Pohon rindang dan besar. Aku menghampirinya. Tepat di bawahnya ada sebuah bangku yang tidak asing seperti taman-taman pada umumnya. Lalu aku duduk, ku angkat kedua kaki ku dan ku dekap dengan kedua tangan, ku tempel kan dagu di antara kedua kaki.
Padang rumput.
Iya, aku melihat padang rumput. "Oh, bukan itu, tapi aku berada di padang rumput," kata ku berdesah kagum. Hhmm, sambil berputar dan tak henti menatap sekeliling. Berpikir di mana sebenarnya aku saat ini. "Indah sekali," aku berkata pelan. Ku coba langkah kan kaki di jalan setapak terbuat dari batu yang tipis. Berjalan ku dengan sedikit melompat, "tak, tok, tak, tok, ...," suara high heels-ku memecahkan kesunyian.
Aku menyadari, bahwa aku begitu cantik bak Princess. Sepasang sepatu ku mirip kepunyaan Cinderella. Aku merasakan make up yang sempurna di wajah dan aku tahu itu. Ku sentuh bibir ku sedikit dengan telunjuk, ku lihat warnanya merah mengilat senada dengan warna gaun backless yang kukenakan. Yang tak kalah indah adalah rambut ku yang berubah menjadi black shine, long dan curly, ter gerai.
Jalan setapak terputus, aku berada di tengah padang. Dikelilingi bunga-bunga liar yang tumbuh tapi tetap tidak mendominasi. Aroma basah menandakan bahwa ini tetaplah sebuah padang rumput bukan taman bunga. Aku bersenandung pelan, ku jentikkan jari, terdengar suara piano berdenting lambat, Kaki ku bergerak ke kanan 2 langkah, dan kaki kiri 2 langkah ke depan. Ritme pelan, aku berdansa. Disusul bunyi saxophone dan gesekan biola, ritme sedikit naik, melodi memaksaku terus berdansa. Berputar, ke kiri, ke kanan, kiri lagi, kanan lagi, hingga berputar kembali 12 kali. Klimaks. Hingga ku melihat ...
Sosok lelaki tampan tersenyum, berdiri 6 langkah dari tempat ku berdiri. Mengenakan Tuxedo hitam dan sepatu hitam mengilat. Tataan rambutnya pun sungguh menawan. "Hei, apa kau membutuhkan pasangan," tanyanya, bak Prince. Hhmm, "Aku rasa begitu," jawabku seadanya. Lalu dia menghampiri ku. Diraihnya tangan kanan ku kemudian di kecup pelan olehnya. Dipeluk lah aku dengan meletakkan kedua tangannya di pinggang ku, di susul olehku meletakkan kedua tanganku di lehernya. Bibirnya menyentuh telinga kananku, lalu membisikkan apa kau sangat merindukan ku, Cha ? tanyanya kepadaku. Ku jentikkan jari, terdengar "Parla Piu Piano from Patrizio Buanne" mengalun merdu. Kami mulai berdansa. Dan aku berkata, sangat, aku sangat merindukan mu, Budi. Setelah itu tak ada dialog di antara kami.
Hujan.
Turun tidak deras, namun cukup basah jika kau berada ditengah padang rumput yang tidak terhalang pepohonan ini. Ditariknya tanganku, kami berlari, menghampiri pohon besar yang lumayan cukup jauh untuk berteduh. Dibalutkan Tuxedo nya ke tubuhku. Terbawa suasana, "aku tak ingin ini berakhir", bisik ku dalam hati. Apa yang terjadi selanjutnya, "Oh, tidak, apa yang akan dia lakukan padaku," mengira-ngira dalam hati. Kami saling pandang. Leher ku didorong olehnya hingga berada dekat dengan wajahnya. Dia memiringkan sedikit wajahnya dan mulai menghampiri bibirku. Kami berciuman. Aku tak sanggup menolaknya.
"Bodoh," ucapnya, kepada ku dengan wajah garang. "Kenapa ?" kataku. "Kau suka dengan kebohongan" katanya meringis. "Maksudmu ?" timpa ku. "Kau, sungguh-sungguh bodoh, apa aku harus mengatakan semua ini kepadamu ? Apa aku yang harus memberikan alasannya ?" nada suaranya meninggi. "Ya, aku pikir begitu," ucapku, yang keheranan.
Posisinya denganku tidak se dekat sebelumnya. "Aku tak punya waktu, dan harus kembali," ucapnya, sambil melangkah mundur. "Tunggu," aku sedikit berteriak. "Kamu tidak boleh pergi dengan cara seperti ini, kamu harus katakan apa yang kamu maksud itu," kataku sambil menarik tangannya. Dilepaskan genggaman ku perlahan olehnya, dia membalikkan badan, lalu pergi meninggalkanku begitu saja. "Budi................" panggil ku. Dia tak menghiraukannya.
Tanpa jentikkan jariku, terdengar "Lost in Space from Lighthouse Family" berkumandang, kupikir itu cukup dramatis. Airmata ku mengalir deras. Kaki ku terus melangkah mengejarnya, tapi tak bisa. Kembali di tengah padang rumput, tubuhku membungkuk, lelah dan nafas terengah-engah. Hingga tanpa ku sadari, langit gelap. Letih, ku membaringkan tubuhku di rumput-rumput basah karena hujan. Isakkan ku tak berhenti sejak kejadian tadi. Bukan jentikkan jari yang memanggil semua ini tapi hati saat merasakan sesuatu.
"Chaaa, Chaaa... " aku merasa ada yang memanggil. Tubuhku terguncang-guncang. "Cha..," aku ingat suara ini. Ku buka mataku, bingung, dan menoleh ke sebelah kiri. Ku lihat sosok yang mulutnya komat kamit. "Ehhmm," desis ku. "Cha, apa yang kau lakukan ?" tanya orang itu. Mengucekkan mata, lalu mulai menyadari bahwa sosok itu adalah Riza, pacarku. Dia masih saja menguncang-guncang tubuhku. "Iya," kataku. "Sedang apa kau," tanyanya. "Hmm, Menunggumu," cetusku. "Latte," ucapnya sambil menyerahkan latte itu kepada ku. "Thanks," kataku. "Will you marrie me," pelan dan sangat berhati-hati keluar dari bibirnya. "What do you expect a hug or something ?" timpa ku, sambil menyikutnya dan berdiri. "I want you to say yes!" memelas kepadaku , meringis karena sikutan ku. "Stop," pinta nya kepadaku yang terus berjalan sambil menikmati latte. Aku berhenti. Dipeluklah tubuh ku dari belakang. Di balutkan kalung berliontin ballerina berdansa ke leher ku. "Beautifull, tapi tidak mengubah keputusan ku menjadi iya. Karena aku masih kelas 1 SMA," cetusku. "Oke," katanya, sambil mendekap tangannya di pundak ku. "Berapa lama kau meninggalkanku di taman tadi ?" tanya ku. "Lima belas menit," ucapnya singkat. "Oh," sambil menghentikan langkah. "Kenapa ?" tanyanya. "Tidak apa-apa," kataku. "Ngomong-ngomong berapa kali dan berapa metode kamu telah melamarku ?" aku cekikikan. "Apa kau meledekku," memasang wajah garang lalu tersenyum manis sekali...
(Percayakah kah kau, setelah itu aku benar-benar berpacaran dengan lelaki bernama Budi).
Original Story From CHAIRUNISA ZULFAQAR :)
Sydney, Liburan semester pertama...
Amazing,.
BalasHapusini bagian yanga pertama ???
BalasHapuskatanya ada lanjutannya,.mana ??
itu udah disusutkan mhay, tidak continue :)
BalasHapusthanks commentnya.
klo di film'in baru dpt 2 scene tuhh,.
BalasHapuslagi lagi lagi lagi
Sure !!!
BalasHapusThanks for your appreciate :D