“Apa tanggapan mu tentang Fabian?” pertanyaan itu terlontar dari bibir lembut Kea.
“Apa Non Kea sedang meragukan lelaki tampan itu?” Celoteh Nanny.
“Haa…haa, tidak, apa pertanyaanku terdengar seperti gurauan Nann?”
“Tidak, tentu tidak, Nanny kagum karena Non Kea sangat pandai memilih lelaki seperti Nak Fabian, yang tidak hanya tampan, tapi juga cerdas dan bertanggung jawab.”
“Oo, My God, Nanny berkata Nak Fabian.”
“Aku tidak memilihnya!” Jawab Kea seadanya.
“Sudahlah Non, lagipula Bunda juga memberi sinyal baik terhadap Nak Fabian.” Tambah Nanny.
“Sungguh, aku hanya tidak mengerti apa yang sedang terjadi dalam hidupku, sungguh ini kenyataan atau aku sedang bermimpi Nann?” Ucap Kea.
“Ini kenyataan Darling.” Jawab Nanny.
“Tapi…” Sela Kea.
“Sudah, Non Kea nggak usah bingung, Nanny akan beritahu satu rahasia, tapi Non jangan marah ya?” Rayu Nanny.
Ayahanda, Bunda termasuk Nanny sudah tahu Non menjadi pacar Nak Fabian sejak satu bulan yang lalu.
“What? Tapi…” Kea malah menjadi semakin bingung.
“Iya, kalian backstreet kan?! Tapi Nak Fabian yang jantan itu datang ke sini meminta ijin untuk jadi pacarnya Non Kea kepada Ayahanda dan Bunda Non.
“Fabian curang, bagaimana bisa dia mencuri hati orang di rumah ini tanpa sepengetahuanku, tanpa kusadari.” Celoteh Kea pelan.
“Nggak usah bingung sayang.” Ucap Bunda yang tiba-tiba ikut nimbrung dengan obrolan Kea dan Nanny.
“Bunda…”
“Fabian memang sengaja merahasiakan semua ini dari kamu. Katanya sebagai hadiah untuk kamu. Makanya dia selalu ke sini pas kamu nggak ada. Jangan marah sama dia ya. Ini untuk kalian juga kan?” Ucap Bunda.
Kea mengerutkan kening. Lagi-lagi dia diam seribu bahasa. “Bunda pergi duluan ya sayang.” Ucap Bunda sambil mengelus pipi anak gadisnya dan meninggalkan Kea dan Nanny berdua kembali. Dan beberapa menit kemudian, laju mobil Bunda terdengar semakin jauh.
“Selesai.” Kata Nanny.
“Thanks Nanny.” Kata Kea sambil mengecup pipi kiri Nanny.
“Non..” panggil Nanny.
“Ya..” Kata Kea.
“Apa kau melupakan sesuatu?” Tanya Nanny.
“Hmmm, apa lagi?” Jawab Kea Keheranan.
“Ini.” Ucap Nanny sambil menunjukkan headband berbentuk pita berwarna pink di tangan kanannya.
“Ooo…Great Nann.” Teriak Kea.
“Thanks.” Kata Kea sambil mengecup pipi Nanny lagi, tapi kali ini yang sebelah kanan.
Kea siap pergi ke Ballet Studio. Dan sesuai keinginan untuk tampil selayaknya SMA. T-Shirt merah muda tanpa corak, rok jeans mini, dan tidak lupa tatanan rambut terbaru ditambah headband. Tidak lupa tas besar berisikan perlengkapan menari.
Pukul dua belas siang.
Kea sudah berada di Ballet’s Studio. Betapa terkejutnya Kea, dia melihat Fabian keluar dari salah satu ruangan tari. Fabian tidak menyadari keberadaan Kea. Posisi Kea setengah mengintip penuh selidik terhadap Fabian. Lalu Fabian mulai berjalan ke arah persembunyian Kea, Kea berbalik membelakangi Fabian agar tak diketahui Fabian, dan itu berhasil.
Berbagai pertanyaan berkecamuk di dalam benak Kea. Sampai-sampai dia tidak fokus dalam melangkah. “Ugh, dubraakkk, aww ...” keluh Kea. Dia menabrak pintu kaca, ruangan tari yang akan dibuatnya latihan. Tanpa menengok sekeliling Kea lantas masuk ke ruangan, lebih-lebih Kea takut ketahuan Fabian. “I’m so stupid, so so so so so so so so so stupid.” Gerutu Kea, tapi tentu saja sambil cengengesan mengingat tingkahnya itu. “he he he he …”
Di ruangan ballet.
“Kita membuat nasib kita sendiri, dan memanggil nasib mereka. Dan apa alasan yang lebih baik untuk memilih jalan daripada berkeras pada takdir kita itu? Tetapi pada akhirnya, kita semua harus hidup dengan pilihan kita, tak peduli siapapun. Aku harus, harus, ayo Kea ciptakan koreografi pertamamu.” Ucap Kea menyemangati diri sendiri.
“Okay, kita mulai ini perlahan Kea.” Kata Kea sambil melakukan pemanasan sebelum menari ballet. Tangan kanannya bersandar pada tiang, dan tangan kiri menekuk kaki kiri ke belakang ke arah atas. Dan sebaliknya. Hingga beberapa kali. Hingga saat dia siap, untuk…..
Kea memulai menggerakkan kaki layaknya yang dilakukan ballerina. Mencoba mengangkat tumit. Perlahan. Tapi apa yang terjadi. “Oo… My God…Sulit, dan aku tak percaya aku tak bisa melakukannya lagi hingga saat ini.” Keluh Kea. Jangankan membuat koreografi, memulai saja Kea tak bisa. Kaki mungilnya belum mampu bekerjasama untuk menari setelah cedera itu. Tapi Kea belum menyerah.
Kea berputar, tetap tak tampak seperti ballerina. “The angrier I gets, the more ingenious I am.” Ucapnya kekeuh. Dia terus mencoba, mencoba . Lalu Kea lelah, dia terduduk lemas di tempatnya berputar, di tengah ruangan. Kea mulai tersedu, sambil menekuk kedua kakinya, melipat tangan kanannya di atas lutut, sedangkan tangan kirinya menyilang ke depan, menundukkan wajah, kemudian menangis. “Mengapa aku memiliki imajinasi ini? Ini satu-satunya yang aku punya!” Ucapnya seraya menangis. Hiks…hiks…hiks…. “Kadang-kadang hal yang paling penting untuk diketahui adalah saat untuk keluar dan kapan harus menyerah.” Menegaskan dirinya.
Tak .. tok … tak … tok … tak … suara langkah seorang lelaki, ditandai dengan iramanya yang tegas dan konsisten, masuk ke dalam ruangan. Menghampiri Kea, kemudian berjongkok di depan tubuh Kea yang membungkuk itu. Jari-jari tangan kanan orang itu menyentuh tangan kiri Kea yg menyilang ke depan. “Aku melihatmu sekilas, tapi tampaknya tidak terlalu manis. Aku melihat yang disajikan begitu dingin, kau tau mengapa?” tanya orang itu.
Tapi tak ada jawaban dari Kea.
Hamparan padang ilalang luas dan menguning. Berkilauan memantulkan cahaya matahari. Silau, namun indah seperti emas mengkilat. Kea berlarian.
“aaaaa....a....aaaaaaaaa...aaa...., eeeememmmmmm.” senandung Kea pelan.
Berputar. Lalu Kea terus berlarian. Ke sana, ke mari. Kemudian mulai memasuki sebuah wilayah baru, penuh pepohonan tinggi menjulang dan menjauh dari padang ilalang tersebut. Terperangah dia, melihat sesosok lelaki.
Danau...
“Beautifull.” Kata Kea tersanjung.
Rumput hijau tumbuh di sekitarnya. Dikelilingi pepohonan besar. Bunga liar berwarna-warni juga tumbuh menghiasi tepi danau. Dan yang lebih menarik adalah daun-daun beterbangan. Angin semilir bertiup menerpa rambut Kea yang tergerai.
“Ini masih February kan, dan matahari itu seperti Summer di bulan Juni, indah serta menghangatkan...” Bisik Kea..
Laki-laki itu menengok dan Kea tidak terkejut bahwa itu adalah Fabian. Terengah-engah Kea tetap berlari menghampiri Fabian yang berdiri di pinggir danau. Fabian membuka kedua tangannya dan menegapkan dadanya seolah memasang badan untuk dipeluk. Dan anehnya Kea benar-benar berlari untuk memeluk Fabian. Berpelukanlah mereka.
Tidak sampai di situ, Fabian dan Kea menari di sekitar danau. Dan Kea sungguh cantik mempesona, dalam balutan gaun dan sepatu ballet merah muda. Langkah demi langkah, Irama demi irama. Kea sungguh-sungguh tak percaya, dirinya sanggup menari layaknya Odette dalam Swan Lake.
Mereka terus menari, tiba-tiba Kea tersenyum sumringah, namun menghentikan langkahnya dalam tarian. Kea berputar, berhenti lagi. Dan berdiri berhadapan saling bergandengan dengan Fabian.
“Sekarang kita di sini. Sekarang kita sudah sampai sejauh ini, tunggu sebentar, tidak ada yang takut, karena aku persis di sebelah mu. Untuk semua hidupku. Aku milikmu” Ucap Fabian seraya mengecup kening Kea.
Kea hanya diam seraya menutup matanya.
“Are you okay ?”
“emmm...O....Please, itu mustahil.” Kata Kea. Lalu dia tersadar dia masih berada di ruangan tari. Kea hanya bermimpi. Mimpi itu.
“Heeiii, you okay girl ?”
“Yeah, aku baik-baik saja.” Sahut Kea.
Kea mulai menengadahkan kepalanya. Kaget dan terperangah mereka. Ya mereka, Fabian dan Kea. Lelaki yang masuk ruangan tari itu adalah Fabian. Dan Mereka sama-sama terkejut luar biasa.
“Apa yang kamu lakukan di sini ?” Bentak Kea kepada Fabian.
“Hmm, A....a...aku … aku mau menagih janji kepadamu !” Jawab Fabian gugup.
Ada satu kesepakatan yang terjadi dalam pertemuan pertama mereka. Kalau Fabian dapat menaklukkan Bunda dan Ayahanda Kea, Fabian boleh mengajak Kea berkencan layaknya pasangan.
Fabian bergegas pergi meninggalkan Kea. Tapi Kea memanggilnya.”Fabian.........kamu bukan sekedar untuk menagih janji, tapi kamu tak tahu siapa yang kau hampiri.” Ucap Kea.
“Dan thanks, kamu melenyapkan mimpi buruk tadi.” tambah Kea.
Fabian mengacuhkannya, dan tetap bergegas pergi.
“Hanya saja, aku tak tahu mana bagian terburuknya.” celoteh Kea dalam hati.
...TO BE CONTINUE
Summer, kind of wonderful.
Musim panas, jenis keindahan.
Pukul delapan pagi, terlalu pagi untuk bangun, apalagi untuk melamun. Perkataan Fabian masih terekam jelas di telinga dan pikiran Kea. Jawaban Fabian atas pertanyaan Kea sontak saja membuat Kea terkejut. Siapapun tak mengetahui, Ayahanda dan Bunda Kea, bahkan Nanny orang terdekatnya pun tak tahu akan hal yang satu itu.
“Kamu siapa?” Tanya Kea terhadap Fabian.
Fabian tak langsung menjawab, padangannya jauh menerawang.
“Hmm, apa yang harus aku katakan, aku bukan pangeran berkuda putih yang datang mempersembahkan mawar putih kepada sang permaisuri dan mengajaknya menari di musim panas yang hangat. Tidak, semua itu tidak aku lakukan kepadamu.” Ucap Fabian.
“Itu mengapa aku hanya bisa bilang bahwa aku adalah Fabian.” Tambahnya.
Kata-kata itu berulang-ulang kali berputar di kepala Kea. Bahkan Kea acuh terhadap semua kegiatannya dengan hanya membuang waktu memikirkan hal itu selama satu minggu ini. Sudah begitu, Fabian tahu persis di mana letak rumah Kea saat mengantar Kea pulang dengan kondisi kaki Kea yang terluka, dan dengan cara menggendong Kea di punggungnya. Sesampainya di rumah, Nanny berkata “aduh Si Non malam mingguan sama pacarnya.” Sontak, Kea hanya bisa menaikkan alis.
Ayahanda dan Bunda juga tidak seperti biasa, yang selalu protektif terhadap siapapun lelaki yang bersama dengan anak gadisnya. Sampai di rumah dangan kondisi digendong Fabian, Bunda baru saja keluar dari mobil, “Lhoo, Kea? Kamu kenapa sampai gendongan begitu?” Tanya Bunda seraya menghampiri Kea dan Fabian.
“Ini nih Bunda, orang ini yang…”
“Kea, nggak baik menyebut pacar sendiri dengan sebutan orang ini.” Ucap Bunda.
Kea terperangah mendengar ucapan Bunda. Bunda tidak surprise dengan kehadiran Fabian, begitupun Nanny. Berbagai pikiran berkecamuk di kepala Kea dan dia hanya diam seribu bahasa.
“Ada yang aneh dalam hal ini.” Gerutu Kea.
Sabtu ini Kea berencana pergi ke Ballet’s Studio untuk berlatih tari. Selama Kea mandi, Nanny membantu merapikan dan menyiapkan apa-apa yang dibutuhkan Kea untuk berlatih.
“Nanny..” panggil Kea.
“Iya Non..” sahut Nanny.
“Nanny, aku sudah selesai mandi, aku ingin kamu menata rambutku seperti saat aku SMA dulu, okay!! Perintah Kea.
“Tidak seperti biasa Non, apa rencana Non Kea dengan hal ini.” Tanya Nanny penuh selidik.
“You know, sometimes aku sangat rindu dengan usia ku saat itu. Dan saat ini aku ingin menari dengan koreografi pertama yang ingin aku ciptakan setelah cedera itu.” Cerita Kea.
“Nanny selalu percaya bahwa Non Kea adalah gadis periang yang cantik dan optimis.” Ucap Nanny.
“Thanks Nanny.” Sahut Kea.
Sementara mereka asyik mengobrol, Nanny tetap berkonsentrasi menata rambut Kea di meja rias kamar Kea yang terletak di lantai dua rumah. Kamarnya tenang dan terbuka, berdinding merah muda, dan menghadap ke taman belakang rumah yang dihiasi kebun mawar putih yang dirawat Nanny. Nanny selalu meletakkan mawar putih di meja rias Kea, setiap pagi. Oiya, Rambut sewaktu SMA yang dimaksud Kea adalah ikal di bagian bawah dan sebahu.
“Nanny..” panggil Kea pelan.
“Hmm, iya Non…” sahut Nanny.
“Apa tanggapan mu tentang Fabian?” pertanyaan itu terlontar dari bibir lembut Kea.
“Apa Non Kea sedang meragukan lelaki tampan itu?” Celoteh Nanny.
“Haa…haa, tidak, apa pertanyaanku terdengar seperti gurauan Nann?”
“Tidak, tentu tidak, Nanny kagum karena Non Kea sangat pandai memilih lelaki seperti Nak Fabian, yang tidak hanya tampan, tapi juga cerdas dan bertanggung jawab.”
“Oo, My God, Nanny berkata Nak Fabian.”
“Aku tidak memilihnya!” Jawab Kea seadanya.
“Sudahlah Non, lagipula Bunda juga memberi sinyal baik terhadap Nak Fabian.” Tambah Nanny.
“Sungguh, aku hanya tidak mengerti apa yang sedang terjadi dalam hidupku, sungguh ini kenyataan atau aku sedang bermimpi Nann?” Ucap Kea.
“Ini kenyataan Darling.” Jawab Nanny.
“Tapi…” Sela Kea.
“Sudah, Non Kea nggak usah bingung, Nanny akan beritahu satu rahasia, tapi Non jangan marah ya?” Rayu Nanny.
Ayahanda, Bunda termasuk Nanny sudah tahu Non menjadi pacar Nak Fabian sejak satu bulan yang lalu.
“What? Tapi…” Kea malah menjadi semakin bingung.
“Iya, kalian backstreet kan?! Tapi Nak Fabian yang jantan itu datang ke sini meminta ijin untuk jadi pacarnya Non Kea kepada Ayahanda dan Bunda Non.
“Fabian curang, bagaimana bisa dia mencuri hati orang di rumah ini tanpa sepengetahuanku, tanpa kusadari.” Celoteh Kea pelan.
“Nggak usah bingung sayang.” Ucap Bunda yang tiba-tiba ikut nimbrung dengan obrolan Kea dan Nanny.
“Bunda…”
“Fabian memang sengaja merahasiakan semua ini dari kamu. Katanya sebagai hadiah untuk kamu. Makanya dia selalu ke sini pas kamu nggak ada. Jangan marah sama dia ya. Ini untuk kalian juga kan?” Ucap Bunda.
Kea mengerutkan kening. Lagi-lagi dia diam seribu bahasa. “Bunda pergi duluan ya sayang.” Ucap Bunda sambil mengelus pipi anak gadisnya dan meninggalkan Kea dan Nanny berdua kembali. Dan beberapa menit kemudian, laju mobil Bunda terdengar semakin jauh.
“Selesai.” Kata Nanny.
“Thanks Nanny.” Kata Kea sambil mengecup pipi kiri Nanny.
“Non..” panggil Nanny.
“Ya..” Kata Kea.
“Apa kau melupakan sesuatu?” Tanya Nanny.
“Hmmm, apa lagi?” Jawab Kea Keheranan.
“Ini.” Ucap Nanny sambil menunjukkan headband berbentuk pita berwarna pink di tangan kanannya.
“Ooo…Great Nann.” Teriak Kea.
“Thanks.” Kata Kea sambil mengecup pipi Nanny lagi, tapi kali ini yang sebelah kanan.
Kea siap pergi ke Ballet Studio. Dan sesuai keinginan untuk tampil selayaknya SMA. T-Shirt merah muda tanpa corak, rok jeans mini, dan tidak lupa tatanan rambut terbaru ditambah headband. Tidak lupa tas besar berisikan perlengkapan menari.
Pukul dua belas siang.
Kea sudah berada di Ballet’s Studio. Betapa terkejutnya Kea, dia melihat Fabian keluar dari salah satu ruangan tari. Fabian tidak menyadari keberadaan Kea. Posisi Kea setengah mengintip penuh selidik terhadap Fabian. Lalu Fabian mulai berjalan ke arah persembunyian Kea, Kea berbalik membelakangi Fabian agar tak diketahui Fabian, dan itu berhasil.
Berbagai pertanyaan berkecamuk di dalam benak Kea. Sampai-sampai dia tidak fokus dalam melangkah. “Ugh, dubraakkk, aww ...” keluh Kea. Dia menabrak pintu kaca, ruangan tari yang akan dibuatnya latihan. Tanpa menengok sekeliling Kea lantas masuk ke ruangan, lebih-lebih Kea takut ketahuan Fabian. “I’m so stupid, so so so so so so so so so stupid.” Gerutu Kea, tapi tentu saja sambil cengengesan mengingat tingkahnya itu. “he he he he …”
Di ruangan ballet.
“Kita membuat nasib kita sendiri, dan memanggil nasib mereka. Dan apa alasan yang lebih baik untuk memilih jalan daripada berkeras pada takdir kita itu? Tetapi pada akhirnya, kita semua harus hidup dengan pilihan kita, tak peduli siapapun. Aku harus, harus, ayo Kea ciptakan koreografi pertamamu.” Ucap Kea menyemangati diri sendiri.
“Okay, kita mulai ini perlahan Kea.” Kata Kea sambil melakukan pemanasan sebelum menari ballet. Tangan kanannya bersandar pada tiang, dan tangan kiri menekuk kaki kiri ke belakang ke arah atas. Dan sebaliknya. Hingga beberapa kali. Hingga saat dia siap, untuk…..
Kea memulai menggerakkan kaki layaknya yang dilakukan ballerina. Mencoba mengangkat tumit. Perlahan. Tapi apa yang terjadi. “Oo… My God…Sulit, dan aku tak percaya aku tak bisa melakukannya lagi hingga saat ini.” Keluh Kea. Jangankan membuat koreografi, memulai saja Kea tak bisa. Kaki mungilnya belum mampu bekerjasama untuk menari setelah cedera itu. Tapi Kea belum menyerah.
Kea berputar, tetap tak tampak seperti ballerina. “The angrier I gets, the more ingenious I am.” Ucapnya kekeuh. Dia terus mencoba, mencoba . Lalu Kea lelah, dia terduduk lemas di tempatnya berputar, di tengah ruangan. Kea mulai tersedu, sambil menekuk kedua kakinya, melipat tangan kanannya di atas lutut, sedangkan tangan kirinya menyilang ke depan, menundukkan wajah, kemudian menangis. “Mengapa aku memiliki imajinasi ini? Ini satu-satunya yang aku punya!” Ucapnya seraya menangis. Hiks…hiks…hiks…. “Kadang-kadang hal yang paling penting untuk diketahui adalah saat untuk keluar dan kapan harus menyerah.” Menegaskan dirinya.
Tak .. tok … tak … tok … tak … suara langkah seorang lelaki, ditandai dengan iramanya yang tegas dan konsisten, masuk ke dalam ruangan. Menghampiri Kea, kemudian berjongkok di depan tubuh Kea yang membungkuk itu. Jari-jari tangan kanan orang itu menyentuh tangan kiri Kea yg menyilang ke depan. “Aku melihatmu sekilas, tapi tampaknya tidak terlalu manis. Aku melihat yang disajikan begitu dingin, kau tau mengapa?” tanya orang itu.
Tapi tak ada jawaban dari Kea.
Hamparan padang ilalang luas dan menguning. Berkilauan memantulkan cahaya matahari. Silau, namun indah seperti emas mengkilat. Kea berlarian.
“aaaaa....a....aaaaaaaaa...aaa...., eeeememmmmmm.” senandung Kea pelan.
Berputar. Lalu Kea terus berlarian. Ke sana, ke mari. Kemudian mulai memasuki sebuah wilayah baru, penuh pepohonan tinggi menjulang dan menjauh dari padang ilalang tersebut. Terperangah dia, melihat sesosok lelaki.
Danau...
“Beautifull.” Kata Kea tersanjung.
Rumput hijau tumbuh di sekitarnya. Dikelilingi pepohonan besar. Bunga liar berwarna-warni juga tumbuh menghiasi tepi danau. Dan yang lebih menarik adalah daun-daun beterbangan. Angin semilir bertiup menerpa rambut Kea yang tergerai.
“Ini masih February kan, dan matahari itu seperti Summer di bulan Juni, indah serta menghangatkan...” Bisik Kea..
Laki-laki itu menengok dan Kea tidak terkejut bahwa itu adalah Fabian. Terengah-engah Kea tetap berlari menghampiri Fabian yang berdiri di pinggir danau. Fabian membuka kedua tangannya dan menegapkan dadanya seolah memasang badan untuk dipeluk. Dan anehnya Kea benar-benar berlari untuk memeluk Fabian. Berpelukanlah mereka.
Tidak sampai di situ, Fabian dan Kea menari di sekitar danau. Dan Kea sungguh cantik mempesona, dalam balutan gaun dan sepatu ballet merah muda. Langkah demi langkah, Irama demi irama. Kea sungguh-sungguh tak percaya, dirinya sanggup menari layaknya Odette dalam Swan Lake.
Mereka terus menari, tiba-tiba Kea tersenyum sumringah, namun menghentikan langkahnya dalam tarian. Kea berputar, berhenti lagi. Dan berdiri berhadapan saling bergandengan dengan Fabian.
“Sekarang kita di sini. Sekarang kita sudah sampai sejauh ini, tunggu sebentar, tidak ada yang takut, karena aku persis di sebelah mu. Untuk semua hidupku. Aku milikmu” Ucap Fabian seraya mengecup kening Kea.
Kea hanya diam seraya menutup matanya.
“Are you okay ?”
“emmm...O....Please, itu mustahil.” Kata Kea. Lalu dia tersadar dia masih berada di ruangan tari. Kea hanya bermimpi. Mimpi itu.
“Heeiii, you okay girl ?”
“Yeah, aku baik-baik saja.” Sahut Kea.
Kea mulai menengadahkan kepalanya. Kaget dan terperangah mereka. Ya mereka, Fabian dan Kea. Lelaki yang masuk ruangan tari itu adalah Fabian. Dan Mereka sama-sama terkejut luar biasa.
“Apa yang kamu lakukan di sini ?” Bentak Kea kepada Fabian.
“Hmm, A....a...aku … aku mau menagih janji kepadamu !” Jawab Fabian gugup.
Ada satu kesepakatan yang terjadi dalam pertemuan pertama mereka. Kalau Fabian dapat menaklukkan Bunda dan Ayahanda Kea, Fabian boleh mengajak Kea berkencan layaknya pasangan.
Fabian bergegas pergi meninggalkan Kea. Tapi Kea memanggilnya.”Fabian.........kamu bukan sekedar untuk menagih janji, tapi kamu tak tahu siapa yang kau hampiri.” Ucap Kea.
“Dan thanks, kamu melenyapkan mimpi buruk tadi.” tambah Kea.
Fabian mengacuhkannya, dan tetap bergegas pergi.
“Hanya saja, aku tak tahu mana bagian terburuknya.” celoteh Kea dalam hati.
...TO BE CONTINUE
Langganan:
Komentar (Atom)