Kamis, 25 Februari 2010

DID YOU EVER FALL IN LOVE? HORRIBLE ISN'T IT? Apakah Anda pernah jatuh cinta? Mengerikan bukan?

PART I
I wish I had an origin story about you.
Aku berharap aku punya cerita tentang asal-usul Anda.

Pukul sepuluh lima belas menit, pagi yang terik, suasana yang cerah, di tengah keramaian. Hari sabtu, hari nge-date sedunia. Tapi tidak bagi gadis mungil berusia dua puluh tahun, berambut lurus, hitam dan panjang bernama Keamira, atau biasa dipanggil Kea.

Kea tampak asyik berlenggak lenggok dengan dress minimalis bercorak bunga full color tanpa lengan, wide belts semakin membuat tubuhnya terlihat mungil, kaki jenjangnya yang indah disandingkan dengan sandal model gladiator yang sedang nge-trend, classic handbag dengan warna senada di tangan kiri dan botol raspberry juice di tangan kanan. Pandangannya lurus menyusuri tepi jalan menuju taman. Tempat yang memberikan kedamaian di hatinya. Paling tidak Kea sanggup menghabiskan ratusan halaman novel di tempat itu.

Sebenarnya Kea bisa saja menghabiskan waktu membaca novel-novel idamannya di rumah. Secara Kea adalah anak tunggal. Ayahanda dan Bundanya adalah pembisnis terkenal di kota. Sekalipun memiliki anak buah tetap saja tidak bisa menghabiskan akhir pekan bersama Kea. Rumahnya terhitung tentram dan damai karena Kea hanya ditemani pengasuhnya, Nanny. Tapi taman memberikan sensasi berbeda untuknya.

“Rasanya hanya satu minggu saja aku tidak mengunjungi taman ini, tapi kenapa perubahan cepat sekali terjadi.” Ucap Kea setengah menggerutu. Itu dikarenakan bangku tempat biasa Kea duduk menghadap kolam air mancur sudah tidak pada posisinya. Rupanya taman tersebut baru saja selesai direnovasi.

“Yahh, kurasa di sini jauh lebih enak.” Kata Kea, sambil duduk di bawah pohon rindang dan di samping kebun mini mawar putih yang masih kuncup. Dan yang paling penting adalah posisinya berjauhan dari para pasangan yang sedang kasmaran.

Novel yang dibaca Kea adalah “American Gods” karya Neil Gaiman. Ada salah satu kutipan yang sungguh menarik dipikirannya “I believe that life is a game, that life is a cruel joke, and that life is what happens when you’re alive and that you might as well lie back and enjoy it.” and “I believe that all men are just overgrown boys with deep problems communicating.“ Artinya "Saya percaya bahwa hidup adalah permainan, bahwa hidup adalah lelucon yang kejam, dan bahwa hidup adalah apa yang terjadi ketika anda masih hidup dan bahwa Anda sebaiknya berbaring dan menikmatinya." Dan "Saya percaya bahwa semua manusia hanya ditumbuhi anak laki-laki dengan masalah dalam berkomunikasi." “Itu sungguh menyebalkan.” Desis Kea. Ekpresinya seperti membenarkan bahwa dia sangat kesal terhadap komunikasi yang dilakukan para pria.

Serius saat membaca, Kea tak lupa mencicipi bekal pemberian dari Nanny, pengasuh yang sudah mengasuhnya sejak bayi, dan mengerti sekali cemilan kesukaan Kea.

“Hhmm, yummy, Nanny ku sayang, memang baik hati.” Celotehnya pelan. Salad dari buah-buahan segar, dinikmatinya perlahan.

Beberapa jam kemudian. “Selesai juga akhirnya.” Kea meregangkan kedua tangannya. “Lelah juga ngendon di sini sesorean.” Dibuangnya nafas panjang penuh kelegaan, lalu diliriknya jam di tangan kiri.

“Hah?! Setengah lima!” teriaknya kaget. Dengan gerak cepat Kea merapikan novel dan tempat makan sisa cemilannya. Maklum saja Kea begitu, karena dia terbiasa sampai rumah pada pukul setengah empat sore. Mundur satu jam dari kebiasaannya.

“Kea.”
“Siapa itu.” Pikir Kea. Jantungnya berdebar tak beraturan. “Masa’ iya, langit masih terang tapi hantu sudah berkeliaran. Bukan tanpa alasan dia berpikir tidak-tidak, taman sore itu memang sudah terlihat sepi.
“Kea.”
“Ah, suara itu lagi.” Desisnya ketakutan. Kea berdiri terpaku, dia tak berani menengok ke arah asal suara.

Tak ada siapapun. Satu-satunya manusia yang berdiri bersandar di samping pohon adalah seorang lelaki berkacamata asing yang tengah asyik mengotak-atik handphone di tangannya. Dan mustahil sekali dia orang yang memanggil Kea. Seumur-umur Kea belum pernah melihat lelaki itu.

Kea mencoba memberanikan diri dengan mengacuhkan suara tadi. Dan melanjutkan rencananya untuk pulang. “Kenapa juga itu hantu menggoda aku.” Ucap Kea sambil cengar-cengir.

“Kea.”
Suara itu lagi.

Kea mulai kesal karena merasa dipermainkan. Dengan garang Kea menoleh ke belakang. Bukan ke taman, tapi dia menantang langit sore yang mulai dihiasi pemandangan matahari terbenam.

“Heh, keluar kalau berani!” ucapnya lantang.
“Hi…hi…hi….”
“Eh malah ketawa!” Ayo keluar!” Aku tak takut, tantang Kea.
“Ha…ha…ha…. Aku udah keluar dari tadi, lagi. Itu kalau kamu anggap aku penampakkan.” Kata lelaki asing yang dilihat Kea tadi.
“Kamu.”
“Iya.”
“Siapa?”
“Fabian.”

“Fabian, Fabian, seingatku, aku tak pernah punya teman bernama Fabian.” Kea berusaha mengingat-ingat.

Nasihat Nanny terngiang-ngiang di telinganya. “Zaman sekarang Non Kea harus hati-hati. Apalagi Non Kea itu cantik. Penculikan, pemerkosaan, pembunuhan sudah jadi hal biasa yang dilakukan orang-orang nekat. Jangan mudah percaya sama orang yang baru dikenal. Apalagi yang keren dan keliatan kaya, biasanya itu hanya kedok Non.” Kata Nanny yang selalu bernasihat ria kepada Kea.

Sementara Kea berpikir, lelaki yang mengaku bernama Fabian itu mulai menghampirinya. Lima langkah lagi Fabian akan dengan mudah menggapai Kea.
“Ayolah, berpikir!” perintah Kea pada dirinya.
Tiga langkah…
“Dasar bodoh.” Ucapnya dalam hati.
Dua langkah…
“Laaaaarrrrrrrrrrrrriiiiiiiiiiiiiiii!”
Dan perintah itulah yang terbesit lantas dilakukannya.

“Heiiii… jangan lari!”
“Kea, berhenti…!” teriak Fabian. “Damn, kecil-kecil cepet juga larinya.” Gumam Fabian dalam hati. “Kea, berhenti.” Panggilnya lagi.

Hal-hal buruk terus membayangi pikiran Kea, dia mempercepat larinya. Sesampainya di rumah dia akan minta tolong Nanny yang dengan senang hati akan mempersenjatai dirinya dengan sapu dan kemoceng untuk melawan orang asing itu. Sayangnya, semua itu hanya angan-angan. Gadis berperawakan Belanda Jawa itu terlalu lelah dan lapar. Pandangannya sedikit kabur dan tanpa sengaja kakinya tersendung batu.

“Aduh,” Kea jatuh tersungkur tepat di pintu keluar taman. Dia cepat-cepat berdiri, tapi dadanya sesak. Perlahan dia berbalik lantas duduk dengan lutut setengah ditekuk. Darah mengucur deras dari lututnya.

“Tuh kan jatuh deh. Kamu sih lari-lari segala. Merepotkan orang saja.” Kea tersentak. Fabian sudah berada berdiri di dekatnya. Ketakutan mulai merayapi hati dan pikiran Kea. “Tolong selamatkan hamba Ya Tuhan.” Doa Kea dalam hati.

Fabian semakin mendekat. Dia berjongkok di samping Kea. Diperhatikannya gadis mungil yang sedang memejamkan mata di depannya itu. Sekonyong-konyong Kea merasa tubuhnya diangkat. “Masa iya aku sudah mati, secepat inikah? Lantas bau harum apa ini?” Gumamnya dalam hati.

Perlahan Kea mulai membuka mata. Kea tidak segera menyadari apa yang terjadi. Tapi begitu sadar dirinya tengah berada dalam gendongan orang yang sama sekali tidak dia kenal, Kea langsung menjerit dan memberontak.

“Apa-apaan sih, gendong-gendong segala! Lepasin! Kea terus menjerit dan meronta dalam bopongan Fabian. “Heh, bisa diam, nggak? Nanti kita bisa jatuh bersama, tahu!” celoteh Fabian.

“Nah, di sini kan enak.” Fabian menurunkan Kea di kursi taman, di bawah lampu hias yang mulai menyala di sekeliling taman.

Kea benar-benar pasrah sekarang. Dia tak mungkin lari dengan lutut terluka. Gadis itu terus saja diam tanpa berhenti memikirkan hal-hal buruk yang akan terjadi.

“Kok diam?” Tanya Fabian pada Kea. “ Ka…ka….kamu, tidak akan memperkosaku kan?” Tanya Kea terbata sambil menelan ludah. Fabian memandangnya, lantas, “Ha…ha…ha… dapat pikiran konyol darimana?” celoteh Fabian lembut.

“Dari Nanny.” Tadinya Kea mengira, Fabian akan bertanya siapa Nanny? Tidak disangka lelaki tampan berperawakan tinggi itu malah ketawa lagi. “Ha…ha…ha…ha…ha… Nanny emang suka aneh-aneh pikirannya, tapi lebih aneh lagi kamu percaya gitu aja.”

Kea terdiam kaku. “Kenal Nanny?” Tanya kea pada Fabian. Fabian tak langsung menjawab, kini matanya tertuju pada luka di kaki kea. “Punya tisu?” Tanya Fabian. “Nanny?”
“Punya tidak?” Suara Fabian meninggi.
“Punya”.
“Mana!” Fabian merendahkan suara.

Kea merogoh tasnya dan menyerahkan tisu ke Fabian. Setelah itu Fabian berdiri, pergi ke air keran di sudut taman, dan kembali lagi dengan tisu basah di tangan.

“Tahan ya, agak perih sedikit.” Dengan lembut Fabian membersihkan luka Kea. Sebentar-sebentar Kea meringis, tapi ditahannya sakitnya. Setelah lukanya bersih, Fabian mengambil sapu tangan dari saku celananya. Ditiup-tiupnya luka Kea hingga kering. Lalu diikatnya sapu tangan itu hingga luka Kea terlindung.

“Jangan!!” Sela Kea.
“Kenapa? Sakit ya?” Tanya Fabian.
“Sapu tanganmu bisa kotor!” Ucap Kea.
Fabian menghentikan kesibukannya. Ditatapnya Kea tajam.”Kamu pikir, aku Cuma punya satu sapu tangan? Kalaupun aku cuma punya satu, aku masih bisa beli yang baru. Tapi kalau kakimu yang luka itu, bisa infeksi dan diamputasi, kamu ngga akan bisa nemuin kaki yang sama di toko mana pun. Paham ?”
I….iya, paham.” Jawab Kea gugup.

“Nah, selesai. Nanti di rumah minta tolong Nanny lukanya dibersihkan dengan antiseptic.”
“Kamu siapa?” Tanya Kea dengan tatapan penuh selidik.
“Fabian.” Jawabnya singkat.
“Kamu tahu apa yang aku maksud, bukan nama yang aku tanyakan.”
Fabian tak langsung menjawab, padangannya menerawang.




...TO BE CONTINUE

Rabu, 17 Februari 2010

THE MEADOW

Pohon rindang dan besar. Aku menghampirinya. Tepat di bawahnya ada sebuah bangku yang tidak asing seperti taman-taman pada umumnya. Lalu aku duduk, ku angkat kedua kaki ku dan ku dekap dengan kedua tangan, ku tempel kan dagu di antara kedua kaki.

Padang rumput.
Iya, aku melihat padang rumput. "Oh, bukan itu, tapi aku berada di padang rumput," kata ku berdesah kagum. Hhmm, sambil berputar dan tak henti menatap sekeliling. Berpikir di mana sebenarnya aku saat ini. "Indah sekali," aku berkata pelan. Ku coba langkah kan kaki di jalan setapak terbuat dari batu yang tipis. Berjalan ku dengan sedikit melompat, "tak, tok, tak, tok, ...," suara high heels-ku memecahkan kesunyian.

Aku menyadari, bahwa aku begitu cantik bak Princess. Sepasang sepatu ku mirip kepunyaan Cinderella. Aku merasakan make up yang sempurna di wajah dan aku tahu itu. Ku sentuh bibir ku sedikit dengan telunjuk, ku lihat warnanya merah mengilat senada dengan warna gaun backless yang kukenakan. Yang tak kalah indah adalah rambut ku yang berubah menjadi black shine, long dan curly, ter gerai.

Jalan setapak terputus, aku berada di tengah padang. Dikelilingi bunga-bunga liar yang tumbuh tapi tetap tidak mendominasi. Aroma basah menandakan bahwa ini tetaplah sebuah padang rumput bukan taman bunga. Aku bersenandung pelan, ku jentikkan jari, terdengar suara piano berdenting lambat, Kaki ku bergerak ke kanan 2 langkah, dan kaki kiri 2 langkah ke depan. Ritme pelan, aku berdansa. Disusul bunyi saxophone dan gesekan biola, ritme sedikit naik, melodi memaksaku terus berdansa. Berputar, ke kiri, ke kanan, kiri lagi, kanan lagi, hingga berputar kembali 12 kali. Klimaks. Hingga ku melihat ...

Sosok lelaki tampan tersenyum, berdiri 6 langkah dari tempat ku berdiri. Mengenakan Tuxedo hitam dan sepatu hitam mengilat. Tataan rambutnya pun sungguh menawan. "Hei, apa kau membutuhkan pasangan," tanyanya, bak Prince. Hhmm, "Aku rasa begitu," jawabku seadanya. Lalu dia menghampiri ku. Diraihnya tangan kanan ku kemudian di kecup pelan olehnya. Dipeluk lah aku dengan meletakkan kedua tangannya di pinggang ku, di susul olehku meletakkan kedua tanganku di lehernya. Bibirnya menyentuh telinga kananku, lalu membisikkan apa kau sangat merindukan ku, Cha ? tanyanya kepadaku. Ku jentikkan jari, terdengar "Parla Piu Piano from Patrizio Buanne" mengalun merdu. Kami mulai berdansa. Dan aku berkata, sangat, aku sangat merindukan mu, Budi. Setelah itu tak ada dialog di antara kami.

Hujan.
Turun tidak deras, namun cukup basah jika kau berada ditengah padang rumput yang tidak terhalang pepohonan ini. Ditariknya tanganku, kami berlari, menghampiri pohon besar yang lumayan cukup jauh untuk berteduh. Dibalutkan Tuxedo nya ke tubuhku. Terbawa suasana, "aku tak ingin ini berakhir", bisik ku dalam hati. Apa yang terjadi selanjutnya, "Oh, tidak, apa yang akan dia lakukan padaku," mengira-ngira dalam hati. Kami saling pandang. Leher ku didorong olehnya hingga berada dekat dengan wajahnya. Dia memiringkan sedikit wajahnya dan mulai menghampiri bibirku. Kami berciuman. Aku tak sanggup menolaknya.

"Bodoh," ucapnya, kepada ku dengan wajah garang. "Kenapa ?" kataku. "Kau suka dengan kebohongan" katanya meringis. "Maksudmu ?" timpa ku. "Kau, sungguh-sungguh bodoh, apa aku harus mengatakan semua ini kepadamu ? Apa aku yang harus memberikan alasannya ?" nada suaranya meninggi. "Ya, aku pikir begitu," ucapku, yang keheranan.

Posisinya denganku tidak se dekat sebelumnya. "Aku tak punya waktu, dan harus kembali," ucapnya, sambil melangkah mundur. "Tunggu," aku sedikit berteriak. "Kamu tidak boleh pergi dengan cara seperti ini, kamu harus katakan apa yang kamu maksud itu," kataku sambil menarik tangannya. Dilepaskan genggaman ku perlahan olehnya, dia membalikkan badan, lalu pergi meninggalkanku begitu saja. "Budi................" panggil ku. Dia tak menghiraukannya.

Tanpa jentikkan jariku, terdengar "Lost in Space from Lighthouse Family" berkumandang, kupikir itu cukup dramatis. Airmata ku mengalir deras. Kaki ku terus melangkah mengejarnya, tapi tak bisa. Kembali di tengah padang rumput, tubuhku membungkuk, lelah dan nafas terengah-engah. Hingga tanpa ku sadari, langit gelap. Letih, ku membaringkan tubuhku di rumput-rumput basah karena hujan. Isakkan ku tak berhenti sejak kejadian tadi. Bukan jentikkan jari yang memanggil semua ini tapi hati saat merasakan sesuatu.

"Chaaa, Chaaa... " aku merasa ada yang memanggil. Tubuhku terguncang-guncang. "Cha..," aku ingat suara ini. Ku buka mataku, bingung, dan menoleh ke sebelah kiri. Ku lihat sosok yang mulutnya komat kamit. "Ehhmm," desis ku. "Cha, apa yang kau lakukan ?" tanya orang itu. Mengucekkan mata, lalu mulai menyadari bahwa sosok itu adalah Riza, pacarku. Dia masih saja menguncang-guncang tubuhku. "Iya," kataku. "Sedang apa kau," tanyanya. "Hmm, Menunggumu," cetusku. "Latte," ucapnya sambil menyerahkan latte itu kepada ku. "Thanks," kataku. "Will you marrie me," pelan dan sangat berhati-hati keluar dari bibirnya. "What do you expect a hug or something ?" timpa ku, sambil menyikutnya dan berdiri. "I want you to say yes!" memelas kepadaku , meringis karena sikutan ku. "Stop," pinta nya kepadaku yang terus berjalan sambil menikmati latte. Aku berhenti. Dipeluklah tubuh ku dari belakang. Di balutkan kalung berliontin ballerina berdansa ke leher ku. "Beautifull, tapi tidak mengubah keputusan ku menjadi iya. Karena aku masih kelas 1 SMA," cetusku. "Oke," katanya, sambil mendekap tangannya di pundak ku. "Berapa lama kau meninggalkanku di taman tadi ?" tanya ku. "Lima belas menit," ucapnya singkat. "Oh," sambil menghentikan langkah. "Kenapa ?" tanyanya. "Tidak apa-apa," kataku. "Ngomong-ngomong berapa kali dan berapa metode kamu telah melamarku ?" aku cekikikan. "Apa kau meledekku," memasang wajah garang lalu tersenyum manis sekali...

(Percayakah kah kau, setelah itu aku benar-benar berpacaran dengan lelaki bernama Budi).



Original Story From CHAIRUNISA ZULFAQAR :)
Sydney, Liburan semester pertama...

Kamis, 11 Februari 2010

Good Girls Go Bad

I make them good girls go bad
I make them good girls go
Good girls go bad

I know your type
(Your type)
You’re daddy’s little girl
Just take a bite
(One bite)
Let me shake up your world
‘Cause just one night couldn’t be so wrong
I’m gonna make you lose control

She was so shy
Till I drove her wild

I make them good girls go bad
I make them good girls go bad
You were hanging in the corner
With your five best friends
You heard that I was trouble
But you couldn’t resist
I make them good girls go bad
I make them good girls go
Good girls go bad

I know your type
(Your type)
Boy, you’re dangerous
Yeah, you’re that guy
(That guy)
I’d be stupid to trust
But just one night couldn’t be so wrong
You make me wanna lose control

She was so shy
Till I drove her wild

I make them good girls go bad
I make them good girls go bad
I was hanging in the corner
With my five best friends
I heard that you were trouble
But I couldn’t resist
I make them good girls go bad
I make them good girls go
Good girls go bad
Good girls go bad
Good girls go bad

Oh, she got away with the boys in the place
Treat ‘em like they don’t stand a chance
And he got away with the girls in the back
Acting like they’re too hot to dance
Yeah, she got away with the boys in the place
Treat ‘em like they don’t stand a chance
And he got away with the girls in the back
Acting like they’re too hot to dance

I make them good girls go bad
(They don’t stand a chance)
I make them good girls go
The good girls go bad, yeah
Good girls go bad
I was hanging in the corner
With my five best friends
I thought that you were trouble
But I couldn’t resist
I make them good girls go bad
I make them good girls go bad
I make them good girls go
Good girls go bad
Good girls go bad
Good girls go

By : Cobra Starship ft Leighton Meester

Kamis, 04 Februari 2010

Body Control

Gimme music, now I need it
Gotta loose it, wanna move it
Faster, louder, keep it going all night
I can take you to the limit
Move it how I like
Bodies poppin' never stopping
Feelin' free like I'm alive
I become a wild thing (yeah uh huh) i know that
I become a wild thing (yeah uh huh) so what?
This music makes my heart sing (yeah uh huh) you know that
I become a wild thing (uh oh oh)

I know you see me with my body moving out of control
I know you see me, don't you know that I got body control
This beats electric baby, shockin me right down to my soul
I know you see me I got b-b-body control
(I got body control, I-I I said I got body control)

I can move my body, body
You know I like to party
Tell the DJ girls are ready leave that beat to drop
I can take it to the limit move it how I like
Bodies poppin' never stopping
Feelin' free like I'm alive
I become a wild thing (yeah uh huh) i know that
I become a wild thing (yeah uh huh) so what?
This music makes my heart sing (yeah uh huh) you know that
I become a wild thing (uh oh oh)

I know you see me with my body moving out of control
I know you see me, don't you know that I got body control
This beats electric baby, shockin me right down to my soul
I know you see me I got b-b-body control (2x)
(I got body control, I-I I said I got body control)

Give me a minute
I'm on a mission so listen
I got the fire, I'm wild
I never tired, don't stop
No I never slow down whether you like it or not
I'm gonna shut down the spot
I'm taking over the top

I know you see me with my body moving out of control
I know you see me, don't you know that I got body control
This beats electric baby, shockin me right down to my soul
I know you see me I got b-b-body control (2X)
(I got body control, I-I I saïd I got body control)

By : Leigthton Meester

Your Love's A Drug

I like it, I want it
The way you make my body move
I think I'm addicted
I'm high off everything you do
I'm going to call you baby
Don't you worry 'bout a thing
'Cos you're all I need

I'll become a slave to my habit
Feigning for your love
Gotta happen now

You're all I need
Your love's drug
Can't get enough your love's a drug
And I can't sleep
Can't get enough your love's a drug,
Your love's a drug,
Your love's a drug

I hate it
That feeling rushing through my veins again
Whenever you leaving
I feel withdrawal kicking in
I'm going to tell you how I feel
How I couldn't breathe
When you're not with me

I'll become a slave to my habit
Feigning for your love
Gotta happen now

You're all I need
Your love's drug
Can't get enough your love's a drug
And I can't sleep
Can't get enough your love's a drug,
Your love's a drug,
Your love's a drug

'Cos I miss you when you're gone
So right what feels so wrong
That I need to have you all the time

You're all I need
Your love's drug
Can't get enough your love's a drug
And I can't sleep
Can't get enough your love's a drug,
Your love's a drug

You're all I need
Your love's drug
Can't get enough your love's a drug
And I can't sleep
Can't get enough your love's a drug,
Your love's a drug,
Your love's a drug

By : Leighton Meester

Somebody To Love

Paris, France to Michigan
London town and through Berlin
I can’t believe this place I’m in
Everywhere and back again
Porcelain and China dolls
Give me one and I’ve seen them all
Got my back against the wall
Wonder where I’ll be tomorrow?

But wait, now how long could this take?
It’s hard to find a man,
When you’re gone before he wakes.
They say it’s hard to achieve
But can’t a girl believe?

(Chorus)
Is there somebody who still believes in love?
I know you’re out there
There’s got to be somebody
I search around the world
But I can’t seem to find
Somebody to love

(Robin Thicke)
Baby girl, there you at
Looking at me like a putty cat
Wondering where that thing is at
Wondering where your ring is at
Nobody ever did it quite like this
Nobody ever did it quite like you
Do your hair, I bought you shoes
We can hit the town like superstars do
You fall in love? Then let me show you love
Give me the key to your heart
I can give you what you want
When you’re waiting for love
And you’re lookin’ for someone
I’mma turn this gossip girl into a woman

[Chorus x2]

Je t’adore, Je t’adore (I love you, I love you)
Make a move, do the thing
Turn around, strike a pose
Je t’adore, Je t’adore (I love you, I love you)
Make a move, do the thing
Turn around, strike a pose
Ooh, I like it
Ooh, I need it
Ooh, I want it
Hey Hey

I know it’s hard to achieve
But can’t a girl believe?

[Chorus x2]

(You say hello, I say goodbye) x2
Somebody to love

By : Leighton Meester